Lompat ke isi utama

Jadi Human Right City, Bupati Wonosobo Perhitungkan Keberadaan Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta - Kabupaten Wonosobo mengklaim wilayahnya menjadi kabupaten yang menghormati hak-hak asasi manusia (human right city). Menurut Bupati Wonosobo Kholiq Arif, program human right city muncul akibat banyaknya masyarakat miskin. "Saat itu, masyarakat sangat miskin," kata mantan wakil bupati Wonosobo tersebut saat menghadiri acara Temu Inklusi di Yogyakarta, Sabtu (20/12).

Human right city mengeksplorasi gagasan kemanusiaan untuk menyatarakan kelompok difabel, lansia, perempuan dan kelompok minoritas lainnya. "Karena mereka (difabel, red) punya kebutuhan yang sama namun ada keterbatasan. Maka porsinya, baik bagian maupun keterlibatan kita lihat sama," kata Kholiq.

Inisiasi program sudah ada dalam uji analisis perguruan tinggi, tahun depan masuk prolegda 2015. Sementara itu, Desember ini, Pemkab Wonosobo mencoba menyelesaikan Peraturan Daerah difabel. "Bulan ini saya harus menyelesaikan perda difabel. Mudah-mudahan tidak meleset lagi," katanya kepada Solider.

Kholiq Arif pun menyerukan agar kota-kota lain dapat menyadari ada model pembangunan yang keliru. "Misalnya orang bikin trototar, bukan aman malah susah. Maka pemerintah daerah bisa mempertimbangkan bagaimana pembangunan kota mempertimbangkan kemudahan akses baik di gedung atau di ruang-ruang publik," katanya.

Menyadari masa jabatan berakhir Oktober 2015 mendatang, Kholiq Arif berharap kerja bupati yang menggantikannya dapat meneruskan programnya. "Kita tidak boleh melihat siapa orang, tapi kalau ada pranata hukumnya, maka kerja pemimpin ke depan menyesuaikan dengan peraturan-peraturan yang ada.Yakin saja ke depan kita punya pemimpin yang baik," harapnya.

 

 

The subscriber's email address.