Lompat ke isi utama

Dua Difabel Berbagi Inspirasi dalam Ranah Lapangan Pekerjaan

Solider.or.id, Jakarta- Hingga kini, sektor pekerjaan menjadi persoalan besar bagi pemenuhan hak difabel. Padahal banyak difabel sangat membutuhkan pekerjaan. Dua difabel yang menginspirasi berbagi pengalaman dalam seminar yang diselenggarakan oleh Kementerian Tenaga Kerja  dengan tema “Disabilitas Bisa Kerja” pada tanggal 25 Maret 2017, Sabtu kemarin bertempat di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

Tujuan Kemenaker (Kementerian Tenaga Kerja) menyelenggarakan kegiatan ini adalah agar  difabel bersemangat  untuk mencari informasi pekerjaan. Seminar itu diisi oleh dua orang difabel yang menginspirasi yaitu  Angkie Yudistia dan  Ikram. Dalam agenda tersebut, kedua pembicara menyemangati dan membuat  difabel maupun pencari kerja non-difabel untuk bisa bekerja.

Melalui acara itu, sesi pertama dimulai oleh   Angkie (seorang Tuli). Ia menceritakan tentang pengalamannya pernah bekerja di beberapa tempat sesuai dengan kontrak kerja sampai pernah ditolak oleh 6 perusahaan. Alasan beberapa penolakan tersebut adalah ketiadaan aksesibilitas untuk Tuli seperti Angkie.

Impian  Angkie tidak berhenti,  Angkie terus menerus mencari lowongan kerja dan sampai  salah satu perusahaan menerimanya. Saat itu,   Angkie diangkat sebagai CEO kemudian  ia membuat program Thisable, tujuan untuk membantu teman-teman difabel bekerja dan berwirausaha di Indonesia. Memberikan harapan dan motivasi bagi teman-teman difabel untuk semakin mandiri dalam ekonomi.

Selain itu,  Angkie berpesan untuk teman-teman difabel bahwa jangan pesimis dan jadilah jujur dan menerima diri bahwa kita adalah   difabel.  Selanjutnya Ia juga berpesan agar difabel dapat berbaur dengan masyarakat non-difabel agar bisa mendapatkan informasi dan bertukar ilmu, hal  itu dapat membantu mengembangkan kualitas diri masing-masing. Angkie berharap agar pemerintah termasuk Kemenaker membantu dalam menjaring tenaga kerja difabel untuk terlibat dan diterima oleh beberapa perusahaan pemerintah maupun swasta.

Selanjutnya  Ikram ( difabel daksa), pengusaha air mineral water menceritakan saat dia merantau di Jakarta dari kota Makassar pada tahun 2000. Memulai pekerjaan dengan semir sepatu dan bergonta-ganti pekerjaan,  Ikram bertekad untuk menjadi difabel yang mandiri dan berusaha untuk tidak tergantung sama orang tua.  Ikram mengaku bahwa sesampainya di Jakarta,  dia tidak memiliki pekerjaan.

Ikram menceritakan saat bekerja sebagai tukang semir itu mendapatkan upah 800.000 dan sampai sempat membuka usaha rental mobil, Ia sempat mengalami jatuh bangun dan sempat bangkrut. Ikram sempat pesimis dan dipengaruhi oleh kebangkrutan dalam wirausaha. Namun ia dapat bangkit dan mulai belajar wirausaha dari pengalaman orang lain yang berwirausaha.

Ikram sering belajar tentang kewirausahaan  dengan hadir beberapa kali di seminar tentang kewirausahaan dan belajar dari buku maupun sumber referensi internet, berbekal hal itu, Ikram bertekad untuk memajukan usaha  mineral water. Dia memiliki istri dan empat anak non-difabel. berbagai pengalaman baik pahit maupun manis telah dijalaninya, hingga suatu saat Ikram bertemu dengan Bob Sadino yang  memberikan pesan “wajar kalau gagal, nah terus maju sampai kamu berhasil asalkan niat dan komitmen”. Motivasi Ikram semakin kuat, ia terus belajar dari berbagai pengalaman.

Ikram berpesan untuk pencari kerja difabel dan non-difabel bahwa jangan malu jika mau menjual di depan orang dan berani ambil resiko dalam berwirausaha.  Jika tidak mendapatkan pekerjaan, alangkah lebih baik mencoba belajar berwirausaha, pokoknya jangan takut, Allah selalu bersama kita. (Dina Amalia Fahima)

The subscriber's email address.