Lompat ke isi utama

Yayasan Cinta Harapan Indonesia Layani Terapi Gratis bagi ABK Kurang Mampu

Solider.or.id, Surakarta- Saat ini ada 9 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang terdiri dari  autis, downsyndrome, slow leaner dan Cerebral Palsy (CP) yang diberi layanan terapi gratis di Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI). YCHI cabang Solo yang dahulu  berlabel Autis Care Indonesia (ACI) selama tiga  tahun  telah berpindah tempat hingga tiga kali. Alamat terakhir lembaga nirlaba ini  adalah di Jl. Pratangga Pati RT 01/03 No.8 Tegalrejo Jebres. Ditemui di kantor sekaligus tempat terapi berupa sepetak rumah kontrakan terdiri dari 3 kamar yang dibayar setahun sekali di antara perkampungan kumuh, Solider bertemu dengan Hafidz (9) ‘adik terapi’ istilah untuk ABK yang diterapi di YCHI. Hafidz, downsyndrome  yang bersekolah di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surakarta  adalah warga Semanggi  dan setiap hari (kecuali Sabtu&Minggu) mendapat layanan terapi gratis selama 90 menit. “Hafidz terapi di YCHI sejak 3 tahun lalu dan mengalami perkembangan yang sangat berarti,”tutur Sri Mulyani, ibunda Hafidz.

Winda Dyah Uningrumjati, salah seorang pengurus yang juga terapis di YCHI mengatakan bahwa setiap anak mempunyai jadwal terapi sendiri-sendiri  dan metode terapi yang dipergunakan adalah ABA (Applied Behavior Analysis)yang lebih condong ke perilaku. “ Adik terapi di sini berusia kisaran 6 sampai 14 tahun. Untuk anak-anak yang bisa mematuhi instruksi, dikembangkan kognitifnya. Ada berhitung, pengembangan motorik lainnya, motorik halus dan kasar,”tutur Winda.

Disinggung soal sumber dana, Winda menjelaskan bahwa dana selama ini berasal dari YCHI pusat dan mengandalkan dari donatur. Ada honor dari kantor pusat  untuk para terapi yang berjumlah 6 orang dengan latar belakang sarjana psikologi dan PLB FKIP UNS Sebelas Maret. “ Kami juga ada kerja sama dengan lembaga lain yakni Senyum dari Jogja yang membantu tes IQ adik terapi. Insya Allah nanti berlanjut,”jelas Winda.  Tentang peningkatan kapasitas para terapis, ada pelatihan dari Global Autism Project (GAP) dan pelatihan dipusatkan di Jakarta. “Kemarin Mbak Dwi Arumsari, case manager kami baru pulang dari pelatihan di Jakarta. Biasanya terapis bayar sendiri, pelatihan selama seminggu sekali. Biasanya yang berangkat hanya manager,”imbuh Winda.

Selain menggratiskan terapi di YCHI, para pengurus juga membantu mencari pihak ketiga untuk meringankan beban pengobatan bagi adik terapi yang sampai saat ini masih harus rutin berobat setiap bulan. “Namanya Rindang, autis berat. Tiap bulan dia butuh pengobatan rutin sebesar 300 ribu. Umurnya  11 tahun. Laki-laki dan  tidak bersekolah. Kami akhirnya menguruskan BPJS untuknya,”pungkas Winda yang baru saja lulus S1  Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNS Sebelas Maret.  

 

The subscriber's email address.