Lompat ke isi utama
Salah satu kegiatan temu inklusi, yang membahas tentang dana desa.

Anggaran Desa Plered Belum Menyasar Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta- Dana desa belum menyentuh ke komunitas difabel. Widodo, salah seorang difabel netra tinggal di desa Plered, Bantul mengatakan demikian kepada Solider. Yang ia tahu anggaran desa lebih difokuskan ke pembangunan infrastruktur. "Menurut saya sebagai warga desa itu belum tepat sasaran. Pemerintah harusnya bisa membagi anggarannya I tisesuai dengan kebutuhan warganya” kata Widodo Kamis (6/10) lalu.

Widodo mengatan bahatn difabel, twa sebelumnya pernah ada pendataan, tetapi tidak terlalu jelas. Ia menceritakan waktu pendataan ia hanya diminta Kartu Keluarga (KK) saja. Tanpa melihat indikator lain seperti kemampuan ekonomi dan kesehatan. “Pendataannya itu cuma di administrasi saja” kata Widodo. Ia berharap pemerintah desa sampai kepala dusun melakukan pendataan ulang dengan melihat dua faktor ekonomi dan kesehatan.

Widodo menceritakan pengalamannya waktu ada program pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT), ia tidak masuk dalam daftar penerima. Padahal ia merupakan keluraga yang tidak mampu. Penghasilannya dari membuka usaha pijat yang ditekuni hampir 12 tahun itu tidak mencukupi kehidupannya. Ia bertahan dengan usahanya bukan karena usaha tersebut sangat menghasilkan, tapi ia merasa sulit mendapatkan kerja yang lebih layak.

Selain itu, sebagai kepala keluarga dari satu anak itu, ia dibantu oleh seorang istri yang membuka warung kecil-kecilan. Penghasilannya dari memijat tidak menentu, satu hari terkadang ia tidak mendapatkan pasien. Dalam seminggu ia mendapatkan pasien hanya sebanyak dua sampai tiga pasien. “Bisa dihitung jari” katanya. Dari usahanya yang sepi itulah kemudian Widodo mematok tarif seiklasnya.

Menurut PaNugroho ketua Pertuni DIY, anggaran pemerintah seharusnya dapat dinikmati semua elemen masyarakat. Baik itu melalui keorganisasian ataupun individu. Namun memang menurutnya pemerintah baik kota ataupun desa masih ada yang belum paham dengan persfektif disabilitas. “Difabel memiliki kerentanan baik di wilayah ekonomi ataupun kesehatan” kata Dwi. (Amanda Sulistioningrum)

The subscriber's email address.