Lompat ke isi utama

FILI Rencanakan Pameran Arsitektur Aksesibel dan Fotografi

Solider.or.id.Yogyakarta. Forum Inklusif Lintas Iman (FILI), sebuah forum (perkumpulan komunitas) yang bergerak memperjuangkan terwujudnya aksesibiitas di berbagai tempat  peribadatan, menyelenggarakan diskusi guna menindaklanjuti rencana aksi yang sudah direncanakan sejak terbentuknya forum tersebut pada 17 November 2016. Sebelum dibentuk forum dengan nama FILI, komunitas lintas agama tersebut dalam dukungan Dria Manunggal, sudah melakukan gerakan mendorong terwujdunya aksesibilitas di beberapa tempat peribadatan.

Hal yang menarik dari kegiatan diskusi FILI yakni, adanya program lanjutan berupa pameran arsitektur yang aksesibel, pameran tersebut bekerja sama dengan mahasiswa pascasarjana jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Pameran arsitektur akan dikolaborasikan dengan pameran fotografi, oleh komunitas Budha dari Vihara Karangjati. Pameran akan dilaksanakan sebelum akhir tahun 2017. Diskusi yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama tersebut dilangsungkan di kantor Dria Manunggal, Gang Lurik Kingkin 1, Kadipiro, pada Selasa (6/6/2017).

FILI, forum yang terdiri atas komunitas pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha serta penghayat (kepercayaan), mengawali diskusi dengan mereview (melihat kembali) berbagai kegiatan yang sudah dijalankan. Dilanjutkan dengan check dan rechek rencana kegiatan yang sudah diagendakan oleh masing-masing komunitas agama dan penghayat, serta rencana program lanjutan.

Dalam review yang disampaikan oleh Ninik Heka, salah seorang anggota FILI dinyatakan bahwa beberapa kegiatan sudah dijalankan sejak kurang lebih satu tahun dibentuknya komunitas. Beberapa kegiatan tersebut di antaranya: kegiatan yang berhubungan dengan sosial politik, kultural, diskusi dan pelatihan, advokasi kepada struktural atau pemerintah, serta advokasi terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY.

Membuat petisi yang ditujukan kepada pemerintah Indonesia dan para pemuka agama, menjadi salah satu kegiatan sosial politik FILI. Adapun penyadaran pentingnya aksesibilitas di tempat peribadatan menjadi bagian dari kegiatan kultural FILI. Namun demikian, kegiatan penyadaran masih terbatas pada para pemuka agama dan penghayat. Kegiatan lainnya yakni, diskusi dan pelatihan singkat tentang pemahaman seputar difabel dan haknya dalam peribadatan. FILI juga mendorong struktural atau pemerintah menggunakan kewenangannya mendorong terwujudnya aksesibilitas, sebagai contoh: pemberian aksesibilitas dii tempat peribadayan sebagai prasyarat mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), serta mendorongg MUI mengeluarkan surat edaran pentingnya asesibilitas di tempat  peribadatan.

Review selanjutnya berhubungan dengan beberapa tempat peribadatan yang sudah mengakomodasi dan memberikan aksesibilitas fisik. Winarta, salah satu penasehat FILI, menghimbau agar dilakukan pengawalan terhadap aksesibilitas fisik yang sudah ada. Berbagai tempat ibadah yang sudah memberikan aksesibilitas fisik yakni, Masjid Baitul Makmur di Sidorejo, Kasihan, Bantul, Gereja Kristen Jawa Wirobrajan, Gereja Katolik Kemetiran, Pura Jagadnatha, Vihara Karangjati, dan Pendopo Sumarah Wirobrajan.

Bermula dari yang ada

Menurut Winarta, semua kegiatan harus terus dikawal dan didorongkan agar tidak dilupakan masyarakat, komunitas serta pemerintah. Sehingga nantinya perwujudan aksesibilitas di tempat-tempat peribadatan tidak lagi menjadi sebuah tuntutan melainkan keasadaran dalam pemenuhannya.

“Bermula dari apa yang sudah dicapai, mari terus kita dorong dan kawal sejauh mana keberfungsian dari aksesibilitas yang sudah ada di tiap tempat peribadatan. Kawalan tersebut diharapkan akan membuka kesadaran banyak pihak terhadap pentingnya pemenuhan aksesibilitas bagi difabel,” ujar Winarta.

Lebih lanjut Winarta menyerukan bahwa, aksesibilitas di berbagai tempat peribadatan tersebut diharapkan dapat mendorong pemenuhan aksesibilitas baik fisik maupun nonfisik, di semua sektor dalam kehidupan.

The subscriber's email address.