Lompat ke isi utama
Siswa yang mendapatkan juara

Difabel Grahita Meraih Medali Emas untuk Yogyakarta

Solider.or.id, Yogyakarta- Atlet yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta mempersembahkan lima medali emas setelah berjuang dalam kompetisi Internasional Spesial Olypics World Summer Games ke-14 tahun 2015 yang diselenggarakan di Los Angeles Amerika Serikat.
Dari empat difabel grahita atlet Special Olympics Indonesia (SOIna) D.I Yogyakarta. Tiga medali emas diperoleh Dimas Prasetyo dari SLB N Pembina Giwangan di cabang olahraga Bulutangkis, untuk kategori tunggal putera, ganda putra dan ganda campuran. Sedangkan Yuni Nur Khazanah dari SLB N 1 Bantul meraih dua medali emas di cabang olahraga tenis meja untuk kategori tunggal puteri dan ganda campuran.
Selain kedua nama atlet di atas, atlet DIY yang juga terpilih untuk mewakili Indonesia adalah Rizal Fauzan Sabila dari SLB N 1 Jogja, dan Riza Novianto dari SLB Marsudi Putra 2 Pandak, Bantul, di cabang olahraga basket. Selama 50 hari menjalani pelatihan di Jakarta dari tanggal 1 Juni 2015, dan berangkat pada 21 Juli 2015 untuk mengikuti pertandingan Internasional tersebut mereka didampingi Sumaryani dosen FIK Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai pelatih.
Dalam kesempatan konferensi pers, Rejokirono selaku kepala sekolah SLB N Pembina, menuturkan selama di sekolah pihaknya sering melakukan pelatihan rutin. Tak hanya itu, pihaknya juga sering mengikutsertakan siswanya dalam beberapa kompetisi di tingkat kabupaten, ataupun provinsi dalam skala Nasional.
Ingin Terus Berprestasi
“Kami ingin anak-anak yang sekolah di SLB N Pembina ini terus berprestasi, bahkan sampai lulus. dan kami akan berupaya dengan dukungan keluarga dan elemen lainnya, agar siswa kami juga mudah dalam meraih prestasi di dunia kerja. Kalau ada ruang buat mereka saya rasa tidak ada yang tidak mungkin buat anak-anak seperti mereka,” tutur Rejokirono dalam sesi penyambutan kedatangan empat atlet di bandara Adisucipto pada Kamis malam (6/8.)
Muntadi, ayah dari Dimas Prasetyo mengatakan sejak kelas empat sekolah dasar Dimaz sudah mahir bermain bulu tangkis. Ia sering mendampingi Dimas untuk latihan bulutangkis setiap tiga kali dalam seminggu.
“Sebetulnya kan sukanya sepak bola, tapi kalau habis main bola suka luka-luka, kami jadi khawatir. Kemudian kita kasih satu set alat olahraga bulutangkis, lama-kelamaan Dimas jadi terbiasa dan suka,” kisah Muntadi ketika ditemui solider di ruang konferensi pers.[Andy R]

The subscriber's email address.