Lompat ke isi utama
Difabel dengan alat bantu kursi roda kesusahan mengakses cable car.

Prototipe Cable Car Bandung Minim Aksesibilitas Difabel

Solider.or.id,Bandung- Warga Bandung patutnya berbahagia, kini Bandung segera meluncurkan moda transportasi terbarunya yakni cable car atau  “kereta gantung”  bernama Bandung Skybridge. Cable car ini akan membentang sepanjang 800 meter menghubungkan Dago – Cihampelas.Warga dapat secara langsung merasakan  prototipe cable car ini terpajang di Balaikota Bandung, jalan Wastukencana-Bandung sampai akhir 2015.

            Mengutip statmen Walikota Bandung, Ridwan Kamil di media massa (nasional.tempo.co) dua pekan lalu, “Ini gambaran cable car prototipe rencana tahap satu Dago-Cihampelas. Masterplan jangka panjangnya 40 Kilometer”. Ridwan Kamil mempersilahkan warga kota Bandung yang penasaran dengan bentuk cable car untuk datang ke Balaikota Bandung, “Agar masyarakat bisa paham, maka samplingnya kita hadirkan. Yang mau lihat contoh cable car silahkan datang ke Balaikota”, imbuhnya.

            Himbauan Walikota nampaknya ampuh, terbukti warga berdatangan ke Balaikota Bandung sekedar berselfie dan mengambil foto di dalam maupun diluar kabin cable car berwarna putih yang berkapasitas penumpang 10 orang. Hal itu benar nyata dalam pandangan mata kami, saya dan rekan saya, Faisal Rusdi, berdomisili Bandung dengan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Bandung memantau aksesibilitas prototipe cable car, Senin (16/11).

Coba Aksesibilitas

            Penulis dan Faisal Rusdi, difabel memiliki hambatan gerak dengan pengguna kursi roda. Sengaja kami melihat kondisi langsung di Balaikota Bandung, bagaimana perwujudan dari cable car tersebut. Rasa penasaran kami diawali penuh semangat seakan terkikis setelah melihat fakta lapangan saat audit prototipe cable car. Ternyata  masih minim aksesibilitas bagi difabel,  informasi desain tak nampak di sekitaran cable car.

            Setelah kami mencoba langsung prorotype cable car, menurut faisal “Pintu masuk agak kurang lebar, terlalu pas dibutuhkan lebar kurang lebih 10 cm”. Faisal menambahkan keterangan bahwa difabel perlu pintu lebar agar memudahkan masuk kedalam cable car tersebut. Jika kursi roda elektrik atau kursi roda berukuran lebih besar dari yang Faisal gunakan (terlihat dalam gambar).

            “Kalau lihat ke bawah dari permukaan tanah, ada step sekitar 10-15cm cm, agak sulit naiknya. Akan lebih baik jika halte untuk cable car itu bisa sejajar dengan pintu masuk. Dari pijakan berwarna silver, ada step lagi  sekitar 3cm dari permukaan tersebut, apakah itu bisa disiasati agar sejajar.”, ujar Fasial.

            Setelah kami mengamati bersama, kursi penumpang itu berhadapan terdapat dua kursi dengan masing-masing kursi bisa diduduki lima penumpang. Ruang dalam kabin yang kecil menyulitkan untuk kursi roda berputar, jika tetap dengan desain seperti itu maka pengurangan jumlah penumpang dapat berkurang dari tiap kabin yang beoperasi nantinya.

            Lantai tersebut beralaskan karpet dan tidak mempunya handrail (pegangan), juga belum adanya kunci pengaman untuk kursi roda. Tidak ada keterangan informasi dan aksesbilitas didalamnya  kebutuhan audio visual untuk difabel hambatan penglihatan , hambatan pendengaran dan klasifikasi lainnya.   

            Rencana proyek besar pastilah sudah memiliki konsep dan desainnya. Agar tidak memandang dari satu sisi, kami pun segera mencari informasi terkait desain dari Bandung Skybridge. Hal ini masih dalam tahap awal, agar kami bisa memberikan sumbang saran terhadap pemerintah khususnya kota Bandung yang akan menjalankan moda transportasi cable car ini.

            Hasilnya pun cukup mencengangkan membuat kami keheranan, ketika bertanya pada beberapa aparatur yang ada di Balaikota. Entah itu secara kebetulan tak ada satu pun yang mengetahui informasi Bandung Skybridge, bahkan tak sedikit yang kami tanyakan menanyakan kembali kepada kami. Apa itu Bandung Skybridge? Letak prototipe cable car pun tak mengetahui berada di mana. Kami pun diarahkan ke bagian umum lalu ke Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) untuk menggali informasi terkait.

Layangkan Surat Pada Pemerintahan Kota Bandung  

Diskominfo belum mendapatkan informasi mengenai Bandung Skybridge. ”Memang prototipe itu merupakan bagian umum yang leading sector, Diskominfo hanya sekedar informasi, prototipe yang ada di lingkungan Balaikota. Belum tahu siapa yang membikinnya, peranan, rencana pembangunan, desainnya dan sebagainya kurang begitu paham”, ujar Juhatin dari Diskominfo.

Juhatin, menyambut baik kedatangan warga difabel untuk mengecek kondisi prototipe cable car, itu merupakan fasilitas umum Bandung Skybridge yang nantinya akan dioperasikan. Dia memberikan saran untuk melayangkan surat pada pemerintah kota Bandung untuk Audiensi dengan Walikota Bandung beserta SKPD.

Lebih lanjut, Juhatin memberikan saran ketika audiensi selain memberikan sumbang saran mengenai fasilitas difabel dengan konsep dan harus ada output kepada pemerintah.  “Pak Walikota tidak suka dengan konsep yang bertumpukan, kata lain bahasa akhir kamu bisa ga ngerjainnya. Anggarkan dananya berapa, Dia (walikota Bandung Ridwan Kamil) maunya nyata , realita dan ilmiah”, pungkas Juhatin. (Zulhamka Julianto Kadir)   

The subscriber's email address.