Lompat ke isi utama
uang baru

Menilik Aksesibilitas Uang Pecahan Baru

Solider.or.id. yogyakarta. Pada 19 Desember 2016 lalu, Bank Indonesia (BI) meluncurkan satu seri uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2016 yang terdiri dari tujuh uang pecahan rupiah kertas dan empat uang pecahan rupiah logam dengan gambar pahlawan. Dalam rilisnya, BI mengklaim uang pecahan baru sudah aksesibel dengan adanya penyempurnaan fitur Blind Code yang dikhususkan untuk difabel netra baik low vision ataupun netra total dalam mengaksesnya.

Bentuk Blind Code berupa efek rabaan melalui garis-garis timbul dan kasar atau tactile effect pada tepi sisi sebelah kanan uang kertas. Blind Code digunakan untuk membantu difabel netra membedakan antar pecahan uang. Namun, pasca rilis beberapa difabel netra masih belum mengetahui dan memahami uang pecahan baru, letak kode, dan perbedaan lainnya.

Tri Wibowo salah satu difabel netra mengaku, walapun belum pernah mengikuti secara langsusng sosialisasi, ia mengetahui informasi dari media tentang aksesibilitas uang pecahan terbaru. Berdasarkan informasi yang didapat, ia mencoba membuktikannya dengan meminjam uang pecahan baru 2.000 rupiah dan 50.000 ribu rupiah dari seorang teman. “Tapi yang saya cari (Red: blind code) itu tidak ada, dan angka masih tidak timbul,” katanya saat ditemui Solider pada Rabu siang (8/3). Informasi yang ia dapat tidak secara spesifik menjelaskan perbedaan penggunaan Blind Code di setiap pecahan uang baru.

Selama ini, Bowo sapaan akrabnya mengenali uang dengan beberapa teknik seperti tekstur kertas, berat masing-masing nominal, panjang dan lebar uang pecahan. Selain itu, ia mengaku kesulitan jika mengenali uang yang sudah lecek (kumal). “Karena gambar ataupun simbol rabaan juga sudah kabur,” tandasnya. Ia juga berharap, sosialisasi dari pihak BI bisa menyeluruh kepada semua difabel netra.

Jauh sebelumnya, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Pusat pernah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) pada 4-8 Januari 2003. Pertemuan tersebut salah satunya membahas  tentang aksesibilitas mata uang rupiah. Berdasarkan hasil pertemuan itu, Pertuni mengusulkan tiga poin kepada pihak BI.

Pertama, dalam menerbitkan uang kertas ataupun koin, hendaknya memperhatikan aksesibilitas tunanetra baik untuk  pecahan uang kertas ataupun koin. Kedua, pecahan uang kertas hendaknya dibedakan sekurang-kurangnya dalam ukurannya (terutama panjangnya), dengan uang kertas bernilai terendah dicetak dengan ukuran terkecil dan uang kertas bernilai tinggi dicetak dengan ukuran terbesar. Ketiga, koin dengan nilai yang sama hendaknya memiliki ciri yang sama, baik besarnya, beratnya, maupun tanda-tanda taktualnya (yang dapat diraba).

Berdasarkan Ketiga poin tersebut, Pertuni menimbang bahwa masih kurangnya aksesbilitas di berbagai uang pecahan rupiah, baik kertas ataupun koin yang seharusnya memperoleh perhatian khusus untuk mengatasinya. Sebab, aksesibilitas di pecahan uang merupakan bagian dari hak difabel netra untuk dapat mengenali pecahan rupiah dan melakukan transaksi ekonomi secara mandiri.

Selain Bowo, Ahmad Tosirin Anaessaburi seorang difabel low vision menceritakan pengalamannya menggunakan  uang baru sewaktu ia dan temannya, makan di sebuah warung angkringan. Usai makan, ia menghabiskan 5.000 rupiah yang kemudian dibayarnya dengan uang 50.000 rupiah. Si penjual angkringan mengira, ia difabel netra total, dan mengatakan bahwa ia membayar dengan uang pas. Merasa dikelabui, ia dengan cepat merebut kembali uang 50.000 ribu dari genggaman si penjual angkringan. “Saya yakin itu uangnya 50.000 ribu setelah teman saya memastikannya,” kisahnya “Lalu si penjual angkringan meminta maaf”.

Dari pengalaman tersebut Anaes mengaku lebih teliti mengenali dan menggunakan uang. Terlebih jika ia melakukan transaksi dengan nominal   uang besar. Baginya sebagai seorang lowvision, tidak terlalu sulit untuk mengenali uang karena setidaknya ia masih bisa mengamati mulai dari angka, tekstur, dan gambar pahlawan. “Saya masih bisa tau semisal, pecahan uang 2.000 rupiah itu bergambar pahlawan dari Papua,” terangnya.

Anaes juga selalu mewanti-wanti kepada beberapa teman difabel netra total, agar selalu berhati-hati jika hendak melakukan transaksi di tempat-tempat tertentu seperti Mall, Supermarket,  dan tempat lainnya. “Minimal ada yang mendampingi lah,” katanya. [Robandi]

The subscriber's email address.