Lompat ke isi utama
Tampak depan lokasi Fanry Collection di Jalan Kaliurang, Yogyakarta

Dari Kulit Jadi Duit

Bagaimana Anda menikmati masa tua? Apakah berakhir di kursi goyang di siang hari, mengurusi tanaman hias di beranda rumah, atau  menjadi pengusaha pengrajin kulit yang menghasilkan omset selangit.

Di siang yang terik, Sabtu 1 Agustus 2015 pukul 13.00, dari sisi sebelah kiri Jalan Kaliurang Yogyakarta  kilometer 13.5, bangunan ruko yang menghadap ke arah timur itu terlihat sempit. Di atasnya menempel selembar spanduk  yang bertuliskan “Fanri Collection Kerajinan Kulit dan Kulit Ikan Pari.” Di beranda ruko terdapat etalase memanjang yang memajang warna-warni dompet, tas, sabuk dan perlengkapan pribadi lainnya.

Tepat di belakang etalase terdapat meja dan kursi. Di atas mejanya, bertumpuk buku agenda bersampul batik warna hijau dan biru, bolpoin  kartu nama, dan nota-nota pembayaran, sekilas seperti desain di sebuah ruang perkantoran. Berbeda lagi di tengah ruangan ruko, kursi dan meja lainnya tersusun rapih di tepian dinding berwarna hijau, seperti berada di ruang tamu keluarga dengan jajanan lebaran kemarin.

Di dalam ruko tidak terlihat satu orangpun si empunya yang duduk ataupun menunggui, hanya terdengar samar-samar suara mesin jahit beradu dengan suara Tape yang mendendangkan sebuah lagu campursari berjudul Sewu Kutha. Suara itu berasal di belakang ruko.

Tidak lama, muncul seorang laki-laki tua dari pintu belakang ruko, rambut dan janggutnya sudah memutih, memakai kacamata, memiliki pipi tirus, kulitnya mengendur, memakai kaos pendek warna abu-abu dan celana pendek warna hijau, kaki palsunya berwarna coklat kayu mengkilap. Di lehernya menggantung meteran kain, dan gunting di tangan kirinya.

 Namanya Sulaeman, lelaki berumur 61 tahun itu pemilik usaha home industri bernama Fanri Collection yang ia rintis selama 20 tahun. Penampilannya hampir mirip dengan almarhum pengusaha sukses Bob Sadino, bedanya, ia terlalu kurus.

Sulaeman berjalan menghampiri saya yang sedang melihat-lihat etalase, mengajak saya ke belakang ruko untuk menunjukkan tempat proses peroduksi kerajinannya dibuat. Kami melewati lorong sempit samping ruko.Ttepat di belakang ruko suara mesin jahit dan lagu itu terdengar semakin jelas di ruangan yang terlihat lebih luas.

“Dari kulit jadi duit nggak sulit. Proses saya 20 tahun lamanya membangun usaha kerajinan dari nol, hanya membutuhkan keuletan dan kesabaran dan banyak mengobrol dengan orang,” katanya, sembari berjalan menuju tempat produksi.

Bangunan Produksi itu belum dihaluskan, temboknya berwarna abu-abu semen yang masih berlapis semen dan pasir dan masih terasa kasar jika disentuh. Jendela-jendela tanpa kaca, dan sisa-sisa bahan kulit yang tidak terpakai bertebaran di laintai keramik berwarna putih. Terlihat orang-orang sibuk dengan mesin jahitnya, ada yang sedang mengepak hasil produksi, memotong-motong bahan kulit, mengecat bahan kulit dan aktivitas lainnya.

“Pak, Ada tamu orderan!,” pekik Sunarsih di luar ruang produksi, memanggil Sulaeman. Sunarsih terlihat lebih muda dari Sulaeman, selisih 18 tahun. Umurnya 43 tahun. Sunarsih memakai kerudung berwarna hijau, dengan pakaian daster bermotif bunga warna coklat itu adalah istri Sulaeman. Sulaiman mengenalkan saya pada salah satu pegawai sekaligus asistennya, kemudian pergi meninggalkan tempat duduknya, menghampiri tamu orderan tadi.

Berawal dari Yakkum

Saya duduk di antara para pegawai yang sedang sibuk. Rohman duduk tepat di depan saya. Ia memakai kaos berwarna merah, perut sedikit mengembung, rambut plontos, berbadan besar, memakai celana pendek berwarna hijau, bersandal jepit, kaki palsunya terlihat lebih kusam jika dibandingkan dengan kaki palsu yang dipakai Sulaeman.

Hampir sembilan tahun Rohman bekerja di Fanry Collection. Ia bekerja sebagai spesialisasi dalam pengolahan bahan produksi menjadi bentuk selembar kulit pari sapai distribusi produksi. Perkenalannya dengan Sulaeman berawal ketika ia mengikuti program magang di Yakkum sejak 1992. Begitu juga dengan keterampilan mengolah bahan menjadi barang layak pakai yang didapatnya selama magang di Yayasan Kristen untuk Kesejahteraan Umum (Yakkum). Namun, pada 2003 terjadi mutasi atau pengurangan peserta magang sebanyak 23 orang di Yakkum. Ia termasuk di dalam kelompok yang terkena mutasi.

