Lompat ke isi utama
Perjalalnan umrah Safrina .

Sebuah Catatan Perjalanan Umrah

 

Oleh: Safrina Rofasita

Sebelumnya  tak ada  bayangan sedikitpun tentang kota  suci  Mekkah  itu  seperti  apa.  Apakah  kota  tersebut ramah dengan  difabel  seperti  saya  penyandang  Cerebral  Palsy? Maklumlah,  ini  perjalanan  saya  pertama  kali  ke  Mekkah,  sekaligus  ke  luar negeri.          

            Sebelas  jam  penerbangan  dari  Jakarta  ke  Jeddah, dan sepanjang penerbangan yang kulihat hanya awan dan laut membiru di bawahnya. Rasanya cukup  melelahkan bagi  saya, tetapi  bagaimanapun  saya  harus bersyukur dan merasa  senang  agar tidak membuat fisik saya semakin lelah.

             Saat  turun dari pesawat  di  bandara  King  Abdul Aziz Jedah, melalui  kaca  pintu  keluar  saya  melihat ada jamaah  yang  berkursi  roda,  mereka  turun  dari  pintu  depan  yang  disediakan  khusus  agar  tidak  berdesak-desakan dengan penumpang umum. Memang mereka kebanyakan  usia lanjut.        Di Jeddah kami sudah  ditunggu  oleh  seseorang  sebagai ketua  rombongan  yang  bertindak  sebagai  ustaz  sekaligus  guide. Ustazz  tersebut  akan  mendampingi  kami selama empat hari berada  di Mekkah, dan  nantinya  ke kota  Madinnah  pada hari  kelima dan seterusnya. 

Dari  Jeddah,  perjalanan  dilanjutkan  dengan  menggunakan bis  menuju  kota Mekkah. Saat  itu jam  baru  menunjukkan  pukul  19.00 waktu Jeddah dan tubuh ini sudah  benar-benar  lelah. Selisih waktu Indonesia-Arab Saudi empat jam, yang berarti  di  Indonesia  sudah  pukul 23.00 WIB. Padahal saat  keberangkatan dari  bandara  Internasional  Soekarno Hatta  Jakarta pesawat  take off  pukul 11.00 WIB. Sedangkan berangkat  dari  rumah  tempat  saya  menginap  di Jakarta  ke bandara  pukul  04.30  WIB.  Mata  rasanya  seperti  ada perekatnya,  penjelasan ustaz yang  panjang lebar di perjalanan  menuju Mekkah bak  dongeng  sebelum  tidur berlalu  begitu  saja. Hanya saja sekilas saya masih  mendengar  saat ustazz itu bertanya kepada jamaah, siapa  yang  membutuhkan  kursi  roda,  Hotel tempat  menginap menyediakan kursi roda  secara  gratis. Sayang,  saya  tidak  menanggapinya. 

 

Seperti bumerang

Setibanya  di Hotel tempat menginap di Mekkah,  waktu  telah  menunjukkan  pukul 02.00  dini  hari  waktu  Mekkah. Dari  Biro Perjalanan umrah, saat itu juga  harus  langsung  melaksanakan umrah  wajib karena sudah mikod membaca niat ibadah umrah di pesawat sebelum sampai Jedah.

 Memang sejak dari Jakarta kami sudah mengenakan pakaian ikhrom. Alhamdulillah di  perjalanan  menuju  Mekkah,  saya  tertidur  pulas.  Saat  terbangun   fisik  saya  sudah  kembali  fit, oleh karena itu,  saya  merasa  mampu  untuk melaksanakan umrah wajib  tanpa perlu  meminjam  kursi  roda hotel.  Toh, dalam hati  saya  berkata,  hanya  ada  tiga  aktivitas  yang  dilakukan  dalam umrah yaitu: mengelilingi  Kabah  atau  thawaf  sebanyak  tujuh  kali; Sai  atau  berlari-lari  kecil  dari  bukit Shafa  ke  bukit  Marwa  yang  berjarak  kurang  lebih berjarak  400  meter,  bolak-balik  sebanyak  tujuh  kali  seperti yang dilakukan  oleh Siti Hajar saat  mencari mata air untuk minum anaknya Nabi  Ismail AS.; Dan  yang terahkir  adalah  potong  rambut  atau  yang dinamai dengan  Thalallul.

