Lompat ke isi utama
Perpustakaan YPAC Prof. Dr. Soeharso

Aku, Buku, dan Akses Perpustakaan

Tentang difabel dan aksesnya dalam membaca buku

Bayu namanya. Dia siswa kelas 6 SLB YPAC Prof Soeharso Surakarta. Siang yang terik di hari Jum'at itu Bayu saya temui tengah duduk di ruang perpustakaan sekolah. Dia tidak sendirian. Di depannya dua orang perempuan tengah bercakap pelan. Perempuan dengan senyum ramah berambut seleher adalah petugas perpustakaan, dan satunya seorang ibu guru. Di depan guru tersebut terdapat meja yang di atasnya tergelar koran harian. Dia bercakap sambil membaca koran.

Bayu terlihat memegang gawai miliknya, berbentuk tablet 7 inchi. Beberapa menit kemudian tampak dia  membuka tas untuk mengambil pengisi batere dan mencolokkan alat itu di ke aliran listrik yang berada tepat di dekatnya. Rupanya Bayu datang ke perpustakaan hanya menumpang untuk mengisi batere tabletnya. Setidaknya itulah yang terlihat oleh mata saya selama lebih dari tiga puluh menit berada di ruangan itu.

Semula saya berasumsi Bayu adalah siswa dengan hambatan wicara dan pendengaran. Karena dua kali pertanyaan saya tidak segera dijawab olehnya, sampai kemudian pertanyaan ketiga dijawabnya dengan jelas. “Namaku Bayu. Aku kelas 6 SD,”jawab Bayu. “Kamu tidak meminjam buku lalu membacanya?”tanya saya yang dijawab dengan gelengan kepala.

Hari itu saya bermaksud hendak menemui Sugian Noor, kepala perpustakaan YPAC Prof. Soeharso Surakarta. Setelah menunggu di dalam ruangan  tak lebih dari lima menit, datanglah Sugian Noor yang juga Pembina YPAC Solo Percussion. Sugian Noor berkursi roda. Ramp atau bidang miring yang membantu difabel daksa menuju gedung dengan tangga di ruang perpustakaan YPAC akses karena memiliki kemiringan sudut yang sesuai. Berbeda dengan ramp di aula, di tempat yang sama, kompleks YPAC Prof. Dr Soeharso. Ramp di tempat biasanya dipergunakan untuk kegiatan perjamuan tersebut sudut kemiringannya sangat curam.   

Sugian Noor mengatakan bahwa minat baca anak-anak berkurang. Untuk mengatasi hal tersebut pihaknya pernah membuat gebrakan berupa pemberian hadiah bagi siapa saja siswa yang meminjam  buku hingga lima kali berturut-turut. “Tapi begitu program itu habis, ya selesai begitu saja. Perpustakaan kembali sepi,” terang Sugian.

Perpustakaan YPAC Prof. Dr Soeharso adalah perpustakaan umum. Pada bertahun-tahun lalu banyak mahasiswa yang ingin mencari referensi lalu berkunjung. Namun makin ke sini pengunjungnya sangat berkurang. “Apalagi zaman kini sudah beralih ke gadget. Jadi yaah…diterima saja,”jelas laki-laki berputra dua dan telah mengabdi lebih dari 20 tahun di YPAC. 

Perpustakaan yang buka setiap hari hingga pukul 13.00 WIB ini juga pernah membuat program penulisan sinopsis buku. Para siswa sangat antusias waktu itu, tetapi seiring berjalannya waktu ruangan yang berbentuk persegi panjang dengan luas tak lebih dari 50 meter tersebut kembali sepi peminat.

“Kalau di jam-jam sekolah anak-anak meminjam buku pendamping, itu pun pasti karena tugas dari guru. Kalau guru berkunjung pasti berkenaan dengan pelajaran. Sampai kemudian perpustakaan YPAC membuat stiker berisi slogan dan kami bagi-bagikan. Slogan tersebut berbunyi, “Mau pinter, dan bukan kuper? Baca bukuuuu…,”papar Sugian Noor.

