Lompat ke isi utama
Hutan jati di desa Jatirejo

Rintisan Desa Inklusi: Beda Desa, Beda Kebutuhan

Solider.or.id, Yogyakarta – Hasil pemaparan tim asessment rintisan desa inklusi menunjukkan adanya keberagaman kondisi desa. Hal itu diungkapkan oleh Joni Yulianto saat ditemui disela-sela kegiatan pemaparan analisis aset dan tantangan pada setiap desa dampingan Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel  pada Jum’at (10/7)

Hasil pemaparan tim asessment tentang gambaran umum desa dampingan menunjukkan keragaman kondisi. Desa Sendangtirto misalnya memiliki kondisi geografis yang cukup strategis, letaknya yang berdekatan dengana Jalan Wonosari membuat desa ini menjadi salah satu desa dengan akses yang cukup mudah dan sudah banyak tersentuh modernisasi. Selain itu, desa ini merupakan salah satu desa yang memiliki banyak aset yang nantinya akan lebih mempermudah untuk terwujudnya desa inklusi. Adanya beberapa seekolah yang sudah mulai mau menerima difabel membuatnya merupakan modal tersendiri.

“Ada SMA Institut Indonesia yang sudah akan menuju sekolah inklusi, sudah ada siswa difabel yang sudah bisa tertangani dengan baik.  Terdapat lembaga SIGAB yang bisa mendorong adanya workshop bagaimana guru harus bisa menangani difabel. Beberapa lembaga pemerintah juga sangat mendukung terbentuknya organisasi difabel untuk dapat mengakomodasi kepentingan difabel,” ujar Bayu, tim assesor Desa Sendangtirto, Berbah, Sleman.

“Di desa Sendangtirto sudah ada dana standby, nama postingnya masih agak umum, yaitu dana kegiatan masyarakat. Hal ini bisa diakses untuk banyak kepentingan, termasuk jika nanti sudah terbentuk organisasi difabel, termasuk beberapa dukungan untuk kegiatan seperti ruangan, konsumsi dan sebagainya. Beberapa lembaga juga potensial untuk menjadi panyandang dana jika organisasi difabel di Sendangtirto ini terbentuk. Adanya CSR dari Angkasa pura untuk penanggulangan kemiskinan, dan keberadaan Kedai Digital  bisa diarahkan untuk mendukung kegiatan organisasi difabel di Senangtirto nantinya,” tambahnya.

 Sementara itu, desa Jatirejo yang memiliki bentuk geografis khas pedesaan dengan  hutan jati yang dominan serta kondisi jalan berbukit-bukit dengan jarak antar rumah yang agak jauh, membuat akses di desa ini sangat tidak ramah bagi  difabel. Pengetahuan masyarakat tentang difabel juga masih sangat minim.

“Banyak yang masih sangat awam dengan difabel. Garis besar penyebabnya karena memang belum ada difabel yang aktif di kalangan masyarakat Jatirejo dan menerangkan kebutuhan apa saja yang berbeda,” ungkap Brita, salah satu anggota tim asessment di desa Jatirejo saat memaparkan hasil temuannya.

Dalam asessment juga  masih ditemukan ada difabel yang tidak sekolah. “Persoalan lain yang muncul adalah masih adanya difabel paraplegi yang tidak mendapatkan jaminan kesehatan padahal ia sangat menginginkannya, namun ia juga masih belum terhubung dengan kawan difabel yang lain kegiatananya hanya menonton televisi saja di rumah jadi tidak tahu kalau ada organisasi difabel,” pungkas Brita. (Ajiwan Arief)

The subscriber's email address.