Lompat ke isi utama

Menilik Diskriminasi di Perguruan Tinggi (bagian 2)

Solider.or.id.Yogyakarta. Menindaklanjuti kasus Rizka Yunita, difabel netra mahasiswa semester 6 Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling (BK), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), yang terancam gagal ujian tengah semester (UTS).

Pada Selasa (25/4/2017), Solider menyambangi ruang kantor Kepala Program Studi (Kaprodi), FKIP UPY. Pada pukul 13:30 WIB, Solider berhasil menemui Drs, Makin, M.Pd., Kaprodi Bibingan Konseling (BK), sebuah kampus swasta yang berada di kota Yogyakarta, sisi barat kota tersebut.

Pada kesempatan wawancara, Makin mengakui adanya kasus yang terjadi pada Rizka, mahasiswanya yang difabel netra. Fihaknya memberikan klarifikasi perihal kebutuhan pendampingan bagi mahasiswanya bernama Rizka, pada UTS yang tengah berlangsung.

Menurut Makin, Prodi BK sudah punya pengalaman dengan adanya mahasiswa difabel netra. “Sudah cukup lama Prodi BK menerima mahasiswa difabel netra, saya lupa tahunnya. Dan setelah lama berselang, menerima lagi difabel netra, yakni Rizka dan menyusul adik-adik kelasnya. Saat ini ada tiga mahasiswa dengan gangguan penglihatan, dua orang totally blind pada Prodi BK, dan satu orang lagi low vison pada Prodi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn),” terangnya.

“Dari dulu tidak ada masalah, ketika masih diberlakukan ujian susulan” lanjutnya. Nah, saat ini ujian susulan tidak diberlakukan lagi, baik UTS maupun ujian semester. Dan benar, universitas belum dapat mempersiapkan pendamping bagi mahasiswanya.

Universitas, melalui Kaprodi menyarankan mahasiswa untuk mencari sendiri pendamping. “Siapa saja boleh, asalkan bukan mahasiswa jurusan psikologi dan BK, terlebih yang satu angkatan. Sebab, pada dua jurusan tersebut analisis berpikir mahasiswanya kan sudah jalan,” terang Makin.

Namun, kata Makin, apabila terpaksa belum mendapatkan pendamping saat ujian berlangsung, mahasiswa boleh ujian di lain hari saat sudah membawa pendamping. Dengan catatan ujian tetap dilaksanakan sesuai dengan rentang waktu penjadwalan ujian. “Karena kami kan harus mengirimkan hasil ujian pada masing-masing dosen mata kuliah,” tuturnya.

Bersepakat mengirim pendamping

Pada kesempatan tersebut, Makin menjawab beberapa pertanyaan Solider.Apa yang sudah dilakukan universitas, dalam hal ini Prodi BK dengan adanya kasus mahasiswanya yang terancan tidak bisa mengikuti UTS?

Menjawab pertanyaan tersebut Makin mengatakan, dirinya hanya bisa meminta mahasiswa untuk membawa pendamping sendiri. Karena dulu ada kesepakatan dengan orang tua yang akan memberikan pendamping pada saat ujian.

“Tapi tiba-tiba mulai semester 5, tidak bisa lagi dan yang bersangkutan belum menemui saya,” ungkapnya.

Lanjut pertanyaan Solider. Setelah tahu bahwa penyebab tidak bisa mengirim pendamping, karena faktor ekonomi dan kesibukan bekerja, apa yang akan dilakukan Prodi BK?

Sampai dengan hari ini mahasiswa yang bersangkutan, yakni Rizka belum menemui saya apakah sudah dapat pendamping atau belum. Jika belum dapat pendamping, dia bisa mengikuti ujian pada saat sudah ada pendamping, dan ujian di hari lain. Dengan cacatan masih pada jadwal pelaksanaan ujian. Karena kami harus mengirimkan nilai ujian pada masing-masingg dosen bidang studi,” terang Makin.

Pertanyaan lanjut, sejauh mana universitas berkepentingan menyediakan aksesibilitas, salah satunya pendamping ujian bagi mahasiswanya? Setelah memberikan kesempatan mahasiswa difabel belajar di UPY, bukannya memberikan aksesibilitas menjadi sebuah konsekuensi universitas?

Makin menjawab, sesungguhnya dia berharap demikian. “Sudah semestinya, ketika menerima tentunya harus dengan konsekuensi memberikan aksesibilitas, sesuai dengan kebutuhan. Baik fisik maupun nonfisik,” ujarnya pada Solider sore itu, Selasa (25/4).

Apalagi universitas pernah diundang oleh Penyelenggara Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam sebuah workshop layanan pendidikan inklusi. “Waktu itu yang berkesempatan mewakili UPY adalah Wakil Rektor (Warek) III, Bapak Sukadari,” jelasnya.

Lanjutnya, dia mengatakan dirinya hanya sebagai pelaksana, bukan pengambil kebijakan. Sehingga menyarankan Solider untuk bertemu dengan Rektor atau Warek III.

Warek III menjawab

Berhasil dihubungi melalui telepon seluler, DR. Sukadari, SH., SE., M.Pd., Warek III UPY yang sedang berada di Palembang mengatakan, “Benar kami punya mahasiswa difabel, dan belum punya pendamping khusus, maka perlu dipikirkan. Hingga saat ini kami masih memikirkan bagaimana memberikan solusinya,” tandasnya.

Selanjutnya Wrek III  meminta Solider untuk menemui dirinya di kantornya pada Selasa (2/5/2017).

Rizka dapatkan pendamping

Rizka yang terancam tidak dapat mengikuti ujian, jika dirinya tidak dapat membawa pendamping dalam ujian, Saat berita ini dirilis, mengatakan sudah mendapatkan pendamping Ujian Tengah Semester (UTS) yang dijadwalkan berlangsung selama dua minggu, mulai hari ini Salasa, 25 April sampai dengan Jumat, 6/5/2017.

“Sudah dapat pendamping kak, saya merasa lega. Nama relawannya saya lupa,dia mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta,” terangnya pada Solider melalui WthasApp, Selasa (25/4), jam 15:00 WIB.

Dia berharap untuk kedepan pihak universitas dapat memberikan layanan pendampingan bagi mahasiswa yang membutuhkan. Tanpa harus membebani mahasiswanya untuk mencarinya sendiri. Harapannya, ada konsekuensi yang ditunjukkan pihak universitas, dengan menerima mahasiswa difabel.

“Kalaupun layanan pendampingan tidak mudah diberikan oleh universitas, berikan kami soal ujian berbasis komputer, sehingga kami bisa menggunakan secreen reader (pembaca layar) program JAWS untuk mengerjakannya. Sehingga tidak lagi perlu pendamping, cukup ditunggu oleh pengawas ujian.”Demikian harapan dan solusi Rizka Yunita.

 

The subscriber's email address.