Lompat ke isi utama
Difabel sedang berlatih musik

Terapi Musik untuk Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta - Sejalan perkembangan zaman dan teknologi, dunia kesehatan pun terus berkembang. Tak terkecuali terapi alternatif untuk difabel yang semakin banyak bermunculan, salah satunya adalah terapi musik.

 Mugiyanti, guru SLB Bina Siwi sekaligus pegiat terapi musik di kawasan Pajangan, Bantul ini tengah menangani terapi musik untuk  lebih dari 35 anak difabel dengan kebutuhan khusus yang kompleks. Menurut Mugiyanti, terapi musik menjadi perwujudan atas salah satu hak difabel, yakni hak untuk bahagia dan ceria. Melalui musik, difabel akan mampu melepas stress dan musik juga menjadi  hiburan tersendiri untuk para difabel. Musik juga  menjadi media mengekspresikan diri anak-anak difabel sebebas-bebasnya dengan cara yang positif.

Mugiyanti memaparkan, terapi musik memiliki banyak manfaat. Musik mampu mengembangkan koordinasi motorik, mengembangkan kemampuan kognitif, seperti daya ingat dan konsentrasi, dan yang terpenting adalah membangun rasa percaya diri anak-anak difabel. "Untuk anak tunagrahita dan celebral palcy  selama ini terapi motoriknya hanya seperti membuka  tutup tangan saja misalnya. Namun, dengan terapi musik ini, anak tunagrahita bisa melatih motoriknya dengan bermain hadroh," ungkap alumni dari Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Mugiyanti mengaku, anak didiknya cepat menangkap pelajaran bermusik.  Mugiyanti mengungkapkan jika pihaknya hanya satu dua kali mendatangkan instruktur musik, anak-anak didiknya sudah mampu menguasai satu lagu yang diajarkan tersebut. Semisal lagu 'jangan menyerah' milik grup band d'Masiv.Hal ini pun di luar dugaan Mugiyanti. "Satu dua kali ndatangin instruktur, mereka langsung bisa nangkep. Justru pengasuhnya nyoba belajar malah gak bisa-bisa,"jelas Mugiyanti.

Meningkatkan Kelincahan

SLB Bina Siwi sendiri telah memiliki bermacam fasilitas alat musik, antara lain seperangkat gamelan, keyboard, drum, gitar akustik, gitar bass dan rebana. Anak-anak low vision dan tunanetra lebih banyak bermain keyboard dan gitar. Sedangkan anak-anak difabel grahita akan bermain rebana  dan gamelan. Bermain alat musik, khususnya alat musik pukul dapat melatih kelincahan gerak.. Hal ini pun telah dapat dirasakan oleh Erwin, salah satu murid Mugiyanti. Difabel daksa dan penyandang  celebral palcy  ini pun berangsur membaik dalam penggerakan anggota badannya setelah berlatih dengan alat musik gamelan.

Fauzi, salah satu murid difabel grahita dari Mugiyanti, mengungkapkan jika terapi musik sangat menyenangkan. Remaja 23 tahun ini telah mampu memainkan alat musik gitar, gitar bass, drum, dan keyboard. Fauzi pun mampu mengarang komposisi lagunya sendiri. Selain itu, ia mengaku jika  terapi musik sangat membantu dirinya dalam meningkatkan konsentrasi.

Bekti, penyandang low vision,  turut mengaminkan dampak positif terapi musik.  Menurutnya, terapi musik mampu memangkas angka stress yang dimilikinya selama ini. "Dengan musik, bisa bikin happy. Nggak enak ati , gak enak fikiran, main musik jadi seneng lagi," paparnya. (Try Kurnia Sari)

The subscriber's email address.