Lompat ke isi utama
Setia di samping peta taktual berbahan logam.

Peta Taktual Jembatani Akses Informasi Geografis Difabel Netra

Solider.or.id, Yogyakarta- Setia Adi Purwanta (63), direktur Dria Manunggal mempersembahkan peta timbul yang memuat simbol dan kode braille berbahan logam berujuran 210 x 130 cm.

Peta taktual di atas logam tersebut, akan dibarengi dengan panduan bagi orang awas dalam mempelajari braille dan kode-kode braille. Orang-orang dapat sekaligus belajar Braille melalui peta taktual tersebut.

Menurut Setia, tiga peta taktual telah berhasil diselesaikan, bekerja sama dengan seorang seniman pahat logam, dari Institute Sangkerta Indonesia, Ki Mujar Sangkerta, ungkapnya pada Kamis (15/9) kepada solider.

Ketiganya akan ditempatkan di tempat umum, sebagai media pembelajaran bersama, antara difabel netra dengan masyarakat pada umumnya. “Peta taktual tersebut memiliki hak berada di tempat umum. Menjadi media khusus yang ada di tengah media umum, dan terdapat hak difabel netra belajar bersama masyarakat umum,”ungkap Setia.

Peta tersebut sudah diserahkan kepada Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Agustus lalu untuk menjadi koleksi dan media pembelajaran. Pada bulan yang sama, peta juga dipamerkan di Solo dan dilihat oleh Menteri Riset dan Teknologi dan Dirjen Pendidikan tinggi. Selanjutnya, Setia berharap peta tersebut dapat dipasang di area belajar publik seperti Taman Pintar Yogyakarta, maupun museum-museum.

Wujudkan karya menjawab resah

Setia menuturkan bahwa dia memiliki keresahan tentang fakta problem yang dihadapi difabel netra. Salah satunya difabel netra yang tidak paham peta, karena tidak adanya peta yang dapat diakses oleh mereka. Gangguan penglihatan berdampak pada sulitnya difabel netra mendapatkan informasi dan lingkungan saat ini belum dapat memberikan aksesibilitas dan menyebabkan terhambatnya mobilitas

Setia yang juga difabel netra ini menuturkan bahwa pemahaman terhadap peta penting, karena akan membantu pengetahuan tentang apa yang ada di sekitar. Selain itu, peta dapat menjadi bahan orientasi wilayah. Sejak itu sudah dihasilkan media taktual, peta Indonesia (atlas) di atas kertas dan peta dunia (globe). Di mana peta-peta taktual tersebut telah diserahkan di berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di 8 (delapan) kota yaitu Yogyakarta, Solo, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Makassar, dan Mataram. Berlanjut hingga tahun 2016 diwujudkannya peta  NKRI, di atas logam tersebut.

Di akhir perbincangan, Setia Adi Purwanta mengapresiasi upaya negara melalui BIG dalam melakukan pemenuhan hak asasi bagi difabel netra memperoleh informasi geospasial atau keruangan.

The subscriber's email address.