Lompat ke isi utama
Tanung Kunto Nugroho menjajakan dagangannya

Namanya Tanjung

Cerita tentang seorang kawan yang gigih berwirausaha dan mendobrak stigma 

Pagi jelang siang, bis yang saya tumpangi segera berhenti di depan masjid Danunegaran, Yogyakarta. Saya segera turun, menyeberang jalan Parangtritis menuju arah barat dan segera masuk ke gang kecil menuju asrama Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis). Saya berjanji bertemu dengan Tanjung Kunto Nugroho, salah satu kawan yang memiliki jiwa wirausaha yang besar.

Suasana di tempat ini sudah sepi dibanding hari biasanya. Kebetulan hari itu adalah hari libur bagi siswa yang bersekolah di yayasan ini. Saya mendengar keramaian kecil yang terletak di sekitar lincak atau bangku panjang, tempat para penghuni asrama bercengkrama dan menghabiskan waktu. Saya cukup mengenali suara-suara yang ada di tempat itu, rupanya beberapa kawan yang hari ini akan saya temui sudah ada di sana. Tak hanya itu, rupanya dalam kerumunan kecil itu, Tanjung sedang mempresentasikan dan mempromosikan beberapa barang dagangan yang pada hari itu ia bawa.

“Ini lho Mas, Mbak, aku bawa produk baru, cocok untuk lebaran, ada dodol salak, geplak salak dan  wajik salak, beberapa parfum yang biasa aku bawa juga masih ada, sari kurmanya juga masih, cocok untuk memulihkan stamina setelah puasa, buat menurunkan kolesterol juga bagus lho,” tutur Tanjung semangat mempromosikan barang dagangannya.

Pemuda ini memang biasa membawa banyak barang dagangan pada setiap pertemuan. Tas berukuran besar, dan beberapa ponsel beraplikasi talk – sebuah aplikasi yang memungkinkan difabel netra dapat mengoperasikan ponsel simbyan dengan mengubah tulisan di ponsel menjadi suara. Saat kami berbincang, beberapa kali ponselnya berdeering dan ia segera membaca pesan singkat yang ada di ponsel. Suara samar-samar aplikasi talk yang tertanam di beberapa ponselnya menjadi salah satu suara khas ketika kami sedang berbincang. Model ponsel yang ia miliki memang sudah ketinggalan zaman. Ponsel bersistem operasi simbyan menjadi barang yang cukup berharga bagi Tanjung.

“Sebentar ya mas, maklum ada banyak pesanan pulsa nih” ujarnya berkali-kali saat kami berbincang. “HP saya ini udah lama mas, sejak tahun 2006. Pernah jatuh, pernah rusak, tapi ya tetap saya pertahankan. Ini modal alat saya untuk berdagang pulsa mas”.

Pemuda ini memang cukup terkenal sebagai seroang wirausaha yang tangguh, ia cukup terampil untuk menjual suatu barang. Apapun ia jual, dari mulai pulsa elektrik, parfum, beberapa obat herbal, bahkan hingga beberapa makanan. Pernah juga suatu ketika ia menawarkan kepada saya beberapa baju dan tas untuk komputer jinjing.

Bangun Kepercayaan

Tanjung tak pernah khawatir kehilangan langganan pembeli. Ia selalu dicari-cari banyak orang di kalangan komunitas difabel netra. Kami selalu mencarinya ketika sedang ada suatu pertemuan  komunitas difabel netra. Tanjung memiliki beberapa pelanggan tetap untuk pulsa dan parfum yang ia jualkan. Sistem pembayaran yang mudah serta produk yang sangat beragam dengan harga yang murah mungkin menjadi  keunggulannya. Tanjung tak pernah merasa keberatan untuk dimintai tolong untuk mengisi pulsa kawan-kawan kami. Ia tak pernah takut banyak kawan yang mangkir dari hutang-hutang pengisian pulsa mereka. Ia memberi kemudahan bagi pelanggannya untuk membayar kapan saja ketika pelanggannya punya uang. Untuk membangun kepercayaan, Tanjung selalu membangun kesepakatan waktu pembayaran pada pelanggannya untuk membayar hutang-hutangnya.

