Lompat ke isi utama
Sinta sedang melakukan fasilitasi kepada difabel pekerja rumahan.

Difabel Pekerja Rumahan Berhak Berorganisasi

Solider.or.id, Sukoharjo- Dua puluh delapan pekerja rumahan yang berada di wilayah Sukoharjo selama tiga hari (11-13/12/2014) menjalani pelatihan oleh Trade Union Rihgts Center (TURC) & ILO MAMPU yang  didukung oleh Australian AID di Hotel Brothers Solo Baru Sukoharjo.

Siti Komariyah, perempuan pekerja rumahan difabel salah seorang peserta mengatakan bahwa ini pengalaman pertamanya pengikuti pelatihan. Pekerja rumahan di bidang garmen ini mengaku senang dilibatkan. Siti Komariyah bersama para peserta lainnya tak hanya mendapatkan berbagai materi  terminologi  pekerja rumahan, namun juga hak-hak baik itu soal perlindungan dan keselamatan kerja , juga pengalaman berorganisasi. “Selama ini saya pernah ikut Self Help Group sebagai komunitas difabel,”tutur Siti Komariyah. 

Sinta Romaida dari TURC menjelaskan bahwa organisasi yang akan dibentuk mungkin dalam lingkup lebih kecil. “Mungkin tidak dalam bentuk komunitas atau organisasi yang besar karena awalnya kami menumbuhkan kesadaran.  Mungkin nantinya dalam kelompok kecil,”tutur Sinta Romaida dari TURC. 

Sinta menegaskan bahwa lembaganya ingin bahwa para pekerja rumahan menyadari  bahwa mereka adalah pekerja. Banyak dari pekerja rumahan itu tidak mengenal siapa pemberi kerja yang sebenarnya karena mereka melalui perantara. Sejauh ini lembaganya telah melakukan riset.  

“Kita ingin menyadarkan bahwa mereka pekerja juga dan memiliki hak seperti pekerja di pabrik. Kami melihat bahwa selama ini banyak sekali dijumpai biaya produksi ditanggung oleh pekerja, juga tak diperhatikan tentang keselamatan kerja. Kita khawatir haknya dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha. Misalnya pembuat sepatu, sepatu dijual ke luar negeri dan mereka menekan upah pekerja. Tetapi ini masih kita teliti. Upah pekerja rumahan itu sangat rendah,”tutur Sinta.

TURC juga akan melakukan pelatihan berkesinambungan dan pendampingan terus-menerus. Dari Role Model yang telah dilakukan melalui permainan drama, bisa dilihat apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh para pekerja rumahan terkait hak-hak mereka sebagai pekerja.

Tentang pelibatan perempuan pekerja rumahan difabel Sinta mengatakan bahwa pihaknya juga ingin mengetahui apakah ada pembedaan perlakuan dari pemberi kerja. “Saya sudah tanya kepada ibunya (Siti Komariyah)bahwa suaminya yang difabel pun juga sebagai pekerja rumahan namun memakai alat (kursi roda). Tidak ada perlakuan beda, misal target dan upahnya adalah sama dengan pekerja rumahan lainnya,”pungkas Sinta. 

The subscriber's email address.