Lompat ke isi utama
Maman (baju bergaris) dan Mira saat kunjungannya ke Kuala Lumpur akhir tahun lalu.

Maman Sulaeman: Ilustrator yang Senantiasa Bersyukur

Solider.or.id, Boyolali -Maman Sulaeman (40) menekun dan mencintai karirnya sebagai illustrator dan desain grafis. Saat diwawancara oleh Solider dia mengaku baru selesai mempelajari buku-buku yang akan dibuat illustrator. Dalam sebulan ke depan dia harus menyelesaikan gambar ilustrasi untuk 20 buku. Setiap buku berisi 23 gambar sehingga dia harus menyelesaikan 460 gambar dalam waktu sebulan.

Kejar-kejaran menyelesaikan banyak ilustrasi selama sebulan menurutnya tidak hanya terjadi di bulan ini saja. Setahun ke depan dia sudah mengantongi sejumlah proyek yang akan membuatnya tetap sibuk membuat ilustrasi.

Kaki berdarah-darah

Difabel yang menggunakan alat bantu dua tongkat ini menyatakan bahwa dia terkena polio pada usia tiga tahun dan baru pada usia tujuh tahun dia bisa berjalan merangkak. Selama masa kecil dia banyak menjalani pengobatan dan terapi. Beberapa kali Maman dibawa ke Solo untuk menjalani terapi dan memperoleh alat bantu dan alat terapi.

Beragam alat tersebut dicobanya, tetapi Maman mengaku tidak tahu apa nama alat-alat yang telah dicobanya. Dia hanya ingat bahwa ada salah satu alat terapi yang enggan dipakainya, alat itu berupa korset untuk menjaga agar tulang belakang tidak bengkok. Merasa alat itu menyakitkan, Maman enggan memakainya. Ia tidak jadi memakai jadi meskipun sempat dipaksa menggunakannya.

Meskipun masa kecil berbeda dengan teman-teman sebayanya, tetapi pria yang saat ini tinggal di Bandung ini menyebut masa kecilnya sebagai masa yang luar biasa bahagia. Satu hal yang membuat masa itu menyenangkan baginya adalah dia diperlakukan sama di keluarga.

“Hobi saya maen bola posisi kiper. Tiap sore main sama anak-anak kompleks. Pulang kaki kerdarah-darah kan berlari merangkak,” tuturnya yang mengisahkan masa kecil yang dilalui di Kuningan, Jawa Barat ini.Meskipun pulang dengan kaki penuh luka kedua orangtuanya tidak melarangnya bermain. Biasanya ibunya yang menjahitkan celana yang robek. Ketika ibu Maman sudah bosan menjahitkan, mereka membelikannya lagi celana baru.

Anak ke enam dari tujuh bersaudara ini mengaku mendapat pendidikan di bangku sekolah regular. Semasa duduk di kelas satu SD dia masih harus digendong, baru ketika kelas dua SD dia bisa berjalan sendiri. Hanya di bangku SD saja dia diantar jemput ke sekolah, di jenjang pendidikan selanjutnya dia bersekolah sendiri.

Selepas SMA dia melanjutkan pendidikan di STSI Bandung mengambil jurusan desain grafis. Semasa kuliah itu dia bahkan ikut demo untuk menumbangkan rezim orde baru. Semasa kuliah itu dia juga mulai bekerja menjadi illustrator.

“Bapak saya meninggal waktu saya kelas dua SMP. Selanjutnya kakak yang biayain. Di tingkat akhir kuliah saya sudah biaya sendiri,” terangnya.

Pakai bahasa hati

Selepas kuliah Maman menekuni beberapa jenis pekerjaan. Dia bahkan sempat mengabdi selama beberapa tahun di almamaternya, sebelum kemudian mendirikan usaha.

Saat ini dia bekerja dengan dibantu empat orang karyawan, satu di antaranya adalah tuli. Usahanya ini dijalankan di rumah dua lantai miliknya. Lantai bawah dipakai untuk Mira Katlya, istrinya yang membuka usaha desain gaun pengantin dan lantai atasi dipakai sebagai studio ilustrasinya.

“Saya nggak bisa berbahasa isyarat jadi pakai bahasa hati kalau berkomunikasi dengan dia (karyawan tuli-red), saat ini mau nambah dua karyawan lagi. Inginnya difabel tapi dari pengalaman biasanya mereka kurang tangguh,” tambahnya.

Pria yang suka mengenakan ikat kepala khas sunda ini menyatakan perlakuan di keluarga yang biasanya membuat difabel ini menjadi kurang tangguh. Maman mengatakan, sesungguhnya difabel ibarat intan yang belum digarap dengan baik karena pada dasarnya Tuhan menciptakan difabel sebagai manusia terpilih. 

Lebih lanjut difabel yang bercita-cita untuk menulis buku yang bisa menjadi motivasi bagi difabel lain ini menyatakan bahwa peran keluarga dalam mendidik difabel di masa kecil sangat penting. Seperti yang dirasakannya, selain beberapa sifat keras kepala, pantang menyerah, berani dan selalu mempersiapkan diri yang mejadi modal utamanya, faktor keluarga menjadi elemen pendukung kesuksesannya.

 Kekuatan Maman masih diuji ketika harus merelakan sang istri yang meninggal awal Maret lalu saat tengah mengandung buah hati mereka. Meskipun kesedihan masih dirasakannya,tetapi sosok yang murah senyum ini masih bisa menebarkan kalimat-kalimat syukur ketika mengenang istri tercintanya.

“Tolong doakan Mira ya. Allah kasih sesuatu yang luar biasa. Saya diberi pendamping yang luar biasa, ini 16 tahun yang sangat indah,” ungkapnya mengenang.

 

 

 

The subscriber's email address.