“Biasanya banyak pelanggan saya yang hutang pulsa sampai banyak sekali, bahkan hingga ratusan ribu. Tapi saya ndak pernah khawatir mereka lari dan tak membayar. Wong ya mereka teman sendiri, mereka cukup tahu sendiri kok kapan mereka harus membayar hutang-hutang mereka,”

Saya sudah cukup lama mengenal pemuda ini, selain kami adalah sama-sama pengurus organisasi difabel netra di Yogyakarta,   kursus komputer bicara di sebuah lembaga sosial telah membuat kami semakin dekat. Waktu itu kami satu kelas dan saya cukup banyak mengenal kepribadiannya. ulet, telaten, dan percaya diri, mungkin itulah beberapa kesan yang terbangun di kepala saya atas sosok Tanjung.

“Awal mula berdagang itu tahun 2009, waktu itu saya masih sekolah. Saya mengawalinya dari berdagang pulsa. Waktu itu saya agak risau dengan masa depan saya. kebanyakan kawan difabel netra sudah memiliki bekal berupa keterampilan tertentu, sementara saya waktu itu belum punya keterampilan apapun. alasan lain karena pengaruh dari ajaran bahwa delapan dari sepuluh pintu rizqi adalah dari berdagang”.

Tanjung lahir dan besar di keluarga pedagang, jadi mungkin karena itulah ia sangat lihai dan berbakat untuk jadi seorang pedagang “Kebetulan orang tua saya juga berdagang jadi mungkin sudah bakat untuk berdagang.

Awal mula ketertarikan Tanjung untuk berdagang pulsa adalah dari rasa heran. “Saya heran dengan beberapa kawan difabel netra yang waktu itu bisa jualan pulsa. Saya terinspirsi dari situ dan saya mencari informasi dari berbagai sumber. Akhirnya saya di daftarkan untuk deposit pulsa melalui sistem downline”.

Tak hanya puas berdagang pulsa, sejak tahun 2011, Tanjung mulai merambah untuk berdagang produk-produk yang lain.

“Pada awalnya saya ketemu dengan orang baru dan kenalan baru kami saling ngobrol dan sebagainya. Kebetulan ada teman yang punya usaha pembuatan deterjen, sabun cuci piring dan sebagainya. Saya lantas diperkenalkan dengan komunitas yang sering memasarkan produk-produk tersebut. Saya jadi sering  ikut rapat-rapat di forum itu. dalam perjalanan waktu, saya tertarik untuk ikut memasarkan produk-produk mereka dan akhirnya saya dipercaya untuk memasarkan produk dan barang dia. Kebetulan saya juga punya saham di sana,”

Tanjung memulai itu semua tak memerlukan modal besar, “Cuma saling percaya saja,” tuturnya. Selain itu,  kebetulan mereka sama sekali tak mempersoalkan fakta kedifabelan pada diri Tanjung, “Saya tidak mengalami fase ketidakpercayaan dari mereka. kalau teman-teman yang sekumpulan  sih mereka malah salut dengan saya kalau teman-teman yang sebaya juga biasa-biasa aja, mereka bergaul dengan saya tanpa ada rasa canggung risih dan sebagainya”.

Beberapa produk yang Tanjung jual memang kebanyakan berasal dari kawan dan  kerabat yang percaya padanya, ia ambil barang tersebut dan kemudian ia jual kembali, “Pokoknya saya sebisa mungkin jadi resaler untuk beberapa produk mas seperti deterjen, sabun cuci piring,  beberapa produk obat-obatan herbal, parfum dan sebagainya”.

Agar produk yang ia jual semakin beragam, dengan bermodalkan kepercayaan diri, Tanjung tak segan mencari peluang dan mencari celah dari berbagai informasi yang didapat dari berbagai media. “Kadang-kadang beberapa produk yang saya jual itu juga berasal dari informasi di radio. Di radio kan kadang-kadang ada iklan produk yang memungkinkan kita untuk jadi reseller-nya. Biasanya mereka memberi nomor telepon seseorang yang bisa kita hubungi dan kita bisa jadi reseller-nya mas. Saya tertarik untuk jadi reseller itu,” tambah Tanjung.

