Lompat ke isi utama
Bapel Jamkesus berbicara tentang Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus)

Sosialisasi Kurang Maksimal, Difabel Kota Yogyakarta Tidak Paham Jamkesus

Solider.or.id, Yogyakarta- Komunitas Penyandang Disabilitas (KPD) Kota Yogyakarta berdiskusi perihal Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) di Gedung PP Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta pada Rabu (19/8). Diskusi ini diselenggarakan bekerja sama dengan Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Muhammadiyah.

Siti Saadah, Ketua penyelenggara diskusi mengatakan bahwa banyak difabel yang tidak paham tentang Jamkesus dan bagaimana mendaftar sebagai  peserta. Hal itu yang melatarbelakangi diskusi tersebut diseleggarakan.

“Kami  sangat bersyukur dan mendorong terhadap upaya Pemerintah Kota (Pemkot)  Yogyakarta  dalam memperhatikan difabel.  Salah satunya  masalah Jamkesus. Namun, kami  ini   tidak  tahu  apa itu Jamkesus,  bagaimana mengakses, bagaimana  cara menjadi peserta dan harus menghubungi siapa?” ungkapan pertanyaan Siti memantik diskusi.

Berbagai Masalah pada Jamkesus

Jaminan Kesehatan  yang sudah sejak tahun 2013 dicanangkan, hingga saat  ini masih simpang siur dalam  pendataan dan kepesertaan. Peserta diskusi membahas mengenai sosialisasi yang tidak sampai pada sasaran, dan pendataan yang tidak profesional.

Menanggapi hal  tersebut, Kepala Badan Pelayanan  (Bapel)  Jamkes,  Elvie  Effendy  mengatakan bahwa  sosialisasi  tentang Jaminan   Kesehatan  telah dilakukan berkali-kali  sejak  awal  diluncurkannya, yaitu sejak Tahun  2013.

Masalah  yang terjadi pada  kepesertaan  Jamkesus  adalah, belum semua  difabel bernomor Induk Kependudukan (nIK). Selain itu, dari  hasil pembaruan data nama yang terdapat daftar nama-nama  yang  bukan  nama sebenarnya, hanya  nama panggilan.

“Proses  update atau pembenahan  data  terus dilakukan,  hal tersebut untuk  meghindari  terjadinya dobel  kartu  kepesertaan,” ujar Sekretaris  Dinas Sosial  DIY,  Endang.

Cukup dengan KTP

Menurut Endang, sebanyak  255.170 orang terdaftar sebagai peserta Jamkesus tahun 2014. Dan pada  tahun 2015 terdaftar 26.656 orang peserta. Ia memberikan perincian Kabupaten bantul: 5.726 orang, Sleman: 6.726 orang, Kulon Progo: 6.354 orang, Gunung Kidul: 8.157 orang, serta kota Yogyakarta: 1.864 orang.

“Pagi  hari  ini, Rabu (19/8) Surat  Keputusan (SK) Kepesertaan Jamkesuss  sudah  turun,  masih  di biro  hukum Pemda DIY,” lanjutnya.

“Berikutnya akan  segera disosialisasikan daftar nama—nama peserta Jamkesus  yang  terdapat dalam SK tersebut. Daftar nama-nama peserta, lebih lanjut dapat dilihat di Dinas Sosial masing-masing Kabupaten dan Kota. Apabila terdapat nama-nama yang belum tercatat, segeralah melaporkan ke Dinsos wilayah masing-masing untuk  segera  diverifikasi kembali,” ujar Endang.

 “Bagi yang belum tercatat dalam SK, asalkan berdomisili dan ber KTP di DIY, cukup   dengan menunjukkan  Kartu Tanda  Penduduk  (KTP), maka semua warga DIY dapat mengakses layanan  kesehatan dan alat bantu kesehatan,” imbau Elvie Effendi.

The subscriber's email address.