Perpustakaan merupakan organisasi nirlaba dan dari  yayasan tidak ada dana untuk belanja buku, makayayasan pernah berinisiatif mengedarkan surat untuk permohonan buku ke instansi. “Namun itu tidak saya lakukan. Apalah, karena perpustakaan juga semakin sepi pengunjung. Beberapa orangtua siswa ada yang memiliki jadwal berkunjung, namun mereka hanya beralih tempat untuk me-rumpi sambil sesekali baca buku.” Beberapa buku adalah koleksi lama seperti biografi, kamus, novel serta pengetahuan umum.  Sebagian lagi buku pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Di atas rak-rak buku berderet piala-piala penghargaan untuk para siswa YPAC Prof. Soeharso. “Piala-piala tersebut kejuaraan lomba bermain musik oleh anak-anak kami,”terang Sugian Noor.  

Tentang sepinya minat baca, Sugian Noor melihat gejala ini pun juga tampak di perpustakaan kampung. Banyak perpustakaan desa yang ruangannya beralih fungsi. “Dan bagaimana nasib buku-bukunya, saya tidak mengetahui,”jelas laki-laki yang mengalami difabilitas sejak kelas 6 Sekolah Dasar.

 

Aksesibilitas Perpustakaan Bagi Difabel Netra

Sementara itu saya melakukan wawancara dengan Agatha, seorang difabel netra pegiat Forum Komunikasi Tuna Netra (FKTN) Surakarta. Agatha, lulusan S1 Fakultas Sastra Indonesia UNS Sebelas Maret mengalami hambatan penglihatan total sejak kuliah. Agatha belum pernah mengakses perpustakaan umum atau daerah yang dimiliki oleh pemerintah kota Surakarta.

“Mungkin karena selama ini kami belum pernah mendengar ada perpustakaan yang menyediakan buku berhuruf Braille, maka biasanya teman-teman mem-Braille-kan atau mengaudiokan buku-buku cetak secara mandiri. Atau pesan ke Mitra Netra dan BPBI di Jakarta dan Bandung,”terang Agatha.

Hal sama juga dikatakan oleh Wahyu Setiawan siswa kelas XII IPS 5 SMA Negeri 8 Surakarta. Di perpustakaan sekolahnya tidak ada buku-buku ber-Braille. Jika ingin mengakses buku di perpustakaan, maka yang dilakukannya adalah dengan meminjam lalu di-scan di rumah kemudian diubah dalam bentuk TXT lalu disimpan di kartu memori ponsel atau laptop. Beberapa aplikasi dalam ponsel terbukti ramah difabilitas. Baru kemudian naskah itu bisa dibaca. “Untuk komputer dengan program Jaws selama ini saya belum tahu apakah sekolah memiliki fasilitas tersebut atau tidak,”ungkap siswa difabel netra yang berprestasi dalam olah raga catur tersebut.

Dalam sebuah rubrik Telemaya berjudul “Tunanetra: Dalam Bimbingan Suara” Kompas Minggu (9/8/2015) ada kutipan yang menyebut bahwa “Pakar media sosial,  Nukman Luthfie mengatakan, belakangan ini memang muncul kecendurungan gerakan sosial membantu kelompok disabilitas untuk menikmati teknologi komunikasi. Dalam hal ini telepon pintar. Dananya bisa bersumber dari tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan atau pribadi. Muncul kesadaran bahwa semua orang harus dapat menikmati teknologi” Namun pada kelanjutan artikel tersebut, Nukman mengatakan,”Jika aplikasi untuk para tunanetra maupun kelompok disabilitas lainnya tidak seprogresif aplikasi untuk orang kebanyakan. Ini karena yang berlaku hukum pasar. Oleh karena jumlah penyandang tunanetra jauh lebih kecil dari orang normal, jadi aplikasi bagi mereka pun lamban dikembangkan”.

The subscriber's email address.