Lompat ke isi utama
Lambang Yayasan Difabel Mandiri Indonesia, Senin (26/1)

Berawal dari Komunitas Difabel di Facebook, Yayasan Difabel Mandiri Indonesia Perkuat Pengurus Daerah

Solider.or.id, Surakarta-Yayasan Difabel Mandiri Indonesia (YDMI), sebuah lembaga yang bergerak dalam isu difabel, berdiri pada 24 Juli 2013 dan berkekuatan hukum yang tercacat pada akta notaris dan Kantor Kementerian Hukum dan HAM. YDMI bermula dari sebuah komunitas difabel di Facebook. Pada workshop tentang pembebasan belenggu difabel yang mengupas tentang ideologi kenormalan serta social enterpreunership yang diselenggarakan di asrama RS Brayat Minulyo (24-25/2015) Subandi Bonmat menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan kuasa akte Dewan Pengurus Daerah (DPD)Jawa Tengah.

“Kali pertama ini program DPD Jawa tengah berupa pelatihan, sedangkan pada pada November tahun lalu DPD Jawa Timur selenggarakan pelatihan-pelatihan yang bermitra dengan stakeholder setempat seperti Asosiasi Persepatuan Indonesia. Kami juga bekerja sama dengan RS Mitra Surabaya berupa potongan 50% biaya berobat. Sebuah radio lokal di Jawa Timur juga memberikan konten berupa acara rutin siaran bagi sosialisasi teman-teman difabel, ”tutur Subandi Bonmat. Dalam kepengurusan dewan pembina tersebutlah nama-nama Suhanda, Ninin Mazalena dan  Unarsih Sastrawinata.

YDMI juga bermitra dengan Puspadi Bali, DNetwork, Mal Ciputra Surabaya dan Pusat Kajian Studi Disabilitas Universitas Indonesia. “Selama visi dan misi kami sama, maka YDMI akan membuka pintu kerja sama dengan pihak mana pun,”imbuh Subandi Bonmat. Jumlah anggota YDMI saat ini tersebar di beberapa daerah antara lain ; Aceh, Medan, Padang, Palembang, Banten, Madiun, Bangkalan hingga Makasar dan Gorontalo.

Saat ditanya apa syarat keanggotaan YDMI Subandi Bonmat mengatakan bahwa syarat anggota adalah mengumpulkan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan foto serta  iuran sebesar 20 ribu. Sedangkan setiap bulan para anggotanya dikenai iuran sukarela. “Kami telah memiliki kantor sekretariat di Tangerang yang dibangun atas swadana kawan-kawan sendiri dari uang kas,”jelas ayah dua anak ini.

Selama ini kepengurusan tersebar di seluruh Indonesia dan pihaknya menekankan bahwa di organisasi adalah waktu yang senggang di antara kegiatan rutin anggota sehari-hari. Pihaknya juga bersikap longgar jika ada anggota yang tidak mengakses internet sehingga tidak bisa  bergabung di grup facebook sebab terkendala wilayah, akses sinyal ataupun kesenjangan teknologi. “Karena tidak semua orang memiliki kesukaan untuk membuka akun Facebook,”imbuhnya.

Selain pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan dengan bermitra dengan lembaga atau stakeholder, Subandi Bonmat mengatakan bahwa dirinya bersama segenap pengurus membuka peluang jika ada anggota yang membutuhkan alat bantu. “Kami akan kirim dengan biaya uang kas yang ada dan terkadang bantuan pihak lain, contohnya bantuan stik/tongkat untuk netra yang dikirimkan oleh pihak yang enggan disebut namanya, kepada anggota yang membutuhkan dengan berbekal Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan setempat,”ungkap Subandi Bonmat.

Pada perayaan Hari Difabel Internasional tahun 2014 lalu, YDMI tak merayakan dengan gegap-gempita yang dipenuhi seremonial. Diam-diam, Subandi Bonmat bersama beberapa pengurus pergi menyambangi anggota-anggota yang tidak bisa keluar rumah. Dengan memperlihatkan foto-foto, Subandi Boanmat mengatakan bahwa beberapa anggotanya masuk dalam kategori difabel berat. “Bayangkan mereka ada lho yang tinggal di Bogor yang tidak jauh dari ibu kota negara dan tidak bisa merayakan seremonial. Maka tugas kami adalah mengunjunginya,”pungkas Subandi Bonmat.

 

 

 

 

The subscriber's email address.