Lompat ke isi utama
gerakan sekolah menyenangkan

Gerakan Sekolah Menyenangkan dalam Kebhinekaan

Pemilik masa depan hanyalah orang-orang yang kreatif, berbudi, berpekerti dan berkarakter. Semua anak ada dengan berbagai perbedaan yang melekat, beragam, itulah kebhinekaan, mereka semua sama, semua bisa. Mendapatkan kesempatan belajar yang nyaman, menyenangkan, menghargai perbedaan, menjadi kebutuhan.”Fauzan, S.Pd.I., M.Ag.

Kamis (2/2/2017), mendapati sebuah kursi roda (wheel chair) terparkir di depan ruang kelas 3-A Sekolah Dasar Nahdatul Ulama SD NU), membuat rasa ingin tahu saya tentang kemungkinan adanya siswa berkemampuan berbeda di sekolah tersebut.

Menuju bangunan bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah”, bertemu dengan staf dan dipersilahkan menunggu. Seorang pria muda berwibawa meluangkan waktu untuk berbagi dengan Solider pagi itu. Dia adalah Fauzan, S.Pd.I., Pimpinan Sekolah SD NU.

Menurut keterangan Fauzan, terdapat Enam orang siswa difabel (berkemampuan berbeda) mendapatkan kesempatan belajar bersama, menjadi bagian dari 280 siswa di sebuah sekolah dasar yang terletak di pinggir ringroad barat, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sekolah Dasar Nahdatul Ulama (SD NU) tepatnya berada di Jl. Ringroad Barat, Nogotirto, Gamping, Sleman. Sebuah sekolah dasar yang tergolong baru, seolah ini berdiri pada tahun  2009.  Pada tahun ketiga berdirinya SD NU sudah memberi kesempatan siswa difabel belajar diantara siswa lainnya, berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, meski tidak ditetapkan sebagai sekolah inklusi.

“Siswa yang menggunakan kursi roda duduk di kelas 3-A adalah Muhammad Haidar Arifin. Sedangkan saudara kembarnya Muhammad Haikal Arifin, di kelas 3-B, mengalami gangguan penglihatan,” terang Fauzan.

Lebih lanjut Fauzan mengatakan bahwa berbekal niat baik, pemahaman atas hak anak, berkolaborasi dan berkomunikasi dengan orang tua siswa, serta membangun komitmen bersama elemen sekolah, SD NU membersamai seluruh siswa belajar di ruang kelas yang sama dengan pendampingan menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa.

“Bagi orang tua dan penggerak pendidikan, menjadi sebuah kewajiban mengantarkan setiap anak tidak terkecuali anak dengan berkemampuan berbeda (difabel) untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Sekecil apapun potensi yang mereka raih, pantas diapresiasi. Rasa bangga atas penghargaan merupakan sarana menuju masa depan,” ungkapnya.

Berbagai jenis difabilitas menyertai ke enam anak tersebut. Di antaranya dua anak autis, di kelas satu dan kelas empat, seorang anak yang lambat belajar (slow learner) di kelas satu, dan seorang anak dengan gangguan penglihatan di kelas tiga, seorang difabel daksa dengan kaki dan tangan di sebelah kiri berada dikelas tiga serta seorang anak yang temperamental (gangguan mental) semestinya duduk di kelas enam.

Memaknai keberbedaan

Tanpa melihat perbedaan sebagai hambatan, melainkan sebagai keberagaman menjadi ruh yang dibangun di sekolah milik organisasi NU, sebuah organisasi Islam besar di Indonesia tersebut. Sekolah menyenangkan telah menjadi komitmen dan gerakan. Sebuah gerakan sosial yang dibangun bersama elemen sekolah (guru, siswa, orang tua/wali) untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri, menghargai perbedaandan menyenangkan di sekolah.

Menurut Fauzan,gerakan yang dijalankan diantaranya mempromosikan dan membangun kesadaran guru-guru, kepala sekolah dan masyarakat sekolah,menciptakan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan, keterampilan hidup (life skill) supaya siswa menjadi pembelajar dan berkarakter positif.”

Lanjutnya, “Sejalan dengan konstitusi, pada hakikatnya pendidikan adalah untuk semua. Semua anak berhak mengakses pendidikan, dari manapun mereka berasal. Karena itu pendidikan tidak melihat dan memilih status sosial siswa berasal maupun perbedaan fisik, mental dan intelektual,” tutur Fauzan.

Menurut dia, dahwa setiap manusia terlahir dengan segala perbedaannya baik fisik maupun mental, kondisi tersebut merupakan bentuk keberagaman, itulah kebesaran sang pemilik kehidupan.

Butuh komitmen baik dari berbagai pihak, dalam hal ini pihak sekolah maupun orang tua dalam membersamai, mendampingi dan memberikan kesempatan pada anak-anak berkebutuhan khusus.

“Keberbedaan yang menyertai anak-anak merupakan bagian dari keberagaman. Mereka semua berhak untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana anak pada umumya. Berhak mengembangkan potensi dan meraih mimpi-mimpi,” tutur Fauzan.

The subscriber's email address.