Kata  ’hanya’ itu  terucap  dalam hati  saya,  bak bumerang bagi diri saya, seperti  halnya  saat  orang  menyepelekan  orang  lain,  dan  orang  tersebut  dapat dipastikan  akan terkena  batunya.  Thawaf,  terlampaui  dengan  baik. Saya dapat  menyelesaikannya  tujuh  kali  putaran.  Waktunya sa’i,  mungkin  orang  sependapat  dengan saya  bahwa  sai  mudah  dilakukan  hanya  berjalan mondar-mandir  tujuh  kali,  tapi  diluar dugaan,   baru  tiga  kali saya  melakukannya  sudah merasakan  kelelahan. Masih  tersisa  empat  kali sai  lagi.  Saya  ingin  menyewa  kursi roda  saja. Sayang,  kursi  roda yang disewakan di sana terlalu  mahal buat  saya. Saya mencoba berjalan  lagi. Melihat   rombongan  saya   sudah selesai,  dan mulai  bubar  sendiri-sendiri, saya  mulai  panik, mencari ustaz d itengah  kerumunan yang penuh sesak tampaknya tidak memungkinkan. Rupa ustaz pun belum  saya kenali benar. Saat itu keburu adzan subuh, ahkirnya  saya  memutuskan  untuk  memotong  rambut. Selepas sholat subuh terus  kembali  ke  hotel.

Setelah sampai di Hotel peristiwa itu saya ceritakan kepada ustaz, ternyata memotong  rambut  sebelum  sa’i-nya sempurna,  merupakan  pelanggaran besar. Hal itu dikarenakan  dianggap melanggar rukun, oleh karenanya sebagai  hukumannya  harus  membayar  dam atau denda. Denda  untuk  pelanggaran  besar adalah  menyembelih  satu  ekor  kambing. Saya terkejut,  dan  mencoba mencari-cari  alasan agar  terhindar dari  dam.  Saya ingat bila   di dalam negeri, alasan  yang  paling ampuh, yaitu  dengan  mengatakan  bahwa ”Saya  kan  difabel.’’  orang  pasti  akan  memakluminya. Tetapi tidak demikian  dengan  syaratnya rukun, rukun itu harus dilaksanakan, bila tidak dikerjakan kena dam.

Hal  itu juga didukung oleh aksesbilitas   di Masjidilharam  untuk difabel tersedia, kursi  roda  baik  yang  berasal dari hotel maupun  yang  sengaja  dibawa  dari negara  asal boleh  masuk. Bahkan, di dalam masjid ada  oknum yang  menyewakan kursi roda. Tidak hanya kusi roda, bahkan di tempat mengambil  wudhu difabel  maupun  non-difabel  tidak  dihantui ketakutan terpeleset, dikarenakan sudah didisain senyaman mungkin dengan  adanya  tempat  duduk.  Masjid Haram demikian orang menyebutnya, adalah masjid bersusun terdiri atas beberapa lantai, memang tidak  tersedia lift, melainkan tangga  berjalan  dan  tangga  biasa.  Hanya  saja  hal  itu  tidak  menjadi  masalah ,karena  setiap  lantai  memiliki  fasilitas  yang  sama: tempat  thawaf, sa’i,  sholat,  dan  lain  sebagainya. Untuk umrah selanjutnya harus ke luar Mekah untuk mikod dengan niat umrah sunnah.    

Pada hari ke lima rombongan berangkat ke Madinah dengan menggunakan bis dengan menempuh jarak sekitar 400 KM. Setibanya di Madinnah  kami  langsung ke masjid  Nabawi. Tidak  jauh  berbeda  dengan  Masjidiharam,  masjid  tersebut  juga aksesibel terhadap  pengguna kursi  roda.  Hal  ini  terlihat dengan tersedianya  ram  di  pintu  masjid.  Selain itu,  di  masjid  Nabawi  di mana  terdapat  makam  Nabi  Muhammad  SAW. Di antara  makam Nabi dan  mibramnya merupakan  tempat  yang  ijabah  yang  disebut Raudhah.  Setiap  perempuan yang  hendak  memasuki  Raudhah  harus  mengantri  pada  jam-jam tertentu  karena  Raudhah  terletak  di tempat sholat kaum  laki-laki. Di sinilah  perempuan  pengguna  kursi roda  mendapat  keistimewaan,  yaitu dapat  mengantri  tepat di depan  makam  Rasul  tanpa  harus  berpindah-pindah.

Sembilan  hari  sudah  saya  berada  di  negeri  orang,  dan sudah  waktunya    untuk  kembali.  Dari  perjalanan  yang  singkat  itu,  ahkirnya  saya  mengerti  adanya  rukshoh—kemudahan-kemudahan dalam beribadah,  tidak  menjadikan difabel  jauh  dari  rumah Tuhan nya, melainkan  rukshoh menunjukkan kasih sayang Tuhan pada hambaNya  yang  akan  mendekat,  salah  satunya  aksesibilitas  di  rumah  Tuhan.   

Penulis adalah GTT SLB Yapenas, Mahasiswa S2 Bimbingan Konseling Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan pengurus Wahana Keluarga Cerebral Palsy.

The subscriber's email address.