Lompat ke isi utama

Seminar Kajian Tuli, Bahasa Alamiah sebagai Bahasa Khas Tuli

Solider.or.id, Yogyakarta-  Berbagai sudut pandang tentang tuli, termasuk bahasa isyarat, kebutuhan, dan budaya tuli dipaparkan dalam sebuah seminar kajian tuli.  Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Nippon Foundation menyelenggarakan seminaar “Bahasa Isyarat Alamiah, Sebuah Motivasi Pengembangan Diri dan Pencerdasan” di ruang auditorium Sasana Krida Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa, Sabtu (19/12)  menyita perhatian sekitar empat ratus peserta.

Seminar tersebut menghadirkan tujuh pemateri tuli, yakni Anggi  Toberti, Antonius, Wahyu  Tri Wibowo, Indhira Resky Imandari,  Fikri Muhandis,Gustian Hafidz, dan Bagaskara.

Anggi Toberti  menyampaikan dengan bahasa isyarat bahwa keterbatasan  informasi yang  diterima  tuli mengakibatkan tuli tidak menguasai tata bahasa yang baik.  Ia menambahkan bila hal tersebut menyebabkan sebagian besar  tuli berkomunikasi dengan  bahasa  yang terbalik-balik dan  tidak mudah  dipahami. 

Menurut Anggi,  bahasa  alamiah  adalah bahasa yang  diciptakan sendiri  oleh kawan-kawan tuli berupa isyarat atau   simbol, yang berungsi sebagai  sarana   mengembangkan kepercayaan diri dan meningkatkan interaksi  juga  mendorong berkomunikasi lebih baik. 

Tingkatkan Kepedulian terhadap  Tuli

Riski Purna Adi, Ketua Gerkatin DIY, mengatakan ketidakpahaman masyarakat tentang budaya dan bahasa tuli  tersebut berakibat  tidak terbangun komunikasi yang efektif atara tuli dengan orang mendengar. Dia berharap, dengan  seminar tersebut semakin banyak orang yang paham akan tuli,  budaya tuli,  juga  dengan  bahasa isyarat  yang  digunakannya,  yang  mana  merupakan identitas  bagi masyarakat tuli.

Kiki, begitu sapaan akrabnya, juga berharap kepada siapa  saja yang menghadiri seminar serta masyarakat luas untuk dapat membantu meningkatkan kepedulian terhadap  tuli.

Adhi  Kusuma Bharoto, Peneliti Bahasa Isyarat  LRBI FB UI, yang sekaligus sebagai moderator menjelaskan, bahwa seminar tersebut merupakan bentuk implementasi hasil pelatihan Oktober  2015  lalu, di kantor Lembaga Riset Bahasa Isyarat (LRBI).

“Pada akhir pelatihan, mereka diharuskan membuat tugas akhir seperti makalah dan presentasi setelah apa yang mereka pelajari. Itulah tugas akhir yang merupakan hasil pemikiran, pengalaman, pengetahuan mereka untuk dibagikan ke masyarakat dan dipraktikkan langsung dalam seminar,” penjelasan Adhie melalui pesan messenger.

 

 

The subscriber's email address.