Lompat ke isi utama
Ratna Fitriani di sesi inklusi.

Pemenuhan Fasilitas Difabel Baru Sebatas Hambatan Gerak Di Sekolah Umum

Solider.or.id-Bandung, Australia’s Education Partnership with Indonesia mengadakan pelatihan dan penyegaran Field Monitor (FM) tahun Anggaran 2015, School System and Quality (SSQ), komponen satu pada 7-12 September 2015 di InterContinental Hotel, Jalan Dago Pakar Resort 2B, Bandung. SSQ Komponen satu merekrut dan menugaskan FM untuk memonitor dan melaporkan proses dan kemajuan konstruksi pembangunan sekolah. Salah satu program terbesar dan secara global didukung pemerintah Australia. 

Dalam upaya peningkatan SSQ melalui 4 komponen di antaranya; Pertama, pembangunan lebih 1500 sekolah dengan fasilitas akses difabel, periode kerjasama 2011-2016. Kedua, peningkatan kapasitas tenaga professional pendidikan untuk kepala sekolah, pengawas dan staf dinas pendidikan menjangkau 250 kabupaten Indonesia. Ketiga pengembangan 1500 madrasah melalui program akreditasi. Ke empat , kajian menyediakan data dan analisis yang kuat bagi pengambilan kebijakan.

 “Sekolah yang kita bangun menyediakan sarana infrastruktur yang aksesibel bagi siswa difabel. Meskipun kami sadar betul, saat ini baru kami lakukan masih terbatas pada difabel fisik. Karena baru membangun bidang miring, selasar penghubung dan toilet aksesibel,” jelas Ratna Fitriani, Social Inclusion Adviser usai sesi social inclusion, Rabu (09/09).

            Hal-hal untuk difabel lain memang belum terpenuhi, misalnya fasilitas guiding block untuk difabel hambatan penglihatan. “Setidaknya ini merupakan langkah awal untuk memulai, memastikan bahwa kita memang mendorong anak-anak difabel itu bisa bersekolah di sekolah umum”, ungkap Ratna.

Dia menambahkann, isu difabel itu cross cutting issue, harus ditangani semua komponen. SSQ memastikan pembangunan sekolah itu harus sesuai. “Ada kriteria dan aturannya seperti berapa kemiringan ramp (bidang miring), kita pastikan semua sesuai. Lalu toilet harus ada closed duduk, ukuran pintu bagaimana, ada pegangan, itu semua ada dalam tim teknis. Sekali lagi kami sadar itu saja tidak cukup,” pungkas Ratna.

“Bulan Agustus lalu, kami juga baru meluncurkan pilot project modeling pendidikan inklusif di madrasah, menjangkau 20 madrasah di 5 provinsi; Banten, NTB, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Mitra kami, Madrasah Development Center bekerja sama dengan Organisasi Difabel, Sekolah Luar Biasa dan Perguruan Tinggi sebagai pusat sumber,” tutup Ratna. (Zulhamka Julianto Kadir)

 

The subscriber's email address.