Lompat ke isi utama

Pro Kontra Pemberhentian Kurikulum 2013 bagi Guru Pembimbing Khusus

Solider.or.id, Malang - Setelah pemerintah memberhentikan kurikulum 2013 melalui surat edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) pada 5 Desember lalu, pro kontra muncul di tengah-tengah masyarakat, tak terkecuali guru pembimbing khusus (GPK). Di Kota Malang, ada GPK yang menyambut senang diberhentikannya kurikulum 2013, ada juga yang tidak sepakat dengan pemberhentian kurikulum 2013.

Budi Santoso salah satu GPK dari SDN Sumbersari 1 adalah salah satu GPK yang menyambut baik kembalinya sistem kurikulum ke kurikulum 2006. Namun Budi juga tak mengelak kalau perubahan yang terjadi di dunia pendidikan belakangan ini memiliki dampak kepada GPK. "Dampaknya ya ada. Kalau bagi anak tidak begitu berdampak karena telah disesuaikan dengan kebutuhannya. Kalau untum GPK, menurut saya pribadi lebih suka yang lama. K13 ini ribet karena sibuk pada administrasi," akunya pada Senin (8/12/2014).

Karena sibuk mengurus administrasi, Budi menjelaskan dampaknya yaitu murid ABK tidak diperhatikan. Selain persoalan administrasi, Budi juga mengharapkan pada kurikulum bisa mengatur secara jelas mana anak yang harus masuk SLB atau sekolah inklusi. "Batasannya tidak jelas. Jadi awalnya ABK masuk sini bingung, belum bisa menulis, membaca kok masuk di sini? Karena itu, kita ajari sesuai dengan kebutuhan dia untuk menunjang kemandiriannya," katanya lagi.

Di SMP Muhammadiyah 2 Kota Malang yang juga sekolah inklusif dengan jumlah murid difabel 29 siswa, Rizky Eka Pratiwi (26) termasuk ke dalam GPK yang tidak setuju kalau kurikulum 2013 diberhentikan. Menurutnya kurikulum 2013 lebih sederhana dari pada kurikulum 2006. "Kita lebih pada administrasi. K 13 lebih sederhana materinya dari pada KTSP 2006, sebetulnya enak 2013 sih tapi jika diubah lagi ya harus beradaptasi. Kita itu ribet-ribetnya di administrasi," Eka saat ditemui di sekolah. Dia berpendapat kalau kurikulum pada siswa ABK bisa mengantarkan murid pada proses pembelajaran yang bersifat aktif di luar ruangan. "Baiknya banyak kegiatan eksplorasi untuk meningkatkan kemampuan siswa. Kalau saya tidak setuju K13 diberhentikan karena sudah terbiasa pada sistem administrasi K13," serunya.

Sementara itu GPK dari SMK N 2 Malanv Eli Ermawati (27), saya cenderung memilih kurukulum 2006, dibanding kurikulum 2013 yang lebih menonjolkan soal tematik. "Untuk anak berkebutuhan khusus, lebih banyak masalahnya adalah berpikir abstrak. Untuk penerapan pada ABK sebaiknya lebih condong ke 2006," katanya. Menurut Eli, dengan memnggunakan kurikulum 2006, guru bisa menyesuaikan keadaan dengan ABK. "Yang enak di 2006 karena bisa disesuaikan dengan lingkungan masing-masing. Kalau K13 dipukul rata," kelakarnya.

Sejauh ini, pro kontra pemberhentian kurikulum 2013 masih mencuat di masyarakat. Namun pemerintah tetap memberhentikan dengan surat keputusan yang beredar dengan nomor surat 179342/MKP/KR/2014 sejak 5 Desember 2014.

The subscriber's email address.