Lompat ke isi utama
Santi dengan jilbab krem.

Santi: Bangga Menjadi Difabel

 

Rasa bangga menjadi diri sendiri dan penerimaan diri menjadi kekuatan seseorang untuk mampu melangkah maju. Kekuatan inilah yang dimiliki oleh Santi Setyaningsih, seorang difabel Tuli yang telah menerbitkan sebuah buku dengan judul “Aku Bangga Menjadi Tunarungu”.

Buku berjumlah 76 halaman ini diterbitkan oleh DNA Creative House bekerja sama dengan Dompet Dhuafa. Dalam buku yang dicetak Juni 2015 ini, Santi menceritakan mengenai kisah hidupnya hingga ia mampu lulus dari Universitas Jenderal Soedirman jurusan Sosiologi tahun 2016. Buku ini ditulisnya karena ia ingin berbagai pengalaman dengan harapan akan dapat menginspirasi banyak orang terlebih bagi difabel dan Tuli pada khususnya.

 “Besar harapan saya, dengan hadirnya buku ini bisa memberikan motivasi dan inspirasi agar lebih bersyukur, menjalani hidup dengan penuh semangat, memperoleh kekuatan dan keyakinan untuk mewujudkan impian”, ungkap Santi dalam bukunya.

Santi terlahir prematur dan bisa mendengar, tetapi ketika umur lima tahun, kemampuan mendengarnya menurun karena sakit yang pernah ia alami. Beruntung orangtuanya dapat memperlakukan Santi dengan baik dan didaftarkan di sekolah umum. Hingga Sekolah Menengah Atas, Santi tidak menggunakan alat bantu dengar karena dia merasa tidak nyaman dan masih bisa mendengar dalam jarak dekat seperti saat berhadapan langsung.

Menurut Santi, masalah komunikasi adalah masalah yang paling sering terjadi pada difabel Tuli, termasuk dirinya. Dia sering mengalami kesalahpahaman dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. “Banyak yang kita komunikasikan tidak tepat disampaikan. Bahkan banyak orang tersinggung karena kesalahpahaman itu”, cerita Santi.

Santi menambahkan, tak jarang kesalahpahaman itu menimbulkan kekacauan atau bahkan mengelikan. Tak jarang kesalahpahaman mengakibatkan permusuhan, menimbulkan keributan dan olokan yang tidak perlu. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. “Kita harus bisa ikhlas dan terus bersyukur atas apa yang telah Tuhan takdirkan pada diri kita,” ungkap Santi.

Perempuan kelahiran 8 Mei 1991 ini berencana untuk melanjutkan kuliah S2-nya di Yogyakarta. Baginya, pendidikan sangatlah penting, “Saya harus menimba ilmu selagi saya mampu. Meski Tuli, saya harus belajar. Dengan banyak belajar, saya bisa membuka mata hingga mengetahui banyak hal serta mampu menambah wawasan. Dengan proses pendidikan, kita jadi tahu bagaimana seharusnya kita menyikapi keadaan. Kita jadi tahu bagaimana cara membaca dan menulis serta mampu mengoptimalkan tenaga dan pikiran kita dalam mempelajari sesuatu. Melalui proses pendidikanlah kita jadi menemukan jawaban yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya.”

<strong>Selalu Duduk di Baris Depan</strong>

Sejak SD sampai SMA, Santi sekolah di sekolah umum dan selalu duduk di baris depan karena guru-gurunya memperhatikan Santi dan membantunya untuk tetap fokus menangkap pelajaran yang mereka ajarkan. Santi mengakui bahwa dirinya pernah mengalami persoalan akademis d lingkungan kampus. Dia memakluminya karena dengan keterbatasan pendengaran pasti punya kendala menangkap mata kuliah yang disampaikan dosen.

Semangatnya selalu ada meskipun banyak kendala yang dihadapinya. Dia tidak ingin selalu melihat pada masa lalu, masa dimana dirinya mengalami keterpurukan dan kesulitan yang luar biasa. Santi ingin menyemangati dirinya sendiri juga pada teman-teman semua untuk terus menatap masa depan.

“Jangan menatap ke masa lalu, apalgi kalau masa lalu yang dialami itu menyakitkan. Tapi, sah sah saja kalau mau melihat ke belakang, tapi jadikan masa lalu sebagai pengalaman dan pelajaran berharga”, ucap Santi.

Meskipun dirinya tidak terbiasa menggunakan bahasa isyarat dalam kesehariannya, kini Santi mulai mempelajari bahasa isyarat pada komunitas Deaf Art Community Yogyakarta. Dirinya baru menyadari bahwa bahasa isyarat sangatlah penting. Perempuan yang bercita-cita menjadi seorang writepreneur, enterpreneur, serta melakukan pemberdayaan masyarakat untuk perempuan, anak-anak, dan difabel ini berpesan, “Pengalaman negatif di masa lalu jangan sampai terulang. Sedangkan hal positif bisa kita ambil dari pengalaman dan kita jadikan teladan dalam melangkah menuju perubahan hidup yang lebih baik. Ingatlah! Kita insan manusia yang luar biasa! Teruslah memotivasi diri untuk bergerak, bergeraklah sekarang juga, dan kita akan termotivasi dengan sendirinya.” (Ramadhany Rahmi)

The subscriber's email address.