Lompat ke isi utama
Aquatic Theraphy

“Kemandirian”, Kata Kunci Bagi Anak Autis

Solider.or.id, Surakarta- Kemandirian menjadi kata kunci bagi anak-anak autis. Demikian dikatakan oleh Tri Budi Santoso, seorang terapis okupasi pemilik Budi Center yang menyelenggarakan Pelatihan Aquatik Sensory Integration Pada Anak Berkebutuhan Khusus  di Hotel Kusuma Sahid, Jumat (10/4/2015). Di hadapan 28 peserta yang berasal dari Makasar, Balikpapan, Berau (Kalimantan Timur), DKI Jakarta dan Surakarta. 

“Kita mengacu kepada WHO, Life Participation. Ada life skill, ada komunikasi dua arah, dan interaksi sosial. Indonesia tidak ada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)  untuk anak-anak autis, Parkinson, Cerebral Palsy. Orang awam akan bilang kalau anak-anak berkebutuhan khusus tersebut hanya akan tinggal di rumah. Kita para terapis akan arahkan kemandirian,”tutur Tri Budi Santoso.

Pelatihan mengambil contoh dan testimoni dari orangtua autis yang diwakili oleh Agnes Widha, pegiat komunitas MPATI Solo. Agnes menyatakan bahwa banyak orangtua menuntut prestasi akademik tapi mengabaikan kemandirian. Dalam mendidik putranya, Elfram Gryffindor, Agnes membentuk  kemandirian dulu baru beralih ke prestasi akademik.

“Pertama adalah kematangan otot-otot dulu termasuk kelenturannya, kemudian menginjak kepada bina diri lalu life skill. Di sela membentuk kemandirian, kita masukkan terapi motorik halus dan kasar. Selama terapi, pada Elfram juga dilakukan home assasment berkala serta terapi perilaku dan Speech terapi. Juga dilakukan Drilling. Pernah bersekolah 1 tahun dan berhenti  selama 3 tahun dan terapi sendiri di rumah. Saat ini Elfram kembali bersekolah di SD,”tutur Agnes Widha.

Tri Budi Santoso mengatakan hal-hal yang dilakukan dalam mendidik anak autis adalah drilling, fundamental aspek dan kontekstual. Fundamental aspek meliputi bagian mana yang sangat perlu ditambahi perilakunya misalnya hiperaktifnya. Sedangkan kontekstual adalah mencari keserasian dan kecocokan pada anak autis, misalnya dia berbakat di mana.

Disinggung tentang pelatihan aquatic sensory integration, Tri Budi Santoso mengatakan bahwa fungsinya untuk mengintegrasikan sistem sensori.  Program ini efektif untuk anak dengan kondisi trauma, kondisi ortopedi, gangguan jaringan tulang dan otot, gangguan neuorologis, dan perkembangan  serta  gangguan pengolahan sensori. Bagi anak autis sistem sensori  akan bisa maksimal sesuai perkembangan anak dan  intinya untuk meningkatkan konsentrasi bermain, komunikasi dua arah dan perilaku adaptif. “Sehingga  jika tingkat konsentrasi anak meningkat nanti akan berpengaruh kepada interaksi sosial dan komunikasinya,”pungkasnya. 

The subscriber's email address.