Lompat ke isi utama

Mereka yang Happy dengan Lahirnya Desa Inklusi

Solider.or.id.Yogyakarta. “Banyak manfaat yang saya dapatkan dengan adanya Desa Inklusi. Terlebih setelah terbentuknya Kelompok Difabel Desa (KDD) Sendangtirto, saya menjadi lebih happy,” pengakuan Samuel Suratijan (56), warga Pelang RT 01/16 Sendangtirto, Berbah, dengan adanya program Rintisan Desa Inklusi yang diprakarsai oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia. Samuel adalah difabel pengguna penyangga tubuh (krug), salah seorang anggota KDD Sendangtirto, dipercaya menjadi wakil ketua organisasi desa tersebut.

Samuel, pria kelahiran 28 Januari 1961 itu berkisah dirinya hidup sebatangkara di rumah petaknya yang terbuat dari bambu. Ia menghabiskan hari-harinya dengan beternak ayam, memperbaiki kursi, merumput dan membantu  tetangganya membersihkan kebun. Tidak pernah bertemu sesama difabel. Dia mengaku, saat itu merasa menjadi orang yang paling sengsara, menderita, tanpa harapan.

Hidupnya berubah setelah adanya program Rintisan Desa Inklusi, terlebih ketika dibentuk KDD Sendangtirto dan dirinya dipercaya menjadi wakil ketua. Samuel yang tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca dan menulis ternyata mendapatkan kepercayaan, dan bisa berguna bagi orang lain. Sejak itu Samuel menyadari apa yang dipikirkannya selama ini ternyata salah.

“Saya merasa tidak sendiri lagi, ternyata banyak sekali kawan yang senasib dengan saya. Lhah saya ini tidak bisa baca tulis kok dipercaya memimpin kelompok, saya ya menjadi percaya diri. Betul-betul saya happy dengan program Rintisan Desa Inklusi,” lanjut cerita Samuel kepada Solider, Rabu (17/5), saat menghadiri undangan syukuran ulang  tahun ke-14 SIGAB di Balai Desa Sendangtirto, Berbah.

Samuel merasa sangat bersyukur menemukan saudara-saudara yang tidak pernah dijumpainya. Samuel  bertutur bahwa menjadi dirinya menjadi faham kalau Tuhan menciptakan makhluknya, semua bisa berguna bagi sesama. “Dibalik kekurangan pasti ada kelebihan yang dititipkan Tuhan,” demikian pemikiran Samuel.

Pengakuan serupa  disampaikan pula oleh Suradi (56), warga Sendang RT 01/14 Sendangtirto, Berbah. Pria dengan dua orang putra tersebut memiliki kegiatan membuat sangkar burung. Ia senang dengan adanya KDD Sendangtirto, karena mendapatkan berbagai pelatihan di kelompoknya.

Samuel dan Suradi mengatakan, kelompoknya yang beranggotakan 116 orang itu  sudah beberapa kali mendapatkan pelatihan yang dilaksanakan di Balai Desa Sengdangtirto. Pelatihan yang sudah diterimanya yakni, pertanian, peternakan, dan kerajinan. “Rencana kami juga akan dilatih membatik,” ujar Samuel gembira.

Samuel dan Suradi hanyalah segelintir difabel di desa Sendangtirto yang bersaksi atas kegembiraannya dengan hadir dan lahirnya desa inklusi di desanya. Yang merasakan manfaat dengan hadirnya Desa Inklusi.

Apa itu Rintisan Desa Inklusi?

Rintisan Desa Inklusi  merupakan salah satu program yang digagas oleh SIGAB sejak pada pertengahan tahun 2015, tepatnya bulan Juni. Delapan desa di wilayah DIY yang terdiri dari kabupaten Sleman dan Kulonprogo ditetapkan sebagai rintisan atau percontohan desa inklusi. Kedelapan desa tersebut adalah Sendangtirto, Kecamatan Berbah dan Sendangadi, Kecamatan Mlati. Sedangkan enam desa lainnya berada di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo, yakni Sidorejo, Gulurejo, Ngentakrejo, Wahyuarjo, Jatirejo, dan Bumirejo.

Program Rintisan Desa Inklusi digagas dengan tujuan mempromosikan inklusi sosial berupa penerimaan, keterlibatan dan partisipasi difabel dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan melibatkan aktivis difabel pada masing-masing desa, bermaksud dapat mengadvokasi pembangunan di desa menjadi lebih inklusif, memasukkan perspektif difabel dalam setiap proses pengambilan kebijakan di desa.

Sekretaris Desa Sendangtirto, Herman Padiyanto mengakui bahwa program Rintisan Desa Inklusi bagus, karena dapat memberikan motivasi bagi difabel baik anak dan orangtua yang selama ini minder. Dengan adanya program Rintisan Desa Inklusi, desa jadi dapat mengumpulkan semua difabel, memilikii data jumlah warganya yang difabel.

“Sejak adanya program Rintisan Desa Inklusi ini desa jadi tahu jumlah warganya yang difabel, jenis difabilitasnya. Mereka bisa saling memotivasi sehingga tidak merasa sendiri. Desa juga menjadi tahu apa yang harus diperbuat untuk mereka,” ujarnya.

Sejak itu desa melibatkan warganya yang difabel dalam setiap kegiatan. Desa juga mengalokasikan anggaran untuk kegiatan masyarakat difabel yang tergabung dalam KDD Sendangtirto.

Pada kesempatan tersebut Herman menghimbau kepada seluruh masyarakat difabel untuk meyakini bahwa semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. “Jangan merasa tidak berguna karena hambatan yang menyertai. Semua pasti memiliki kemampuan, dan kemampuan tersebut dapat digali dan dikembangkan.Mari mengoptimalkan kesempatan yang ada, misalnya dengan mengikuti pelatihan keterampilan yang diprogramkan dan disesuaikan dengan lingkungan,” pungkasnya. 

The subscriber's email address.