Lompat ke isi utama
Orangtua dengan anak difabel, gambar dari: www,collinsdisabilitylaw.com/

Anak Berkebutuhan Khusus dan Kaitannya dengan Pemberdayaan Orangtua

Solider.or.id,Surakarta- Anak-anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan rehabilitasi yang terfokus serta kesempatan memperoleh pendidikan agar potensi mereka dapat tergarap dengan maksimal.  Sebaliknya proses ini juga akan meminimalkan dampak kecacatan. Contohnya adalah anak dengan Cerebral Palsy. Jika tidak diberikan stimulasi dan perawatan yang maksimal oleh orangtuanya, maka jika dia kelak tumbuh dewasa semakin tinggi tingkat ketergantungan hidupnya kepada orang lain.  Orangtua memberi rangsangan dan latihan agar si anak bisa melatih otot-ototnya untuk duduk sendiri, tak hanya tidur di dalam kamar. Namun, juga hidup di luar kamar bersosialisasi dengan orang lain, masyarakat lain. 

Kecakapan orangtua sebagai orang pertama yang dikenal oleh anak berkebutuhan khusus bermodalkan pelatihan dengan para profesional (terapis)di bidangnya. Di beberapa sanggar inklusi yang menginduk kepada Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) para terapis bekerja secara sukarela dengan memberikan pelatihan kepada para orangtua. Selain para terapis profesional, sanggar juga menjadi tempat untuk praktik lapangan bagi para mahasiswa akademi terapi di semester akhir sebagai pengabdi masyarakat.

Peter Coleridge (1997) mengatakan bahwa seorang anak difabel rungu yang tidak dibantu seorang spesialis, serta selalu dimarahi dan dilarang memakai bahasa isyarat, bisa jadi akan mogok berkomunikasi dengan cara apapun juga. Ia bisa juga kehilangan kesempatan mempelajari alat-alat untuk membuat konsep dan mengeluarkan pemikiran. Ia benar-benar cacat, tak bisa apa-apa, seumur hidupnya. Adalah penting sekali bagi orangtua untuk menyadari bahwa anak difabel mesti memperoleh pertolongan secepatnya dan sedini mungkin. Tanpa itu, proses perkembangan mentalnya pun bisa ikut terganggu.

Seseorang yang memiliki hambatan sejak bayi atau masa kanak-kanak jika telah  mengalami habilitasi sejak dini, mungkin sekali tidak membutuhkan bantuan profesional di masa dewasanya. Yang dibutuhkan mungkin bantuan-bantuan besifat sementara, misalnya pemeriksaan jika mengalami infeksi. Anak difabel dengan difabilitasnya serta kesadaran atas dirinya, banyak dipengaruhi oleh proses rehabilitasi yang ia alami sewaktu kecil. Tentu ini menyangkut pada rehabilitasi yang tersedia. Juga kendala-kendala yang dihadapi terutama letak geografis, demografis dan sarana transportasi serta keterbatasan biaya untuk menjangkaunya.

Sriyani, seorang ibu yang memiliki anak dengan Cerebral Palsy melepas status sebagai pekerja rumahan. Ia memilih meninggalkan pekerjaan menjahit di rumah yang tentu selalu dikejar setoran atau target kepada si pemberi kerja. Sriyani lalu memfokuskan diri mengurus sang anak  karena anaknya mulai menginjak sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah yang juga merupakan pusat rehabilitasi lebih dari 10 Km yang menuntutnya untuk menggunakan sarana transportasi umum. Dengan berbekal pelatihan terapi yang diberikan oleh para profesional, ia telah mampu membuat si anak berkembang dan menunjukkan kemajuan.  

Sriyani menerapi sendiri putrinya sebab tak mempunyai biaya terapi. Sedangkan jika harus datang terapi di RS Moewardi yang gratis bagi peserta Jamkesmas, Sriyani terkendala waktu saat registrasi karena Futi bersekolah dan tidak mau dicabut dari jam sekolahnya sebelum pelajaran usai. “Pernah saya sepulang dari sekolah langsung naik bus ke RS Moewardi. Sampai di sana pendaftaran telah ditutup. Lagian antriannya banyak sekali, sedang saya belum bisa memberi pengertian pada Futi untuk sekadar minta ijin tidak bersekolah guna terapi,”jelas Sriyani.( http://solider.or.id/2014/02/14/aslih-futi-rohmah-abk-pantang-menyerah-untuk-bersekolah)

Terkendala berhentinya lembaga pemberi donor, setelah empat tahun berdiri sebuah sanggar inklusi memutuskan untuk menarik biaya terapi bagi orangtua anak berkebutuhan khusus. Tak harus berbiaya mahal, karena sanggar inklusi pada intinya adalah sebuah lembaga nirlaba. Selain untuk melatih kemandirian orangtua dan anak berkebutuhan khusus, penarikan biaya tersebut dianggap tidak memberatkan beban orangtua. Minat para orangtua untuk menyekolahkan anaknya ke sanggar bukan malah menciut namun semakin menambah antusiasme.  

Tak Hanya Terapi Namun Juga Pemberdayaan Ekonomi

 

Sanggar anak inklusi Tunas Bangsa yang menginduk kepada Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Sehati Sukoharjo  semula berkegiatan terapi gratis untuk memaksimalkan kemampuan difabel anak Cerebral Palsy (CP) dan terapi wicara untuk difabel rungu wicara. Didukung oleh tiga relawan terapis  lulusan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Surakarta sanggar yang berdiri sejak tahun 2011 melibatkan kemampuan orangtua untuk dapat melakukan kegiatan terapi dan kegiatan tersebut bisa dilakukan di rumah. Sriyanti, ibu dari Fitri Apriliyani mengungkapkan bahwa pelibatan dirinya dalam terapi sangat menguntungkan. Fitri, down syndrome dan ada gangguan motorik adalah bungsu dari empat bersaudara. (http://solider.or.id/2014/10/17/sanggar-anak-inklusi-libatkan-orangtua-untuk-pemberdayaan)

 

Kecakapan orangtua dalam melatih anak-anak difabel di rumah, tak hanya dalam lingkup terapi saja namun pemberdayaan ekonomi. Dengan berkomunitas di sanggar inklusi, para orangtua juga memperoleh ketrampilan sebagai bekal untuk penghidupan atau pekerjaannya. Ketrampilan diberikan dalam pelatihan-pelatihan oleh Rehabilitasi Bersumberdaya Manusia (RBM) atau oleh dinas sosial dan satuan perangkat lainnya seperti dinas koperasi UMKM serta dinas perindustrian sebagai pemangku kebijakan.  Menyangkut permodalan, pemerintah turut berperan serta dengan memberikan bantuan sosial bukan berupa uang namun berwujud modal barang yang  bisa untuk berproduksi.Penguatan secara ekonomi para orangtua dengan anak berkebutuhan khusus juga dilakukan secara berkelompok dengan membuat Kelompok Usaha Bersama (KUBE).  

 

 

The subscriber's email address.