Lompat ke isi utama
 Pat Rix, Art Director Tutti Arts Australia, ketika membuka pameran Shedding Light Tutti Art-Perspektif di Kerry Parker Civic Gallery, University South of Australia, Adelaide. Foto: Pavlos

Komunitas “Perspektif” Jalin Kerja Sama Indonesia-Australia dengan Karya Seni Difabel

 

MATAHARI belum juga menanggalkan cahayanya, meski waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 di Adelaide, Australia. Sore itu, Kamis 17 September 2015, dalam balutan hawa dingin musim Spring, beberapa orang bergegas memasuki Kerry Parker Civic Gallery, Hawke Building, di Universitas South Australia, Adelaide.

 Mereka memang tidak sedang hendak mengikuti perkuliahan, tetapi akan menghadiri pembukaaan pameran seni rupa The Story Behind Shedding Light yang diselenggarakan dalam kaitan perhelatan Festival Oz Asia di Adelaide, yang diadakan 24 September sampai 4 Oktober 2015.

Beberapa karya tujuh anak difabel dari Yogyakarta yang tergabung dalam Komunitas Perspektif ditampilkan pada acara itu dengan tetap eksplorasi karya “Titik” yang dituangkan pada kanvas.  Sedangkan pada acara yang berlangsung di galeri utama Festival Oz Asia, di pusat kota Adelaide, Perspektif menggelar karya “Titik” dalam berbagai bentuk yang didisplay pada sebuah tempat mirip gerobak angkringan di Yogyakarta.

Profesor Anton Lucas dari Flinders University, mengatakan, kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam mengangkat seni rupa karya difabel seperti yang terjadi sore itu, merupakan suatu hal yang sangat istimewa. Dia berharap di hadapan seratus tamu, kerja sama semacam itu akan terus berlangsung sampai kapan pun dalam upaya untuk mengenalkan aneka karya seni rupa yang dihasilkan para difabel dua negara. Hal tersebut diwujudkan dengan karyanyata penguatan difabel di dua kota berbeda yaitu di Adelaide dan Yogyakarta.  

Setiap manusia punya potensi

Komunitas Perspektif hadir atas undangan Tutti Art, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang humanisme dan penguatan potensi difabel dalam berkarya seni. Pat Rix, selaku Art Director of Tutti Art Australia, mengatakan, pihaknya merasa sangat berbahagia karena keikutsertaan Perspektif dalam festival seni terbesar di Australia itu. Kerja sama antara Tutti Art dan Perspektif yang sudah terjalin selama setahun terakhir ini, menurut Pat Rix, adalah suatu hal yang sangat istimewa dan tentu saja kedua belah pihak akan terus melestarikannya.

Sementara itu, Sri Hartaning Sih, selaku Koordinator Perspektif Yogyakarta, dalam kesempatan sama mengatakan, setiap orang mampu mengekspresikan diri melalui karya seni. Tidak ada istilah berbakat atau tidak berbakat, pintar atau bodoh, bagus atau jelek, mampu atau tidak mampu. Sebagai komunitas, Perspektif bergerak berdasar azas kebersamaan, paseduluran, yang terjalin antara para anggota, kedua orangtua mereka, fasilitator dan core team.

Aneka karya yang ditampilkan dalam pameran itu menggunakan berbagai media. Ada film, video, animasi dan mixed media. Salah satu anggota Perspektif, Laksmayshita, akan menggelar performance art selama delapan hari berturut-turut. Shita, sebagai (deaf) menampilkan karya gerak tubuh yang menjelaskan makna hidup, tidak saja sebagai difabel, namun juga berkisah tentang bagaimana seorang manusia mulai dari sejak dilahirkan sampai mendapat banyak pengetahuan hingga dewasa. Dalam pergelaran ini, Shita akan mengenakan pakaian serba putih, dan melakukan gerak tubuh dengan mengeksplorasi “Titik” menggunakan cat warna-warni.

The subscriber's email address.