Lompat ke isi utama
Kekerasan pada anak. Sumber foto: motherandbaby.co.id

Kekerasan Terhadap Anak Akan Membekas Sepanjang Hidupnya

Solider.or.id, Surakarta-Kekerasan terhadap anak akan berpengaruh kelak sepanjang hidupnya. Di antara semua kekerasan yang terjadi, kasus terbanyak adalah kekerasan seksual. Di Indonesia  jumlah angka kekerasan pada anak yang dilaporkan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2007 sekitar 40 ribu lebih, peningkatan tiga kali lipat (dari kasus sebelumnya) 13 ribu kasus. Sedangkan kekerasan didominasi oleh sexual abuse sekitar 42-62% pada rentang waktu 2010-2014. Demikian yang dikatakan oleh Dr. Gusti Ayu Maharatih, Mkes SpKj (K) pada acara bimbingan dan penyuluhan dengan tema perlindungan anak terhadak kekerasan seksual di aula Indraloka Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta, Sabtu (23/5/2015).

Gusti Ayu Maharatih juga menyampaikan materi tentang penggolongan kekerasan terhadap anak serta dampak secara kognisi, emosi-perilaku dan sosial. “Pada anak laki-laki akan berakibat balik kasus physical abuse dan KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga-red) sedangkan bagi anak perempuan sering terganggu dalam relasi orangtua-anak,”papar dokter di bagian Psikiatri RS Dr. Moewardi ini.

 “Dengan memberikan anak-anak kendali pada proses terapi, seperti penjadwalan (kapan dan berapa lama mereka berbicara tentang abuse) atau dengan melakukan strategi menurunkan kecemasan seperti pelatihan relaksasi,” imbuh Gusti Ayu.

Pembekalan Pengetahuan tentang Tubuh

Pembekalan pengetahuan  yang dimaksud, dimulai dari pemahaman bahwa anak memiliki tubuh mereka dan dapat mengontrol akses ke tubuh mereka sendiri  untuk mencegah sexual abuse.  Upaya pembekalan lainnya yaitu pengetahuan bahwa pelaku pelecehan seksual bisa datang dari orang yang paling dekat. Pentingnya keterampilan orangtua melalui parenting dan pemberian dukungan adalah upaya pembekalan di dalam keluarga, selain peningkatan kualitas interaksi orangtua dan anak.

Pada anak dengan kasus sexual abuse, intervensi bisa dilakukan dengan mendorong anak untuk berekspresi perasaan dan pengalaman yang telah dilalui. Mengubah keyakinan yang salah dan hal-hal negatif seperti menyalahkan diri sendiri juga sama pentingnya dengan mengurangi perasaan terisolasi dan stigmatisasi.

Peran Guru dan Masyarakat

Di hadapan para peserta yang sebagian besar adalah pendidik, Gusti Ayu Maharatih menyampaikan bahwa pendidikan seks dasar pada anak, yang ditanamkan terlebih dahulu adalah rasa malu pada anak. “Mendidik anak-anak untuk menjaga kebersihan, lalu juga memisahkan tempat tidur mereka dan etika berhias dan tidak melakukan pergaulan bebas adalah pendidikan seks dasar yang penting diberikan kepada anak,”jelas Gusti Ayu Maharatih.

Selain Dr. Gusti Ayu Maharatih, Mkes SpKj (K), bimbingan dan penyuluhan juga menghadirkan pembicara lain Dra. Septi Indriyani, Psi. yang menyoroti tumbuh kembang anak. Pembicara lain, Cahyaning Kristiyanto, SH dari LBH ATMA berbicara tentang perlindungan dan pendampingan anak korban kekerasan seksual.  Di sela-sela acara diputar videografik berjudul “Si Geni” yang dirilis oleh UNICEF pada akhir tahun lalu. 

The subscriber's email address.