Lompat ke isi utama
Ilustrasi pengurangan risiko bencana. Sumber: google.

Banyak Orang Tak Paham Membantu Difabel Saat Bencana

Solider.or.id, Yogyakarta- Toha Supardi, salah satu pengurus Persatuan Penyandang Cacat Klaten (PPCK) mengungkatkan bahwa setiap orang berrisiko menjadi korban saat terjadi bencana. Hal itu ia sampaikan dalam Dialog Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Selasa (24/11) di Hotel Ruba Graha.

 “Salah jika dikatakan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang paling berisiko pada saat terjadinya bencana. Setiap orang berrisiko, ketika tidak memiliki pemahaman yang baik dan benar bagaimana bersikap dalam menyelamatkan  diri ketika bencana terjadi,” ungkapnya

 “Yang benar adalah, selama ini masyarakat umum tidak paham bagaimana bersikap terhadap penyandang disabilitas saat terjadinya bencana. Bahkan cenderung tidak peduli. Ketidaksadaran kolektif tersebut yang menjadi penyebab difabel menjadi orang yang paling beresiko terhadap bencana,” lanjut Toha.

Suparman, salah seorang difabel pengguna kursi roda juga mengimbau kepada difabel untuk menyampaikan hambatan dan kebutuhan yang dimiliki kepada keluarga.

Tidak Paham

“Tidak ada yang menolong saya, karena warga tidak tahu bagaimana menolong seorang difabel seperti saya. Jadi saya hanya pasrah di rumah, ” ungkap Tia, difabel korban erupsi Gunung Merapi 2010 pada dialog PRB yang diinisiasi oleh Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA).

Abbas, salah seorang difabel korban gempa juga mengungkapkan hal yang sama. “Ketika isu tsunami melanda, saya terlupakan tidak ikut diselamatkan. Sementara semua keluarga dan warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi,” terangnya.

 

The subscriber's email address.