Lompat ke isi utama
Salah satu armada Dija Citytour

Ditolak Gojek, Difabel Dirikan Perusahaan Ojek Roda Tiga Sendiri

Solider.or.id, Yogyakarta - Beberapa tahun terakhir, digitalisasi makin marak, tak terkecuali bidang ekonomi. Sistem penjualan barang dan jasa menggunakan sistem daring (online)  atau lebih kita kenal dengan digital marketing. 'Pesan taksi hanya dengan satu sentuhan', seperti inilah salah satu contoh jargon penawaran jasa online menggunakan aplikasi di smarthphone  yang tengah naik daun sekarang ini.

Adalah Gojek, perusahaan ojek online yang tahun 2015 lalu bak gula yang mengundang ribuan semut. Gojek berhasil menarik  ribuan orang melamar untuk bergabung menjadi driver di dalam perusahaan ojek online pertama di Indonesia tersebut. Termasuk para difabel, di antaranya juga turut antusias untuk menjadi driver di ojek online tersebut. Namun, yang didapat adalah penolakan. Hal ini berkaitan dengan standar operasional yang diterapkan oleh perusahaan tersebut yaitu standar kendaraan salah satunya.

"Kita nggak  masuk di kategorinya mereka. Standar operasional mereka beda. Motornya harus yang seperti itu, harus roda dua. Temen-temen kan terbatas yang roda dua. Pertama, keadaan personal, kedua ya standar kendaraan tadi. Akhirnya kita coba mewadahi temen-temen di Difa Citytour ini," ungkap Puji, wakil direktur Difa Citytour.

Puji mengisahkan awal mula dirintisnya Difa Citytour kepada Solider. Puji bersama Triyono, Direktur Difa Citytour, berangkat dari niat tulus ingin membantu teman-teman difabel untuk mampu berdikari. Juli 2015, memulai dengan hanya tiga sampai empat armada motor roda tiga modifikasi. Hingga pada Desember 2015, Pemkot mengundang Difa Citytour untuk hadir  pada momen Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Balai Kota Yogyakarta. Kesempatan ini menjadi pertama kalinya Difa Citytour muncul di khalayak luas, dan dijadikan hari launching dari Difa Citytour.

Pangsa Pasar Wisata

Berbeda dengan ojek pada umumnya, Difa Citytour mengambil pangsa pasar wisata. Yakni menyediakan paket jasa mengelilingi lokasi-lokasi wisata di daerah Yogyakarta, seperti Tugu, Keraton, Malioboro. Tamansari, Monumen Jogja Kembali, dan lain-lain. Menurut Puji, jika harus bersaing dengan becak atau ojek yang mangkal di pengkolan tentu sangat berat. "Kita mainnya di kelas wisata. Kalau harus saingan sama becak atau ojek di pengkolan ya berat. Kita harus punya nilai tawar yang berbeda," jelas Puji ditemui di kantor Difa Citytour Kamis kemarin (6/10).

Hingga saat ini Difa Citytour  juga sudah menjalin kerjasama dengan Persatuan Hotel Seluruh Indonesia, dan mendapat daerah di bagian range 3, yakni hotel-hotel seperti Ambarukmo, Ibis, Ritz, Lotus, Grand Cokro, dan lain sebagainya. Meski demikian, Difa Citytour  tetap melayani permintaan teman-teman difabel yang membutuhkan jasa antar-jemput. Seperti difabel netra dan difabel daksa yang memang sangat membutuhkan jasa antar-jemput ke suatu lokasi, sehingga mendapatkan perjalanan yang lebih aman dan nyaman tanpa perlu khawatir lagi. Selain itu, Difa Citytour juga menyediakan jasa kargo antar kota antar provinsi.

Puji menuturkan jika sampai saat ini, banyak bantuan yang datang menyokong Difa Citytour . salah satunya adalah bantuan promosi secara gratis, berkat bantuan blow up  dari media cetak, online dan televisi yang sangat membantu mengenalkan Difa Citytour kepada masyarakat Indonesia. Hingga Oktober ini, Difa Citytour telah memiliki 18 armada motor roda tiga. Puji dan jajaran manajemen Difa Citytour menarget 25 armada untuk wilayah D.I Yogyakarta. "Kami narget sampai 25 armada. Juga nanti kita pakai sistem online, ada aplikasi, tapi masih proses penyempurnaan dulu," ucap Puji. (Try Kurnia SH)

The subscriber's email address.