Lompat ke isi utama

Jalu Menepis Stigma Negatif Down Syndrome

Solider.or.id.Yogyakarta. Sahitya Panjalu, lahir di Yogyakarta pada 6 Juni 2012. Dia salah seorang bocah laki-laki dengan Down Syndrome (DS), yang menghadiri peringatan Hari Syndrome Down Dunia (HSDD), Minggu (19/3/2017), bersama POTADS (Persatuan Orangtua Anak dengan Down Syndrome).

Ditemui Solider saat itu di Gedung Grha Pandawa, Balaikota Yogyakarta, Jalu bocah DS yang berusia belum genap lima tahun tersebut, terbukti cerdas. Jalu telah menepis stigma negatif tentang anak Downs Syndrome. Dia menunjukkannya dengan kemampuan berhitung, menghafal doa dan bernyanyi.

Selain kecerdasan intelektual yang tumbuh dan berkembang baik, kecerdasan emosionalnya pun tumbuh dan berkembang baik bahkan, barangkali cenderung lebih baik dari anak seusianya. Hal tersebut ditunjukkan Jalu saat bertemu Solider, dia menjabat tangan dan mengucapkan selamat siang. Melintas di depan orang lain yang sedang duduk, tanpa diberi tahu Jalu mengucapkan permisi, dalam ucapan yang kurang jelas sambil membungkukan badan.

Berhitung dari angka 1 sampai dengan 10 dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, ditunjukkannya di depan Solider. Demikian pula dengan menyanyikan beberapa lagu, yakni balonku, topi saya bundar, dan naik kereta api. Semua dilakukan dengan tepat dan benar, runtut. Saat menyanyi pun nada lagunya benar.

Jalu juga menunjukkan kecerdasannya menghafal doa sebelum makan. Tanpa bantuan ibunya Jalu sudah hafal dengan benar, meski pengucapannya kurang begitu jelas. Jalu juga menjawab pertanyaan ibunya saat ditanya nama-nama anak binatang.

Mosaik Down Syndrome

Jalu merupakan putra kedua pasangan Niken Nirwesti Nugrahani dan Agus Imron, adalah seorang Mosaik Down Syndrome. Hal tersebut diperolehnya dari keterangan dokter ahli yang memeriksanya. Hasil tes kromosom menunjukkan, dalam satu tes darah terdapat dua hasil. Pertama, kromosom ke 21 membelah menjadi tiga (trisomy) 55,6%, dan kedua kromosom ke 21 membelah menjadi dua (normal) 44,4%. Papar Niken yang bertempat tinggal di Brontokusuman, Yogyakarta.

Down Syndrome, selama ini digolongkan dalam difabel intelektual. Ia memiliki kecerdasan intelektual di bawah rata-rata, berkisar antara 40-50. Namun Jalu, di usianya saat ini tepatnya 4 tahun 10 bulan memiliki kecerdasan intelektual layaknya anak seusianya. Kondisi yang berbeda hanya pada kecerdasan verbal, yaitu pada pengucapannya yang kurang jelas. Kebetulan Jalu belum melakukan Tes IQ, sehingga Niken tidak tahu seberapa IQ anaknya.

Berbagai kecerdasan lain

Berlanjut pada perbincangan yang dilakukan pada Jumat (24/3/2017) Niken, ibunda Jalu bertutur bahwa anaknya mampu menyanyikan lagu dalam bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah. Lagu yang sudah dihafalkan Jalu diantaranya twinkle-twinkle little star, abc, happy birthday, serta beberapa lagu lain dalam bahasa inggris. 

“Lagu campur sari Rondo Kempling yang ditenarkan almarhum Manthous pun dia kuasai,” tutur sang ibu sambil tertawa.

Niken juga bercerita bahwa Jalu sudah mengerti dengan intruksi yang diterima, memperhatikan saat diajarkan sesuatu. Ibunya mencontohkan, “Jalu, tolong ambilkan mama tisu... Maka Jalu dengan segera melakukannya untuk saya,” demikian penuturan ibunya.

“Jalu itu tipe pembelajar”, kata Niken. Dia senang sekali memperhatikan apa yang dilakukan ibunya. Ketika dia menumpahkan minuman, Jalu langsung mengambil tisu dan membersihkan bagian yang basah karena tumpahan air minumnya, sambil berkata "mama dah". Kalimat yang dia ucapkan saat Jalu menyelesaikan tugasnya.

Ketika lewat di depan orang, Jalu selalu bilang pemici [permisi-red] mama, papa atau siapa saja yang dilewatinya. Apabila menerima sesuatu, selalu berkata maacih [terima kasih-red]. Ketika bel rumah berbunyi, seketika Jalu langsung berjalan lebih dahulu sambil berkata "ya.. bentaa  [ya.. sebentar-red]”. Saat kami mengendarai sepeda motor dan melintas di depan orang, Jalu terbiasa menyapa dengan ucapan mondooo...[monggo...-red]”.

