Lompat ke isi utama

Yogyakarta Humanity Affection Inisiasi Rumah Baca dan Ruang Berkarya bagi Anak Difabel

Solider.or.id.Yogyakarta.Memberikan kemudahan bagi difabel dalam mengakses buku bacaan yang baik dan mencerdaskan telah mendorong sekelompok anak muda yang tergabung dalam Yogyakarta Hummanity Affection (YHA) mendirikan “Rumah Baca Difabel”.

Bertepat di Jl. KH. Ali Maksum No. 109, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Rumah Baca DIfabel menjadi bentuk kepedulian para pelajar, mahasiswa, pegawai yang tergabung dalam YHA dalam membangun kesetaraan dalam mendorong perwujudan inklusivitas di kota Yogaykarta. 

 Adrian Adzamas, Kepala Departemen Hubungan Masyarakat (Humas) YHA kepada Solider, Senin (23/1/2017) mengungkapkan bahwa membaca  dapat memicu kreativitas dan imajinasi. Membaca mampu mengembangkan berbagai jenis kecerdasaan, diantaranya menambah kosakata, tata bahasa, mengajarkan intropeksi, mengenal nilai diri, perasaan, serta hubungan diri dengan orang lain. Hal tersebut yang melandasi gerakan memberikan kemudahan akses mendapatkan buku bacaan di rumah baca difabel. Membaca harus ditumbuhkan pada anak-anak difabel sejak dini. Dituturkan oleh Adrian.

Dalam Kesempatan tersebut, M. Indro Jati Purnomo, salah satu anggota YHA  menyampaikan bahwa Rumah Baca Difabel, mengajak teman-teman difabel memanfaatkan apa yang ada. “Rumah baca ini untuk kalian, untuk kita semua. Kita semua sama, jika yang lain bisa maka anak difabel juga pasti  bisa. Difabel juga memiliki kemampuan dan kualitas, mari bersama tunjukkan kemampuan itu dengan membaca dan berkarya,” pesannya penuh makna.

Adrian juga mengungkapkan bahwa YHA tidak sekedar menyiapkan rumah baca bagi difabel, namun juga bertekad memberikan bimbingan bagi difabel agar dapat menghasilkan karya.

“Setiap satu anak harus menghasilkan satu karya, One Kid One Hero, demikian ruh yang dibangun YHA,”lanjut Adrian.

“Mereka bebas berkarya sesuai dengan kemauan dan kemampuan. Kami akan menempatkan diri sebagai fasilitator dalam mewujudkan karya,” ujar Indro melanjutkan penjelasan Adrian.

Apresiasi dan percaya diri

Karya-karya yang telah dihasilkan, menurut Adrian akan diapresiasi dalam bentuk pameran. Melalui event pameran,  anak akan merasa bangga dengan apa yang telah dicapainya. Rasa bangga diyakini akan menjadi benih untuk kmenumbuhkan percaya diri pada difabel. jika anak bangga dan percaya diri, maka ia akan termotivasi          untuk berkarya lagi dan lagi.

“Hal tersebut salah satu wujud kesetaraan, kita semua sama,”sahut Evan sore itu.

Lanjut Evan, dalam pameran nantinya juga akan digelar parenting day. Sebuah acara dengan konsep membangun kedekatan orang tua dan anak,  para orang tua dilibatkan dalam mengapesiasi, berdiskusi, berbagi rasa, saling memotivasi satu sama lain.

The subscriber's email address.