Lompat ke isi utama

Diskusi Kekerasan Perempuan Berbasis SOGIEB: Ada Korban Difabel Transgender

Solider.or.id, Surakarta-Kekerasan terhadap perempuan berbasis Sexual Orientation, Gender Identity, Expression And Body (SOGIEB) juga bisa terjadi pada difabel. Purwanti dari SIGAB mengemukakan hal itu di hadapan peserta Focus Discussion Group (FGD) yang dihelat oleh lembaga Talita Kum yang didukung oleh Hivos dengan fasilitator Indriyati Suparno, komisioner Komnas Perempuan (2015-2019) di Sarila Hotel,  Jumat (5/12).

“Ada kasus difabel transgender yang ditolak bersekolah. Tak ada akses ke toilet. Di tingkat keluarga difabel transgender ini mengalami ‘sexual abuse’,” tutur Purwanti. Selain mengungkapkan realita tersebut, Purwanti juga mengemukakan tentang upaya-upaya diplomasi oleh lembaga SIGAB dalam kebijakan hukum. “Kami telah berdiplomasi dengan Komisi Yudisial dan Kompolnas terkait akses hukum dan keadilan difabel,”jelas Purwanti.

Dalam diskusi yang mengundang pemangku kebijakan yakni unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapermas) Surakarta tersebut dihadiri oleh lembaga yang berkompeten terhadap isu kekerasan pada perempuan dan anak.

Renate dari PLU Satu Hati Yogyakarta menyatakan bahwa terkait transgender, sehabis operasi bisa memastikan hukum “Jika ada persoalan yang mempermasalahkan adalah keluarga pasangan. Keputusan pengadilan mengikat. Kebanyakan kasus yang kami hadapi adalah di mana dan bagaimana akan melakukan operasi. Masalah lain adalah perspektif gender belum terinternalisasi di satuan pemerintahan,”jelas Renate.

Reny Kistiyanti direktur Talita Kum kepada Solider menyatakan bahwa penyelenggaraan FGD dimaksud untuk sosialisasi dan mewacanakan kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan berbasis SOGIEB. “ Kami juga mengidentifikasi kebutuhan pencegahan dan penanganan korban. Jika kemarin kami mengundang para tokoh agama yang menyambut baik acara ini, maka hari ini kami mengadakan FGD dengan mengundang stake holder dan lembaga-lembaga advokasi yang menangani kasus kekerasan pada perempuan dan anak serta LGBT,”pungkas Reny. 

The subscriber's email address.