Lompat ke isi utama
Asean Paragames

Menuju Asean Para Games, 40 Difabel Cabang Olahraga Renang Ikuti Pelatnas

Solider.or.id, Surakarta - Menuju kejuaraan Asean Para Games di Singapura pada bulan Desember mendatang, sebanyak 40 difabel mengikuti pelatnas (Pelatihan Nasional) cabang olahraga renang di Kolam Renang Tirtomoyo Jebres, Surakarta.

Dimin, koordinator pelatih cabang olahraga renang saat ditemui solider (21/4) ditengah jadwal pelatihan menjelaskan bahwa bulan ini para atlet baru memasuki tahap peningkatan kondisi, setelah dua bulan sebelumnya berada pada tahap pemulihan kondisi. “Kesiapan sudah sekitar 80 persen.” Tutur lelaki yang tinggal di daerah Mojosongo, Kecamatan Jebres ini.

Paralympian (sebutan untuk atlet difabel.red) berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dengan jenis difabilitas yang berbeda-beda. “Tunarungu hanya diikutkan di kejuaraan tingkat nasional.” Jelas Dimin yang menyayangkan adanya perubahan pada nomor kelas pertandingan pada Kejuaraan Asean Para Games di Singapura kali ini. Menurutnya, bila nomor kelas yang diperlombakan sama dengan pertandingan di Myanmar pada 2013 lalu, Dimin menargetkan akan memboyong 35 medali emas namun, bila tidak ia hanya berharap dapat membawa 28-30 medali emas.

Dalam hal kemampuan, Dimin mengaku bahwa atlet difabel dan non difabel sebenarnya tidak jauh berbeda. Sayangnya, usai kejuaraan paralympian ini biasanya tidak lagi melakukan latihan karena hambatan pelatih dan fasilitas di daerah asal. “Atlet dari Maluku, Papua biasanya berlatih di sungai atau laut.”

“Lancar.” Komentar Ketut Sumita, salah satu paralympian dari Bali mengenai kendala selama berlatih. Ketut yang merupakan difabel netra mengaku menggunakan hitungan ayunan untuk menghitung jarak yang sudah ditempuh. “Misalnya, gaya dada biasanya 15 ayunan itu untuk 25 meter.” Tutur Ketut yang selama pelatihan tinggal di YSI (Yayasan Sejahtera Indonesia).

Kedatangan Kementrian Pendidikan, Pemuda dan Olahraga RI

Rombongan dari Kementrian Pendidikan, Pemuda dan Olahraga RI siang itu tengah melakukan pengambilan gambar atlet. Nyoman Winata menjelaskan salah satu alasan mereka mengunjungi paralympian yang sedang berlatih adalah untuk melakukan analisis terhadap efisiensi gerak mereka. “Sehari sebelumnya kita melakukan pemeriksaan kesehatan.” pungkasnya. (Amalina Niara)

The subscriber's email address.