Lompat ke isi utama
Peringatan Hari CP Sedunia

Mengenal Cerebral Palsy di Hari CP Sedunia

Setiap hari Rabu minggu pertama di bulan Oktober, diperingati sebagai Hari Cerebral Palsy Sedunia (World Cerebral Palsy Day). Sehingga tahun ini hari Cerebral Palsy (CP) dunia jatuh pada hari Rabu tanggal 5 Oktober 2015.

Untuk memperingati hari Cerebral Palsy dunia, pada artikel kali ini saya tertarik untuk mengulas teks pada gambar di samping, yang merupakan pesan moral bagi siapa saja.

“Saya tidak buruk, saya indah. Saya berbeda, bukan kurang. Saya tantangan, tidak menantang. Saya bukan beban, saya adalah berkat. Cerebral Palsy adalah bukan pilihan tapi sebuah penerimaan.” Kurang lebih demikian, pesan moral yang diisyaratkan anak-anak dengan Cerebral Palsy pada dunia.

Rangkaian kata-kata yang meneguhkan bahwa setiap anak, tidak terkecuali anak dengan Cerebral Palsy (CP) adalah berkah, bukan beban. Mereka ada di dunia karena berkat dari Tuhan, bukan beban bagi siapa pun, terlebih bagi orang tua. Merekan juga berhak atas cinta dan dunia yang penuh warna.

Jika saja ada kesempatan melakukan tawar menawar, tentu tak seorang pun yang ingin dilahirkan sebagai anak dengan CP. Tentu setiap orang ingin dilahirkan menjadi yang “sempurna”. Namun, kenyataan tidak semua dilahirkan dengan sempurna. Dan ada yang terlahir “sempurna”, tetapi perjalanan waktu dalam pertumbuhan mengalami gangguan pertumbuhan sehingga mengalami ketidaksempurnaan. Sebuah ketentuan hidup yang hanya harus dijalani.

Siapakah Cerebral Palsy?

Menurut berbagai sumber, Cerebral Palsy bukanlah sebuah penyakit, melainkan kondisi di mana anak-anak mengalami cedera otak sejak lahir. Rangsangan dan fisioterapi merupakan cara mengontrol masa otot anak-anak CP agar tidak menjadi lebih buruk.

Lebih tepat, Cerebral Palsy adalah gangguan gerak, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak, yang sering terjadi sebelum kelahiran. Tanda dan gejalanya CP muncul selama masa bayi atau prasekolah. Kondisi anak CP bisa dideteksi sejak dini.

Akibat dari terganggunya fungsi otak dan syaraf, maka akan mempengaruhi pengendalian motorik, laju belajar, pendengaran, penglihatan dan kemampuan berpikir.

Jumlah penyandang Cerebral Palsy di dunia mencapai 17 juta jiwa lebih, dan di Indonesia menurut dr Uni Gamayani, spesialis syaraf di Departemen Neurologi Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, pada situs www.radioaustralia.net.au/indonesian tertulis,  setiap 2 dari seribu kelahiran hidup, maka akan terlahir bayi dengan Cerebral Palsy, dalam berbagai tingkat keparahan mulai dari yang ringan sampai yang berat.

Permasalahan Anak dengan CP

Sebagian besar anak dengan Cerebral Palsy memiliki ketergantungan terhadap orang lain. Masih sangat sedikit dari anak CP yang dapat hidup secara mandiri. Hal tersebut diperparah lagi dengan kenyataan bahwa sebagian anak dengan Cerebral Palsy berasal dari keluarga dengan permasalahan sosial ekonomi.

Sebagian besar dari mereka juga mengalami kesulitan dalam mengakses hak-hak dasar mereka,  sebagaimana anak pada umumnya. Mereka kesulitan mengakses pendidikan, demikian pula akses kesehatan.

Masih kurangnya pemahaman orang tua/keluarga terhadap penanganan anak Cerebral Palsy, terutama bagi keluarga yang tinggal di pelosok desa maupun pegunungan. Kondisi geografis keluarga CP berakibat mereka tertinggal, bahkan tidak mendapatkan akses informasi. 

Penanganan Anak dengan CP

Anak dengan Cerebral Palsy membutuhkan terapi yang bersifat rutin untuk memperbaiki fungsi otot/gerak yang kaku. Terapi dibutuhkan bagi anak dengan CP sepanjang hidupnya. Berbagai terapi yang seharusnya didapatkan oleh anak CP yang disesuaikan dengan tingkat keparahannya, antara lain:

  1. Rehabilitasi medik, meliputi fisioterapi (terapi fisik), terapi okupasi, dan terapi wicara;
  2. Terapi perilaku, dilakukan oleh seorang psikolog;
  3. Terapi obat, biasanya diberikan pada kasus-kasus CP yang disertai dengan kejang, atau untuk mengontrol spastisitas (kekakuan otot), atau untuk mengontrol gerakan-gerakan abnormal; dan
  4. Terapi okupasi atau operasi, biasanya direkomendasikan bila terjadi keterbatasan otot yang berat, yang  menyebabkan gangguan gerakan, terutama gerakan berjalan. Atau, operasi untuk mengurangi spastisitasnya (kekakuan otot).

Saat ini rumah sakit di Daerah Istimewa yang memberikan layanan terapi bagi anak CP, diantaranya: RSA UGM yang beralamat di  Jalan Ring Road Utara No. 1, Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55291 dan RSUP dr. Sardjito, Jalan Kesehatan No. 1, Sekip, Sinduadi, Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55284.

The subscriber's email address.