Lompat ke isi utama

Penanganan Khusus Anak Autis dan ADHD

Solider.or.id, Sleman- Anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti autis, dan Attention Devisit Hiperactive Disorder (ADHD), membutuhkan cara penanganan yag khusus. Untuk itu orang tua dan pendidik, perlu informasi yang memadai bagaimana mengenal gangguan pada anak-anak mereka sedini mungkin, serta bagaimana cara menanganinya dengan tepat. Hal tersebut diungkapkan oleh M. Allex M., Pimpinan Sekolah Autis-ADHD Bintang Qur’ani pada Solider, Kamis (22/1).

Lebih lanjut dia mengungkapkan, “Anak autis adalah mereka yang memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri, merupakan kategori ketidakmampuan yang ditandai dengan gangguan dalam berkomunikasi, interaksi sosial, gangguan indrawi, pola bermain dan perilaku emosi. Pemahaman dan  tanggapan yang tidak tepat akan menyebabkan hambatan perkembangan yang serius dalam semua bidang, terutama dalam kemampuan sosial dan komunikasi,” tambah Allex, seorang sarjana psikologi.

Pogram Pendidikan dan Terapi Anak Autis

Sekolah Khusus Autis dan ADHD Bintang Qur’ani menggunakan terapi Al Qur’an pada murid-muridnya. Dua kali setiap hari, yaitu pagi setelah shalat dhuha dan siang hari menjelang tidur siang, murid-murid diperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an. “Terapi ini merupakan cara ampuh sekaligus memberikan pendidikan kepada anak Autis dan ADHD. Terapi lain juga diberikan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi gangguan pada anak diantaranya, terapi wicara, terapi visual, terapi okupasi, dan fisioterapi,” tutur Allex.

Kegiatan persekolahan dimulai pada jam 07:30 hingga 14:30, setiap hari. Tempat belajar ini memiliki program pendidikan sebagaimana sekolah reguler, ditambah dengan kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya berenang, melukis, berkebun, serta olahraga.

Persyaratan Masuk dan Observasi Menentukan Jenis Program Pendidikan

Setiap murid yang akan masuk diseleksi berdasarkan rekomendasi dari tumbuh kembang anak, terapis, mampu didik dan mampu latih, dengan syarat usia minimal 5 tahun. Kemudian diobservasi selama tiga bulan, untuk menentukan program-program yang harus dikuasai anak, serta penentuan kelas berdasar pada hambatan yang dialami anak didik.

Sejak berdirinya pada bulan Juli 2014, atau enam bulan yang lalu, sekolah tersebut memiliki delapan siwa dengan rentang usia berkisar 5 hingga 9 tahun. Masing-masing siswa didampingi satu guru pendamping, dengan tujuan utama anak mendapatkan kenyamanan dan kepatuhan selama mengikuti program pendidikan di sekolah tersebut.

Sebagai laporan kepada orang tua, sekolah membuat buku penghubung, yang berisi rekam jejak anak selama di sekolah, atau kegiatan anak sehari-hari. Harapannya dengan adanya buku penghubung akan menjadi media bagi orang tua dan guru dalam mengkomunikasikan perkembangan anak.

Perhatian, Diet Makanan Menentukan Tumbuh Kembang Anak

Menurut kepala sekolah, Allex perhatian dan kasih sayang orang tua sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak, baik anak pada umumnya apalagi bagi anak-anak dengan Autis dan ADHD. Namun dirinya menyayangkan bahwa sebagian besar orang tua kurang memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Pada saat pengambilan rapot, dari delapan siswa hanya tiga yang rapotnya diambil oleh orang tuanya sendiri. 

Sebelum mengakhiri wawancara, Allex menuturkan anak autis harus melakukan diet makanan, karena makanan yang dicernanya akan berakibat pada perilaku hiperaktif dan emosi anak. Diet tersebut menjadi hambatan yang dialami dirinya bersama para guru selama mendampingi murid-muridnya. “Diet makanan, merupakan hal yang paling sulit untuk dihindari. Anak-anak autis dan ADHD harus menghindari makanan yang berbahan dasar terigu dan susu, serta free glutan. Hal tersebut dikarenakan sangat sulitnya menemukan makanan yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Jikalau pun ada harganya sangat mahal,” pungkas Allex.

 

The subscriber's email address.