Lompat ke isi utama

Difabel dan Peluang SNMPTN

Tidak  akan ada diskriminasi terhadap penyandang difabel. pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini, akan ada perlakuan sama untuk semua siswa. Saya sudah memerintahkan semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menyiapkan segala keperluan bagi difabel. Saya juga menyadari bahwa kebutuhan difabel juga lebih kompleks, dibandingkan siswa lain.

Demikian pernyataan Muhammad Nasir, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. ( Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 22 Januari 2015).Tentunya apa yang menjadi pernyataan menteri tersebut bukan hanya sekedar janji manis semata.Namun, benar-benar menjadi kenyataan sehingga menjadi angin segar tersendiri bagi difabel, khususnya bagi mereka, difabel  yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi.

Legalitas

Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang merupakan sumber hukum tertinggi di Indonesia, secara tegas dalam pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa, “ Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan “. Kemudian ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), dan dipertegas melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2010, pasal 131 ayat 5 menyatakan bahwa “ Perguruan tinggi wajib menyediakan akses bagi mahasiswa berkebutuhan khusus”.

Lebih lanjut,  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Tahun 2009 Nomor 70, menyebutkan bahwa “ Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik, yang memiliki kelainan danpotensi kecerdasa, dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan, atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan, secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya”.

Harapan difabel

Berkaitan dengan kedua hal tersebut, yaitu pernyataan menteri dan legalitas pendidikan di Indonesia, diharapkan tidak akan ada lagi penolakan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terhadap difabel. Hal ini juga bukan tanpa alasan, tetapi karena para rektor PTN  se Indonesia telah mengadakan pertemuan berkaitan dengan SNMPTN yang non diskriminatif ini. Jadi nantinya tidak akan ada alasan bahwa PTN menolak difabel, karena tidak mampu menyediakan aksesibiltas bagi mahasiswa berkebutuhahan khusus.

Demikian harapan dari Dewan Pertimbangan Penyandang Disabilitas Indonesia, Ariani Soekanwo di Jakarta. Kemudian dia juga menambahkan bahwa untuk saat ini yang terpenting dan mendesak dilakukan adalah difabel dapat diterima terlebih dahulu, sementara masalah aksesibiltas dapat dipenuhi secara bertahap, karena saat sudah tersedia banyak relawan, yang siap membantu para difabel tersebut.

Memang akan lebih baik apabila PTN benar-benar memperhatikan difabel. Caranya dengan melaksanakan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, Tahun 2006 Nomor 30 tentang petunjuk teknis dan infrastruktur bagi penyandang difabel. Pada intinya dalam peraturan tersebut gedung-gedung perkuliahan yang ada, harus dilengkapi fasilitas yang memungkinkan difabel mampu melakukan aktifitasnya dengan sendiri, tambah Ariani.

Namun, mengingat pembanguna aksesibilitas membutuhkan dana yang besar, maka sekali lagi untuk saat ini yang terpenting adalah difabel diperlakukan sama dengan siswa umum dalam pelaksanaan SNMPTN tahun ini. Masalah aksesibiltas dapat dilakukan secara bertahap.

 

The subscriber's email address.