Lompat ke isi utama
sumber  foto: gerkatinsolo.or.id

Tantangan Bahasa Isyarat dalam Komunikasi Tuli

Solider.or.id, Yogyakarta- “Dalam kehidupan bermasyarakat, akses komunikasi tuli dengan orang dengar masih terbatas karena hambatan komunikasi. Tapi dengan perjuangan teman-teman tuli yang didukung teman-teman dengar, media, dan pihak lain, suara kami sudah mulai terdengar,” ungkap Adhi Kusumo Bharoto dalam dialog interaktif Radio Satunama 855 AM, Selasa (5/5). Kegiatan yang banyak didukung antara lain,  kegiatan pentas, dialog, Madre Angkringan Tuli, komunitas Deaf Art Community, kelas bahasa isyarat, dan program-program lainnya.”

Adhi mengatakan banyak orang berpikir bahasa isyarat di dunia itu sama, padahal tidak. Faktanya bahasa isyarat itu banyak dan bervariasi sama seperti bahasa lainnya, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Belanda, Bahasa Jepang, dll. “Tidak hanya 1 negara, tapi di daerah-daerah juga bervariasi, seperti Bahasa Isyarat Yogyakarta, Bahasa Isyarat Jakarta, Bahasa Isyarat Bali, dan lain-lain,” ungkap Adhi dalam bahasa isyarat.

Bahasa Isyarat Tidak Dibuat oleh Pihak Tertentu

Perbedaan bahasa isyarat tersebut dipengaruhi oleh faktor latar belakang sekolah, tempat, umur, keyakinan, dan lain-lain. Bahasa isyarat yang digunakan adalah bahasa isyarat di negara-negara sendiri, begitu juga daerah-daerah sendiri. Bahasa isyarat tumbuh dan berkembang secara alami dalam komunikasi tuli. Tuli berkumpul, di situ bahasa isyarat berkembang.

“Bahasa isyarat tidak dibuat seseorang atau pihak tertentu, bahasa isyarat tumbuh secara alami,” tambah laki-laki yang pernah menempuh studi di Hongkong ini. Adhi menambahkan, jika pendengar ingin belajar bahasa isyarat di Yogyakarta, dapat berkunjung ke Sekolah Semangat Tuli, Madre Angkringan Tuli, Identitas Kafe, dan Laboratorium Riset Bahasa Isyarat.

 “Tantangan utamanya masih banyak orang termasuk pemerintah yang belum menyadari keberadaan bahasa isyarat apalagi menyadari pentingnya bahasa isyarat sebagai identitas dan hak tuli,” tutur Adhi. 

Adhi juga meresahkan tentang belum banyaknya penelitian bahasa isyarat sehingga kedudukan bahasa isyarat sejajar dengan bahasa lisan belum diakui sepenuhnya di Indonesia.

Ia berharap pemerintah dan warga masyarakat menguatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan hak tuli. Menurut Adhi, pemenuhan tersebut dapat dilakukan melalui pelibatan tuli dalam kegiatan bernegera dan bermasyarakat, memperbanyak dialog dan kerja sama.

“Pemerintah perlu menggandeng komunitas tuli dalam implementasi Convention on the Rights of People with Disability (CRPD) dan mensosialisasikannya ke masyarakat,” pungkas Adhi. 

(Ramadhany Rahmi)

The subscriber's email address.