“Semua berawal dari Yakkum, saya bertemu dengan Pak Sulaeman yang lebih dulu sudah di Yakkum, kemudian saya kena Mutasi dan akhirnya ikut sama Pak Sulaeman,” kisah Rohman, sembari menghisap rokok di tangannya.

“Kalau saya masuk di Pusat Rehabilitasi Yakkum pada awal tahun 1987-1994. Terus di tahun 1995 saya mulai membuka usaha Fanry ini. Pas Rohman kena mutasi dan nganggur, saya ajak dia untuk kerja di tempat saya,” sambung Sulaeman terkekeh, yang kembali bergabung dalam obrolan kami.

Dari awal, Sulaeman memiliki keinginan untuk mengelola usaha bersama difabel. Ia merasa kedekatannya selama berinteraksi dengan difabel lainnya di Yakkum menumbuhkan semangat dan tekad untuk membuat usaha kreatif. Rekruitmen yang dilakukannya berangkat dari satu orang, kemudian bertambah sampai sekarang menjadi 15 pegawai, 13 pegawai diantaranya difabel daksa dan tiga lainnya non difabel.

“Kalau dijumlah sudah banyak, tapi saya lupa. Sebagian keluar dan sudah ada yang membuat usaha ekonomi kreatif sendiri, saya bersyukur,” tutur Sulaeman, lelaki kelahiran kota Brebes itu.

 

 

Karena Fanry

Fanry Collection diambil dari nama kedua anaknya, Amri dan Fany. Dari usahanya Sulaeman yang terlihat tua itu bisa menyekolahkan kedua anaknya sampai perguruan tinggi. Omset yang didapatkan dari hasil produksi Fanry mencapai seratus juta rupiah  perbulannya.

“Lumayan mas, bisa untuk mencukupi keluarga. Kemarin ada temen bapak juga yang menawarkan tempat di bali, tapi bapak masih ragu, repot karena harus pindah ke sana.” tutur Sunarni, sembari menyodorkan minuman dan jajanan lebaran di tengah kami.

Fanry Collection memproduksi ragam kerajinan seperti tas, sabuk, dompet, dan perlengkapan pribadi lainnya. Bahan kulit yang dipakai juga beragam, mulai dari kulit ikan pari, kulit sapi, biawak, sampai kulit buaya.

“Kalau untuk kulit pari, pertama dari nelayan, nanti larinya ke pengepul untuk dipisahkan kulit dengan dagingnya, sampai proses pengepakkan sampai jadi bahan berbentuk selembaran kulit,” kata Rohman.

Ukuran sebuah produk kulit dihitung dari inci. Untuk ukuran dompet laki-laki biasanya membutuhkan lima inci kulit ikan pari, sedangkan untuk dompet perempuan memerlukan bahan kulit sekitar 8,5 inci. Satu kulit ikan pari bisa untuk membuat satu dompet. Harga yang ditawarkan dari hasil produksi tergantung dari model dan bahan kulit yang digunakan. Hasil produksi dengan harga tertinggi adalah produk yang dihasilkan dari kulit buaya.

 “Yang sulit dicari itu kulit buaya, untuk mendapatkan itu kita harus ada surat keterangan (SK), karena termasuk dalam hewan yang dilindungi. Harganya bisa sampai satu juta lebih dan untuk ukuran dompet cewek bisa dua kali lipat dari harga dompet cewek untuk satu produk,” kata Rohman.

Fanry Collection mendistribusikan produknya ke luar kota seperti Ciamis, Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan kota besar lainnya. Selain itu Fanry juga sering mengikuti pameran-pameran hasil kerajinan.

“Setelah pameran biasanya banyak orderan sampai kita biasanya kerja lemburan. Dan jaringan, itu penting untuk sebuah usaha memperlancar distribusinya. Iya kan Pak Le ?,” tambah Rohman sambil melirik Sulaeman yang sedang menjahit.

“Koe wis pengalaman, Man, (Kamu sudah punya pengalaman, Man)” sahut Sulaeman, terkekeh.

Para pegawai Fanry Collection mulai masuk kerja dari jam 08.00 Wib sampai jam 16.00 Wib, sore. Untuk pembagian kerja dibagi dua, ada sepsialisasi yang menangani kulit sapi dan spesialisasi kulit pari. Masing-masing mendapat bagian membuat produk yang berbeda-beda. Jika orderan sedang menumpuk, Sulaeman menginformasikan adanya kerja lemburan sampai larut malam.

Jam di dinding menunjukkan pukul 15.25 Wib. Kumandang adzan waktu shalat ashar sudah terdengar. Suara tape dihentikan, suara mesin jahit juga berhenti. Para pegawai menghentikan aktifitas dan bersiap-siap menunaikan shalat. Rohman pergi mengambil air wudhu dan diikuti pegawai lainnya. Selesai salat mereka kembali untuk membersihkan sisa-sisa kulit, kemudian pulang.

“Terima kasih atas kunjungannya mas, maaf kalau saya tidak banyak bicara dan lebih kelihatan banyak bekerja, Mas tahulah,” tuturnya menutup perjumpaan.[Andy R]

The subscriber's email address.