Lompat ke isi utama

Suratman: Difabel Daksa yang Pantang Menyerah

 

Solider.or.id, Yogyakarta- Suratman (28), yang terlahir pada 14 September 1986 adalah seorang pria dengan telapak kaki kanan terlipat ke belakang, dan kedua telapak tangannya menyerupai capit udang. Suratman terus menjalani hidupnya dengan pantang menyerah.

Tak hanya terlahir dengan fisik yang berbeda, dia juga terlahir di tengah keluarga yang serba terbatas secara ekonomi. Dia [U1] dibesarkan oleh Ibunya, Suminem (52) seorang petani penggarap, yang menjadi tulang punggung keluarga. Karena ayahnya, Pawirorejo, adalah seorang difabel netra,  dan telah meninggal ketika gempa Yogyakarta tahun 2006, pada usianya 48 tahun. Ditemui di Roemah Mirota (Roemi), Rabu (19/11), Suratman menceritakan kisah pengalaman dan jalan hidupnya.

Namun, Suratman yang berasal dari dusun Gadungan Kepuh, Canden, Jetis, Bantul, Yogyakarta, berhasil mengatasi segala keterbatasannya. Meski dia hanya menyelesaikan pendidikannya hingga Sekolah Menengah Lanjutan Pertama (SMP). Adapun jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), hanya dilaluinya selama seminggu, karena jarak sekolah yang jauh dan kondisi sosial ekonomi. “Saya mengisi hari-hari saya dengan bekerja membantu orang tua di sawah garapan, sebisa saya,” kenangnya.

Saat ini Suratman telah bekerja di Carrefour, Jalan Solo Yogyakarta, sebagai kasir. SMS dari seorang temannya menginformasikan bahwa Yayasan Kesejahteraan Kristen Untuk Umat (Yakkum) Yogyakarta, membuka job fair khusus bagi difabel. “Sehingga waktu itu, Juni 2012, saya mencoba melamar. Tiga hari kemudian saya dipanggil untuk interview, dilanjutkan dengan training selama dua hari.” Kisahnya.

Banyak hal yang belum dikuasai Maman, panggilan  akrab Suratman. Dengan tekun belajar dia berhasil menguasai teknologi mesin kasir yang selama ini tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. “Untuk itu saya merasa harus berterima kasih kepada pimpinan dan kawan-kawan di Carrefour, Sardi teman saya yang sudah memberi informasi melalui SMS pada saya, ibu Retno serta Ibu Utari dari Yakkum yang telah banyak menolong saya.” Tutur Maman.

“Sejak kecil, saya tidak pernah merasa minder dengan perbedaan yang melekat pada tubuh saya sejak lahir. Tetangga dan teman-teman saya juga memperlakukan saya dengan baik, sehingga kondisi tersebut membantu saya percaya diri dan tidak minder. Saya juga tidak pernah menyalahkan siapa pun, orang tua saya, apalagi menyalahkan Tuhan.” ungkapan Maman.

Menjaga Mimpi

Maman merasa bersyukur, walaupun hanya lulus SMP dirinya sanggup bekerja dengan baik sebagai kasir di carefour. Dia memiliki dua buah mimpi. Pertama ingin sekali mendapatkan ijasah SMA, tentunya melalui jalur paket C. Kedua, ingin sekali dapat melanjutkan ke perguruan tinggi (PT), mengambil jurusan tekhnologi informatika (TI). “Saya ingin dapat menguasai desain dengan komputer, juga ingin belajar bahasa program, sehingga TI menjadi pilihan jurusan ketika saya bisa memasuki bangku PT.

Dua mimpi tersebut dijaganya hingga kini. Meski di Di usianya sekarang, dia Maman tetap ingin mewujudkan mimpinya, meski harus pandai-pandai mengatur waktu antara belajar dan bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. “Saya sangat butuh informasi, bagaimana dan di mana saya dapat mendapatkan informasi tentang jalur paket C?” Harap Maman kepada siapa saja yang dapat memberikan informasi.

Saya juga ingin menitip pesan pada teman-teman saya khususnya teman-teman difabel, katanya, “Menjadi difabel tidak harus malu, diterima apa adanya karena semua itu adalah takdir Tuhan. Tetaplah memiliki cita-cita dan berusaha untuk mewujudkannya, kita harus pantang menyerah dan percaya diri,.” Maman berpesan di akhir bincang-bincang dengan Solider.

 

 

The subscriber's email address.