Lompat ke isi utama
Conoh pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh Panti Bina Siwi

Panti Bina Siwi dan Pemberdayaan Ekonomi Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta - Kesejahteraan ekonomi merupakan salah satu momok yang selalu dicemaskan oleh para difabel. Hal ini berkaitan erat dengan kesempatan kerja yang makin sulit didapatkan dari waktu ke waktu. Kondisi yang semacam ini, memaksa difabel harus mampu berwirausaha mandiri. Hal ini lah yang mulai diajarkan oleh Panti Bina Siwi kepada anak-anak asuhnya.

Panti Bina Siwi merupakan salah satu panti difabel yang berada di kawasan Pajangan, Bantul. Panti yang dihuni oleh 38 anak asuh dengan beragam kebutuhan khusus ini memiliki usaha mandiri berupa produksi sandal jepit, sandal hotel, boneka flanel, kipas tangan, cinderamata (bros, gantungan kunci, bunga acrilyc), dan kain batik. Anak-anak asuh difabel grahita mampu didik dan mampu latih diberikan pelatihan dan pengarahan untuk mengerjakan kerajinan-kerajinan yang sudah ditentukan tersebut.

Sejak berdiri  tahun 1993, usaha mandiri Panti Bina Siwi mulai bergulir. Bukan tanpa jatuh bangun, dari tahun ke tahun, usaha yang dikelola panti Bina Siwi pun terus berganti. Pada awal 1993, Bina Siwi mengelola usaha peternakan ayam. Namun, banyaknya ayam yang mati sakit dan dimakan pemangsa, membuat pengelola Bina Siwi putar haluan ke usaha emping mlinjo. Emping mlinjo pun ternyata tidak berbuah manis, hal ini karena emping mlinjo membutuhkan modal besar untuk kulakan bahan, fluktuasi harga jual yang tidak terduga (cenderung rugi), dan ketergantungan dengan musim untuk pengeringan emping. Hingga akhirnya Bina Siwi menekuni produksi sandal jepit, dan kemudian terus berkembang ke jenis-jenis produksi yang lain hingga saat ini merambah ke sandal hotel.

Mugiyanti, satu dari sembilan pengasuh Panti Bina Siwi menuturkan, usaha mandiri yang digulirkan oleh panti ini pada mulanya memang untuk mampu menutup biaya operasional panti. Panti dari yayasan swasta ini membutuhkan banyak biaya operasional yang meliputi biaya makan tiga kali sehari, kebersihan, pakaian serta kesehatan, sedang panti tidak memiliki donatur tetap. "Kami panti swasta, harus bisa mencukupi kebutuhan 38 anak asuh kami yang kebanyakan juga yatim piatu ini. Maka dari itu para pengasuh berembuk bagaimana cara untuk bisa mencukupi kebutuhan anak-anak," jelasnya.

Lanjut Yanti, selain untuk menutup biaya operasional panti, dengan adanya pemberdayaan ekonomi dengan pelatihan kemampuan kerja (life skill)  ini membuat anak-anak juga menjadi percaya diri dengan dirinya.

"Selain itu, usaha kreatif ini juga untuk memaksimalkan potensi anak-anak yang selama ini hanya dipandang tidak bisa apa-apa oleh masyarakat. Mereka juga tambah percaya diri dan juga seneng kalau bisa berkarya. 'Wah, aku bisa bikin sandal ya',"tutur Yanti yang kami temui Senin (3/10).

"Seneng (senang-red). Penginnya juga bisa nanam-nanam (belajar menanam-red),"begitu jawab Welas Asih, salah satu difabel grahita ringan saat kami tanya disela-sela pembuatan kipas tangan. Sama halnya dengan Fitri, penyandang tunagrahita ini juga mengaku senang dengan adanya pemberdayaan ekonomi kreatif di Bina Siwi ini. "Senang. Biar punya masa depan. Paling seneng pas bikin sandal," begitu tutur perempuan usia 27 tahun ini.

Terus Berjejaring

 Panti Bina Siwi telah berkerja sama dengan beberapa pihak untuk distribusi produk yang dihasilkan. Untuk kipas tangan bekerja sama dengan Tomadi Handycraft, sedangkan untuk sandal hotel Bina Siwi telah berkerja sama dengan beberapa hotel ternama di Kota Gudeg ini. Boneka flanel wisuda juga mendapat banyak pesanan dari para mahasiswa yang akan wisuda.

"Kami bisa menyelesaikan 2000 kipas dalam waktu dua sampai tiga hari. Kalau sandal hotel, kemarin hotel Ros In sudah pesan 500 pasang. Kami juga sudah mengajukan penawaran dan mendapat lampu hijau untuk memproduksi sandal untuk hotel-hotel lain seperti hotel Wisanti," ucap Mugiyanti. Mugiyanti juga menuturkan, pihaknya akan terus melihat peluang pasar dan mengembangkan bidang bisnis kreatif untuk Bina Siwi. Tuturnya, selanjutnya Bina Siwi akan merambah ke batik eksotik teknik semprot yang di Jogja ini masih langka ditemui. (Try Kurnia Sari H)

The subscriber's email address.