Lompat ke isi utama
Distra Teater sedang tampail dalam acara "Margi Wuto" di Auditoriuddddddddddddm PSBN beberapa wakt lalu.

Ikut Lestarikan Budaya, Difabel Netra Jogja Bentuk Grup Ketoprak

Solider.or.id, Yogyakarta – Ketoprak, selain dikenal sebagai makanan tradisional, juga merupakan salah satu istilah yang digunakan untuk menyebut salah satu kesenian Jawa. Ketoprak merupakan sebuah seni pertunjukkan drama ala jawa. Mulai dari dialog yang menggunakan bahasa daerah, banyolan, tata rias hingga alat pengiring semua bernuansa Jawa kental.

Adalah Distra Budaya, sebuah kelompok ketoprak yang diprakarsai oleh para difabel netra dari seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Distra merupakan singkatan dari Disabilitas Netra. Ketoprak Distra Budaya ini merupakan sebuah bentuk dedikasi para difabel netra untuk turut nguri-nguri (melestarikan) budaya dan pembuktian jika difabel pun bisa berkarya lebih dan lebih, tidak melulu memijat.

"Difabel netra yang main musik banyak. Tapi kalau budaya Jawa kan aset. Kalau  diuri-uri bisa punah," Ketua Ketoprak Distra Budaya, Hardjito, menuturkan alasan ia dan kawan-kawan yang tergabung dalam Distra Budaya tertarik dengan budaya jawa ketoprak ini.

Selain untuk melestarikan budaya Jawa, Hardjito mengatakan jika awal dari dibentuknya kelompok ketoprak ini juga berangkat dari pemikiran untuk bisa membuat sesuatu yang tidak lumrah dilakukan oleh difabel netra. Lanjutnya, selama ini difabel netra selalu lekat dengan pijat atau pekerjaan yang itu-itu saja. Maka dari itu, Hardjito dengan kawan-kawan sejawat yang memiliki kecintaan yang sama akan ketoprak, akhirnya berkumpul dan membentuk kelompok ketoprak Distra Budaya ini.

Distra Budaya memiliki agenda latihan rutin bulanan setiap hari Rabu di minggu ketiga. Jika H-15 menjelang pementasan, barulah diadakan latihan rutin hingga dua atau tiga kali dalam seminggu. Tidak ada kesulitan berarti dalam setiap latihan dan pementasan. Hanya ada beberapa kendala yang selama ini dihadapi yakni masalah mobilitas menuju lokasi latihan dan sulitnya beradaptasi dengan panggung sebenarnya di hari H. "Teman-teman paling kesulitan menuju lokasi latihan, nggak ada transportasi. Seperti nggak ada angkot arah lokasi misalnya. Dan adaptasi panggung yang di hari-H yang memang perlu kita survei dulu. Harus tahu ancer-ancer atau petunjuk pintu, batas panggung, sama menyesuaikan posisi pemain lagi," tutur Pentolan grup ketoprak ini.

Naskah yang dipentaskan diambil dari naskah-naskah yang memang sudah ada dan terkenal, hanya dipoles di beberapa bagian saja, misalnya lakon Damarwulan, Roro Mendut,  Roro Hoyi, Suminten Edan, dan masih banyak lainnya. Ketoprak Distra Budaya yang di bawah naungan Badan Sosial Mardi Wuto ini telah berkerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Sehingga pada beberapa kali ada kegiatan besar seperti Festival Kesenian Yogyakarta dan panggung Sekaten, ketoprak Distra Budaya tak pernah absen tampil di dalamnya.

Sejak berdiri tahun 2002, kelompok ketoprak ini sudah mengalami jatuh bangun yang cukup melelahkan. Hingga pernah mengalami masa vacum selama dua tahun lamanya. Namun, pada akhirnya Hardjito dan kawan-kawan lainnya berhasil bangkit kembali, karena tidak ingin ketoprak difabel netra ini bubar begitu saja. Meskipun di lingkup DIY, anggota dari kelompok ketoprak ini masih di kisaran 17 orang. "Semoga kelompok ketoprak ini lebih maju dan berkembang. Ingin lebih banyak teman-teman difabel netra yang bisa bergabung main ketoprak disini," harap Hardjito. (Try Kurnia)

The subscriber's email address.