Lompat ke isi utama

Bangun Pemahaman Masyarakat tentang Anak Difabel dengan Workhsop dan Symposium

Solider.or.id, Semarang – berangkat dari keprihatinan orang tua difabel tentang belum banyaknya masyarakat yang faham terkait bagiamana cara mengatasi  berbagai kesulitan menangani anak difabel, komunitas orang tua anak Dyslexia Parents Support Group (DPSG) Jawa Tengah menyelenggarakan Workhsop dan Symposium bertema “Mengenal dan Mengelola Anak Autis, Gifted, Disleksia”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dilaksanakan di Hotel Pesona Semarang pada (25/03/2017).

“orang tua difabel serngkali menemui kesulitan mendapatkan tempat untuk berkonsultasi, boro-boro untuk diagnosa kerjasama dengan dokter, ke psikolog saja tidak ada yang tahu, apalagi terapis. Akhirnya kami mengadakan kegiatan ini di Semarang agar masyarakat tahu. Kami membuka workshop ini untuk mengajak masyarakat dari semua bidang dan kalangan.  alhamdulillah pesertanya ada dari dokter tumbuh kembang yang ada di Semarang. Psikolog yang hadir juga banyak. Setidaknya itu yang kita kejar dan akan jadi pijakan kita untuk ke depan selain dari para orangtua. Minimal orang sudah aware dan mereka sudah dengar tentang apa yang kita bagikan, meski untuk selanjutnya kita masih belum tahu seperti apa sih kedepannya. Minimal orang-orang yang sudah datang di ruangan ini pernah tahu dan mendengar sehingga persepsi mereka tentang anak berkebutuhan khusus jadi sama.” Ujar Nuri Nuri, salah satu orangtua anak disleksia dan pengurus Dyslexia Parents Support Group (DPSG) Jawa Tengah

Dalam penjelasannya, Dr. Purboyo menyampaikan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat dikenali sejak dini tergantung dari jenis kasusnya. Kasus-kasus pada anak berkebutuhan khusus jarang berdiri tunggal karena biasanya disertai dengan gangguan penyerta dan membutuhkan terapi seumur hidup. Kasus penyerta yang biasanya ada misal gangguan belajar, gangguan pendengaran, gangguan nutrisi, gangguan kehidupan sosial, gangguan berbahasa atau gangguan visual motor.

Selain workshop dan symposium yang digelar selama dua hari, panitia juga menyediakan wahana khusus di sebelah ruang workshop bagi para orangtua yang hadir bersama anak-anaknya. Anak-anak yang tidak ikut masuk dalam ruangan workshop bisa mengikuti bermacam kegiatan permainan edukasi, sarana terapi disleksia dan menikmati wahana menggambar yang juga menampilkan lukisan hasil karya anak-anak disleksia.

  “Harapan saya pada masyarakat kota Semarang, ayolah mulai aware pada disleksia. Sehingga kedepan Semarang bisa jadi pioneer dan pusat kajian untuk siapapun dengan kesulitan belajar.” Menutup perbincangan, Nuri Ariyanti menyampaikan sebuah harapan. (Yanti)

 

The subscriber's email address.