Lompat ke isi utama
tuli sedang menyimak penjelasan mengenai kesehatan reproduksi

Materi Pelajaran Kesehatan Reproduksi di Sekolah Kurang Dipahami Tuli

Solider.or.id,Yogyakarta-Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Yogyakarta mengadakan sharing pengalaman dan diskusi mengenai kesehatan reproduksi bersama Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) di Sekolah Semangat Tuli (SST) Yogyakarta pada Kamis (5/2). Diskusi yang dihadiri oleh sebelas difabel tuli dan seorang juru bahasa isyarat ini merupakan hasil tindak lanjut dari rekomendasi pada diskusi sebelumnya yang diadakan bulan Januari 2015.

"Sebelumnya kami pengen tahu, temen-temen tuli disini sudah tau istilah-istilah tentang kesehatan reproduksi atau belum. Juga bertukar pengalaman sama diskusi bersama", ungkap Abas selaku staff Inclusive Community SAPDA membuka acara.

Semua difabel tuli yang hadir tidak mengetahui arti kata pubertas, sehinggaehingga SAPDA menjelaskan tanda-tanda yang dialami oleh anak pubertas. Tanda-tanda tersebut antara lain seperti muncul jerawat, menstruasi pada perempuan, dan mimpi basah pada anak laki-laki. Penjelasan dengan menggunakan gambar ternyata lebih mudah dipahami oleh teman-teman tuli. Diskusi tersebut mencakup batasan pacaran sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti hamil sebelum menikah dan terkena penyakit kelamin menular seperti HIV, AIDS, raja singa, dan sipilis.

"Dulu pertama kali aku menstruasi, aku tidak bingung karena sebelum menstruasi teman-teman sudah banyak bilang ke aku tentang keluar darah merah. Tapi tujuh  hari aku menstruasi rasanya nyeri dan pegal jadi ibu bilang aku minum jamu biar berkurang rasa sakit", kata Kadek dalam bahasa isyarat. Kadek menambahkan bahwa dulu di sekolah, guru olahraganya memberitahu tidak boleh berhubungan seksual sebelum menikah karena bahaya dan dosa. Namun ,ia mengakui bahwa dia tidak tahu mengapa berbahaya.

Seluruh peserta diskusi sepakat bahwa mereka membutuhkan informasi tambahan terkait kesehatan reproduksi karena pelajaran di sekolah tidak cukup dan kurang dipahami oleh siswa tuli. Rencananya SAPDA akan mendatangkan seorang ahli dalam bidang kesehatan reproduksi untuk belajar bersama teman tuli.(Ramadhany Rahmi)

The subscriber's email address.