Lompat ke isi utama
Dua tuli sedang berinteraksi dengan bahasa isyarat.

Belum Ada Juru Bahasa Isyarat di Rumah Sakit

Solider.or.id, Solo- Tisa  Lestiani, Bendahara Gerkatin Solo melalui penerjemah Bias Hasbi menuturkan bahwa dia memiliki teman tuli  yang sakit dan menjadi kebingungan. Di rumah sakit tidak ada penerjemah bahasa isyarat sementara, petugas medis tidak ada yang bisa berbahasa isyarat. Sementara itu,tuli mengaku tidak paham dengan bahasa medis.

Menyikapi hal ini Center For Indonesian Medical Student Activities (CIMSA) sebuah organisasi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo menyelenggarakan Breaking The Limits. Vina Dyah, Wakil Eksternal CIMSA menyatakan kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Gerkatin Solo untuk membuat layanan kesehatan ramah tuli.Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus FK UNS, Ketingan, Solo pada Sabtu (21/11).

Calon Dokter Ramah Tuli

Mahasiswi FK UNS semester 3 ini menyatakan pemikiran belajar bahasa isyarat medis diperlukan untuk membekali calon-calon dokter dalam menangani pasien tuli.

“Jadi kami sebagai dokter nantinya harus bisa melayani semua pasien. Jika bertemu dengan pasien bagaimana kami bisa berkomunikasi termasuk dengan tuli,” jelasnya.

Tisa beserta tujuh orang anggota Gerkatin Solo hadir untuk mengajarkan bahasa isyarat yang khusus menyangkut dunia kedokteran. Menurutnya kegiatan ini sudah dilakukannya sebanyak tiga kali.Ia berharap agar tuli bisa mendapat layanan medis yang layak seperti pasien lainnya. Dia juga berharap lebih banyak lagi dokter yang bisa berkomunikasi dengan tuli.

Seven Stars Doctor

Sementara itu Local Coordinator CIMSA, Muhammad Raditya Septian menyatakan bahwa pelatihan bahasa isyarat ini merupakan salah satu langkah pemenuhan seven stars doctor. Ini merupakan tujuh kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang dokter.

Menurut Raditya, Dalam mencapai seven stars doctor inilah kemampuan komunikasi seorang dokter dalam menangani pasien dari semua kalangan diperlukan.

“Di rumah sakit belum ada penerjemah bahasa isyarat, sementara jumlah tuli di Indonesia di 2014 menurut Depertemen Kesehatan sekitar 1,95% dari jumlah penduduk atau sekitar 2.950.000 orang,” jelasnya.

Lebih jauh mahasiswa FK UNS semester 5 ini berharap ada langkah komprehensif pemerintah untuk mewujudkan layanan kesehatan ramah tuli.

“Harapannya agar pemerintah maupun policy maker mendukung adanya penerjemah bahasa isyarat di rumah sakit atau membuat kamus bahasa isyarat kedokteran,” pungkasnya.

The subscriber's email address.