Lompat ke isi utama
Fiersha dan ibunya, Ace Amalia, bersama adik.

Fiersha “MamaMia”: Menikmati Hidup di Jalur Musik

Solider.or.id-Bandung, Melewati keterbatasan dengan segudang prestasi tidaklah mudah dilaluinya, butuh perjuangan, kerja keras dan kesabaran. Itulah Fiersha “MamaMia” Hanifah, jebolan ajang pencarian bakat “MamaMia” Indosiar (TV Nasional) season pertama tahun 2007 meraih juara 3 kala itu. Dibalik keberhasilan Fiersha ada sosok sang Mama yang menjadi kekuatannya, dialah Ace Amalia.

Kekompakan mereka terjalin disetiap kesempatan, bukan hanya saat Fiersha hendak perform off air. Dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2015 “Melihat Dengan Hati” di Auditiorium RS Pendidikan Lt.2, Jln. Eyckman No. 38, Bandung, Minggu (11/10). Fiersha menyanyikan lima lagu.

 “Saat saya lahir kondisinya berbeda, mama membawa saya berobat kesana kemari untuk kesembuhan saya. Awalnya ketidaktahuan mama sebenarnya, kondisi apa yang dialami saya, maka dari itu mama mencari segala bentuk informasi mulai dari ke dokter, tabib upaya itu sudah dilakukan mama,” ujar sulung dua bersaudara ini.

Hingga Fiersha sekitar berusia 4 tahun, salah satu dokter mengatakan pada Ace Amalia. Daripada uang itu habis dipakai berobat, lebih baik buat sekolah saja. Sejak itu pula, Ace tidak lagi fokus pada kondisi Fiersha dengan keterbatasannya, melainkan pendidikan yang tepat dan menggali potensi yang bisa dikembangkan Fiersha.

 Sejak itu, upaya  Ace dalam bidang akademik mencari sekolah yang tepat untuk Fiersha. Sebelumnya, Fiersha di leskan untuk bisa dan lancar baca tulis huruf braille (baca tulis untuk netra hambatan penglihatan), bahkan Ace pun rela harus belajar huruf braille demi sang anak. “Dulu Mama menyalinkan sebuah cerita keong emas dari tulisan menjadi braille. Setelah saya bisa baca tulis, lalu saya di masukkan ke SLB A Wiyataguna”, ucap Fiersha menceritakan kisahnya belajar braille.           

Saat Fiersha usia 9 tahun duduk di bangku kelas 4 SD kala itu, atas keinginan dan dukungan penuh keluarga Fiersha ikut seleksi program inklusi perdana yang diselenggarakan UNESCO PBB. Program tersebut bertujuan untuk menyetarakan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak non berkebutuhan khusus.

=Setelah dinyatakan lulus seleksi, Fiersha pindah sekolah dari sekolah luar biasa (SLB) ke sekolah umum yang inklusi. Dari kelas 4 hingga kelas 6 SD, Fiersha melanjutkan di SDN Tunas Harapan Bandung, kemudian untuk pendidikan tingkat pertama di SMPN 47 Bandung, lalu sekolah tingkat menengah di SMAN 6 Bandung. Kini bagi mahasiswi tingkat akhir dengan jurusan senik musik tercatat di salah satu Universitas Negeri ternama yang ada di Bandung yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Bagi perempuan kelahiran Bandung 19 Juli 1993 itu, prestasi tidak hanya ditorehkan dari bidang akademik saja. Bahkan di bidang seni, terutama di bidang seni tarik suara hingga membawanya berada di puncak popularitas yaitu di ajang pencarian bakat Mamamia. Bakat seni itu sudah terlihat dari Fiersha kecil, ternyata darah seni itu diturunkan dari sang mama.

 Fiersha kecil, kisaran umur 4 tahun. Ace menyodorkan alat musik tapi dalam bentuk masih mainan. “Mama belikan piano bertahap, dari mainan hingga professional. Diajarkan, ternyata saya bisa memainkan alat musik”, tutur Fiersha.

Ace terus menggali bakat Fiersha bukan hanya di alat musiknya. Berhubung Ace dulu semasa gadisnya penyanyi dan membentuk sebuah band, Ace mengajarkan Fiersha bermain alat musik dan olah vocal untuk bernyanyi. “Dari kecil saya ikut festival apapun, mama mencarikan informasi-informasi festival dari tingkat lokal maupun nasional. Saat itu ada MamaMia, ikut audisi ternyata lolos terus dan tembus hingga 3 besar 2007 lalu. Alhamdulilah. Pernah juga ikut lomba mengarang dapat juara 1 tingkat Jawa Barat tahun 2010”, terang Fiersha menceritakan beberapa pengalaman prestasi diluar bidang akademik.

Fiersha dapat mendengarkan dan merasakan suara-suara dan nada-nada irama musik. Seni musik  sudah menyatu dalam tubuh dan menjadi bagian hidup Fiersha. “Saya sekarang fokus beresin kuliah dulu, sesekali menerima panggilan bernyanyi. Setelah beres kuliah, kembali fokus di musik mau itu sebagai solois atau bentuk sebuah band. Selain itu ingin menjadi guru musik juga. Masih di musik-musik juga. Minta Doanya ya”, pungkas Fiersha.

Fiersha Di Mata Sang Mama Ace Amalia

 Beruntung Fiersha dalam keterbatasan penglihatan, memiliki keluarga yang mendukung sepenuh hati, tak ada rasa malu bahkan tak ada perlakuan ketidakadilan. Itulah  Rama Hadi ayah Fiersha, Yahyu adik Fiersha dan Ace Amalia. Diluar sana masih banyak keluarga terutama orang tua yang menelantarkan anaknya jika memiliki anak berkebutuhan khusus.

 “Sebetulnya kalau orang tua menelantarkan ana berarti itu orang yang nggak bertanggung jawab dan enggak tau agama,”ucap Ace Amalia kepada solider, Minggu (11/10) usai acara peringatan Hari Penglihatan sedunia di Auditorium Pendidikan RS UNPAD.           

 Dia menjelaskan, sama-sama saling menerimakan keadaan, anak menjalani keterbatasan dan ibu memiliki anak dengan keterbatasan. Seorang ibu harus memperlihatkan bahwa mengurus anak berkebutuhan khusus (ABK) itu tanggung jawab yang harus dijalani. Bagaimana orang melihat ABK tidak dicemoohkan,dihina, dan tidak menjadi belas kasihan.

 “Menerima takdir, ini bukan kehendak kita. Kita sebetulnya spesial dong, yang terpilih Fiersha maupun saya untuk mengemban tugas ini. Kita dikasih kemampuan, manusia itu sama, punya kelebihan dan kekurangan. Banyak orang yang bilang hebat ya mama Fiersha, kewajiban seorang ibu ya harus begitu. Siapapun punya anak ABK harus maksimal dengan kemampuan, saya hanya punya tenaga dan semangat. Itu kuncinya. Hasil hari ini semua step by step, selama kita mau berusaha, semangat pasti ada jalan”, pungkas Ace. (Zulhamka Julianto Kadir)

The subscriber's email address.