Kemampuan lain yang dimilikinya yakni, merangkai kata sederhana. Seperti: “Mama oyong Hayu mimik putih [mama tolong Jalu minta minum air putih-red]. Mama oyong Hayu injam hp [Mama tolong Jalu pinjam handphone-red]. Dan setelah mendapatkan apa yang dimintanya, tak lupa Jalu mengucapkan maacih[terima kasih-red]”.

Jalu juga menguasai beberapa keterampilan motorik, seperti makan sendiri meski pun masih belepotan, minum sudah memegang sendiri. Namun untuk keterampilan motorik menulis, masih kurang. Niken menyadari, dalam hal menulis, Jalu masih harus banyak belajar. “Jalu masih belum bisa menulis, masih bolah bundet (orek-orekan), terang Niken.

Kebiasaan menyapa para gurunya ketika tiba di sekolah pun dilakukan Jalu.“Amak padhiii [selamat pagi-red], sambil sedikit membungkukan badannya.”Turur Niken.

Jalu sudah mampu menyebutkan nama panjangnya sendiri, papanya, juga kakaknya. Namun untuk mamanya, dia baru bisa menyebutkannya Niken. “Padahal nama nenek dan kakeknya, nama-nama sepupunya, pakde, bude, oom, juga tantenya, dia hafal. Barangkali nama panjang saya, tidak mudah dihafal oleh Jalu,” tukas Niken berkelakar.

Niken juga menuturkan bahwa Jalu juga mampu bercerita.Seperti bila pulang sekolah harus naik taxi karena ayahnya yang tidak bisa menjemput. “Tadi Jalu naik taxi, karena papa pulang sekolah tidak bisa jemput,”

Sesampainya di rumah Jalu akan mengucapkan mama acih[kasih-red] uang. Demikian pula saatmembeli sesuatu.

Melepas sepatu sepulang sekolah, lalu sepatu atau sandal ditaruhnya di rak sepatu. Memasukkan pakaian kotor ke ember tempat baju-baju kotor. Semuanya menjadi kebiasaan Jalu yang tanpa diperintah lagi.

Niken perempuan berjilbab itu juga  bercerita, bahwa Jalu adalah tipe anak yang sangat penyayang. Jika ada teman, saudara seusianya yang bersedih atau pura-pura sedih, dipeluk oleh Jalu. Terkadang diambilkan tisu, dilapkan airmatanya.

Saat ini Jalu bersekolah di Olifant, preschool class atau kelompok bermain. Jalu belajar bersama dengan 19 murid lain seusianya dalam kelas yang sama. Menurut keterangan Niken, proses pembelajaran di Olifant diberlakukan Guru Pendamping Khusus (GPK) bagi Jalu.

“Jalu didampingi oleh seorang guru khusus setiap harinya baik pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.Selain dua orang guru pengajar bagi kedua puluh muridnya, terdapat satu guru pendamping khusus bagi Jalu.” Tandas Niken.

Harapan sederhana

Memaparkan proses pendampingan yang dilaluinya, Niken menuturkan bahwa fisioterapi, kontrol rutin, mengikuti perkumpulan potads dilakukannya. Jalu juga mengikuti terapi wicara di klinik Prof. Dr. Sunartini semenjak berusia kurang lebih satu tahun delapan bulan. Ekstra cerewet (banyak bicara), mengajak komunikasi, menyanyi sambil melihat Youtube dilakukannya. Harus banyak bersabar dalam mengajari dan tidak bosan-bosan untuk mengulanginya saat anaknya meminta belajar.

Menurut keterangan sang ibu, Jalu merupakan tipe anak yang cepat menangkap jika diberi pelajaran baru dan senang dengan hal-hal baru. Sekarang Jalu baru suka dibacain buku cerita, yang dilakukan setiap sampai rumah, terlebih hendak tidur.

Tidak muluk-muluk yang diharapkan Niken sebagai orangtua. Dia berharap anaknya bisa mandiri, berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Bisa bersosialisasi dengan sekitarnya, diterima di mana pun dia berada.

“Kami orangtuanya tidak ingin menuntut atau membebani Jalu harus pandai sebagaimana yang lainnya. Sederhana saja harapan kami, kami akan mengantarkan Jalu mengoptimalkan kecerdasan yang dimilikinya,” tutur NIken.

Psikolog berkata

Dihubungi Solider secara terpisah, pada Selasa (28/3/2017) Psikolog yang juga dosen di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Endang Widyorini mengatakan, rata-rata IQ anak DS berkisar pada angka 40-50. Namun demikian, memang ada anak DS dengan 80-90. Biasanya terjadi pada anak yang mendapatkan simulasi dari keluarga dan terapi dari terapis yang baik.

“Bisa jadi, Jalu salah satu anak yang memiliki IQ 80-90 itu. Intervensi dan simulasi yang diberikan orangtuanya mendorong perkembangan kecerdasannya sehingga demikian, terang Endang.

Untuk memastikannya, Endang menyarankan dilakukan test IQ bagi Jalu. “Test saja di Jogja, nanti hasil tes IQ-nya saya jelaskan. Minta di tes dengan WPPSI (Weshler for Preschool and Primary Children Intelligence Test),” tutur psikolog tersebut.

The subscriber's email address.