Tanjung mengakui kadang-kadang saya juga masih merasa minder  juga, terutama kepada orang yang baru ia kenal. “Apakah mereka mau ya membeli produk saya, apakah mereka mau ya membeli produk saya. awalnya itu sangat dominan, namun perlahan saya mencoba menguranginya,” tutur Tanjung.

Kendala lain yang muncul adalah aspek transportasi. Saya biasanya mengantar barang ke pelanggan itu memang saya paskan, pas mau main, pas ada agenda organisasi dan sebagainya, jadi sekalian keluar biar sekalian juga ongkosnya.

“Kalau saya hanya keluar rumah untuk main atau menghadiri agenda organisasi thok ya saya rugi juga, harus ngeluarin ongkos. Makanya harus disiasati tiap ada pertemauan apa atau main kemana gitu ya saya harus bawa barang dagangan, siapa tahu laku terjual. Sekarang udah mending mas, semenjak ada transjogja ini cukup membantu. Dulu ketika belum ada ya lumayan juga mas, karena harus ganti-ganti bis dan harus bayar lagi,” ungkapnya

“Kebetulan selama saya menjalani usaha ini belum pernah ada komplain dari pelanggan, terutama untuk makanan dari aspek higienitas, produk rusak dan sebagainya, paling-paling komplain pelanggan pulsa yang belum masuk. itu wajar sih mas, karena pengaruh dari operatornya juga. Kalau untuk sabun, saya pernah minta masukan dari pelanggan. dulu pernah ada yang bilang kalau sabun itu busanya kurang, terlalu encer dan sebagainya. Akhirnya saya laporkan ke pertemuan tentang tanggapan konsumen  . Beberapa kawan justru senang dengan kritikan itu, hal ini justru semakin membuat sabun yang bersangkutan lebih bagus dan tak kalah dengan produk lain yang lebih terkenal sekalipun.

 Selain dipasarkan melalui berbagai pertemuan secara langsung dengan pelanggannya, Tanjung juga memiliki warung kecil di rumah. “di warung itu ada beberapa dagangan yang hampir sama dengan apa yang saya jual di kawan-kawan seperti beberapa obat-obat herbal, parfum dan ada pula beberapa produk madu. Kedepan saya juga akan mengembangkan loundry, kebetulan kerja sama dengan teman-teman juga. Dari aspek pengelolaan, kebetulan nanti saya yang pegang, termasuk operasionalnya, selain itu memang ada beberapa teman yang mensuport seperti mensuplai  deterjen untuk mencucinya, termasuk membeli beberapa alatnya. Ini adalah usaha bersama kami.

Biasa Saja

“Dari warung ini saya juga lebih banyak dikenal oleh tetangga sekitar mas, dulunya kan mereka tidak tau siapa saya dan tidak tahu bagaimana difabel netra itu. mereka sudah tau kemampuan saya, banyak orang awam yang belum tahu justru menganggap saya orang hebat, bisa bepergian, bisa jualan, bisa pakai HP dan sebagainya. Mereka sudah tidak memandang saya sebagai seorang difabel. Mereka memandang saya ya orang biasa saja seperti orang nondifabel,” tutur Tanjung, yang berencana membangun usaha binatu dengan kawan nondifabel.

Untuk mengidentifikasi uang pada saat transaksi, ia harus sering bertanya kepada orang nondifabel untuk menanyakan nominal uang yang ia pegang, namun untuk urusan kembalian, Tanjung telah memiliki trik agar ia dapat mengidentifikasi uang dan ia dapat memberi kembalian kepada pelanggan dengan cepat. Tanjung biasa mengelompokkan uang berdasarkan nominalnya. Untuk penyimpanan, ia memiliki dompet yang agak besar dan memiliki beberapa kantong penyimpanan, biasanya ia meletakkan uang di kantong-kantong dalam dompet tersebut berdasarkan besar nominal yang tertera di lembar uang tersebut.

Tanjung adalah salah satu contoh pemuda difabel netra yang ulet dan telaten untuk berdagang. Semangatnya untuk lebih bisa mamdiri membuatnya semakin menjadi karakter yang khas. Ia berani mendobrak stigma yang selama ini melekat pada difabilitasnya. (Ajiwan Arief)

The subscriber's email address.