Lompat ke isi utama
Widi Haryanti (berkaus merah) bersama-sama mengkampanyekan isu antirokok.

Widi Haryanti: Dukungan Lingkungan Pengaruhi Kepercayaan Diri Difabel

SEORANG perempuan paro baya yang berjalan  timpang, sambil sesekali memegangi kaki kirinya. Rupanya kaki kirinya lebih kecil dari kaki kanan. Kondisi itu tidak mengurangi semangatnya untuk menghampiri kerumunan warga.

Widi Haryanti, perempuan itu biasa disapa, baru saja mengikuti senam massal di sepanjang  jalan kampung  Rotowijayan Yogyakarta, yang  merupakan  bagian  dari  agenda sebuah deklarasi bebas  asap  rokok. Ibu dari dua orang putra dan putri ini adalah seorang difael daksa (polio) sejak usianya 3 tahun.

Dijumpai Solider, Minggu pagi (8/11)  Widi, sapaan akrabnya,  merupakan  salah  satu tim sukses RW XII  sehingga  mendukung terwujudnya  deklarasi  bebas  asap   rokok   tersebut. “Percaya diri serta dukungan lingkungan sangat berpengaruh pada kedirian difabel,” ungkapnya pagi itu.

Widi dipercaya sebagai tim sosialisasi dan kampanye RW XII, tentang dampak dan bahaya asap rokok terhadap warga yang notabene tidak merokok (perokok pasif). “Bayi, balita, ibu hamil  serta lansia, mereka  yang menjadi penekanan untuk diselamatkan dari dampak dan bahaya asap rokok,” ujarnya pada Solider.

 “Saya  tidak mengalami hambatan apapun, meskipun saya menggunakan brace saya masih sanggup berjalan tiga kilo meter,” ungkap Widi.  Brace  yang  menyangga  kakinya, setia menemani kemanapun kakinya hendak melangkah menemui warga. Berbekal semangat dan pemahaman tentang bahaya asap rokok bagi perokok pasif, dia berjalan mengunjungi pertemuan demi pertemuan yang ada di lingkungan RW.

“Selama kurang lebih tiga bulan saya melakukan sosialisasi terhadap warga, agar warga khususnya para perokok sadar untuk tidak menimbulkan dampak negatif pada perokok pasif.” Widi menuturkan.

Semua Orang Mampu

Tidak  semua orang  dapat menerima kedifabilitasannya, kemudian berpikir  positif mengoptimalkan  kemampuan  yang sesungguhnya   ada  pada tiap-tiap  diri  manusia. Sesungguhnya setiap orang mampu melakukan apa saja, sebab di  balik keterbatasan atau kekurangan seseorang pasti ada kelebihan, ketika oang tersebut mampu memahami dan mengoptimalkannya..

Hal tersebut  disadari betul oleh Widi, yang sejak 43 tahun usianya, yaitu tahun 2000  mulai aktif berkegiatan sosial di masyarakat. “Tiga bulan kemudian, saya dipercaya  menjadi ketua Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) hingga 2013. Agar  ada regenerasi  kepengurusan,  saya megundurkan diri.  Namun  pada 2015,  kembali dipercaya sebagai  pengurus RW, Bidang Sosial dan Kesehatan juga dilibatkan dalam event-event lingkungan,” kisahnya.

Selain aktif berkegiatan baik di lingkungan wilayah tempat tinggalnya, perempuan berambut pendek tersebut juga aktif di beberapa lembaga  swadaya  masyarakat seperti SAPDA, CIQAL  dan  SIGAB. “Aku ikut mendirikan SAPDA (Sentra Advokasi  Perempuan Difabel  dan Anak).  Jadi  ikuti   merasakan pahit getirnya SAPDA,” kenangnya.

 

Mengubah Cara Pandang terhadap Difabel

 “Jangan ragu-ragu  jika mau terjun ke  masyarakat. Sebab dengan kita memberanikan diri secara perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit akan mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan difabel,” ia mengimbau kepada difabel

Widi juga mengatakan kepadan keluarga difabel untuk tidak terlalu overprotective terhadap difabel. “Jangan berpandangan bahwa difabel perlu  dikasihani, diaggap tidak mampu,  sehingga tidak diberikan  kesempatan.Rasa iba atau kasihan dan menganggap tidak mampu tersebut akan membuat kdifabel rendah diri, atau bisa jadi malah menjadipembetontak. Berikan difabel kesempatan tanpa meninggalkan pendampingannya  dan pengawasan,Widi.

Tidak lupa Widi juga menaruh harapan  pada pemerintah, “Perlakukan kami para difabel, sama sebagamana warganegara pada umumnya.  Jangan selala mendiskriminasikan difabel. Penuhi hak-hak difabel dalam segala aspek kehidupan. Jangan kami para difabel dieksploitasi.”

 

Dukungan Ketua RW dan Camat

Ketua RW XII, Sri Subekti  Setyoiwati,  S.Si.,   berujar “Selama   saya masih  mejadi  Ketua  RW,  saya akan terus melibatkan  Budhe Widi  pada setiap kegiatan  lingkungan.  Saya tidak  melihat  Budhe  karena kondisi   fisiknya, melainkan  kemampuan dan kapabilitasnya,” ujarnya.

Camat Kecamatan Kraton, Drs. Yuniarno AR yang hadir dan meresmikan acara deklarasi tersebut juga merasa terbantu dengan masukan-masukan  dari  Widi. “Kami yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Ketidak paham megenai apa, siapa kebutuhan difabel kami dapatkan dari bu Widi. Sehingga atas masukan-masukan tersebut, layanan publik di kecamatan Kraton sudah sedemikian rupa dibuat akses bagi difabel daksa dan low vision atau netra.”

The subscriber's email address.