Lompat ke isi utama

Difabel Netra Juga Bisa Hafal Al-Qur'an

Solider.or.id, Jakarta- Keterbatasan fisik tak membuat Ponco Subagyo (42) dan Muhammad Idris (38) patah semangat dalam mendalami ilmu agama. Ponco dan Idris memang tak bisa melihat, tapi mereka masih giat belajar Al Qur’an melalui Al Qur’an Braille.

Idris, seorang difabel netra sejak lahir, bersyukur memiliki keluarga yang tak patah semangat untuk membuat Idris menjadi manusia mandiri. Di usia ke-13, Idris sudah mampu mengahafal lima juz Al Qur’an

"Dulu kan saya d idesa, belum ada al-Quran braille, saya dengerin orang tua sama masjid dekat rumah saya baca Al- Qur’an. Jadi saya lama lama hafal," ujar Pria asal Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (18/10).

Ia pun baru memulai membaca al-Quran braille saat usia 28, ketika ia memutuskan untuk menikah dan menetap di jakarta. Ia pun memulai belajar membaca braille.

Untuk meningkatkan hafalan serta bacaannya Idris kerap membaca al-Quran braille seusai sholat. Idris mendapatkan Al-Qur’an Braille tersebut dari sumbangan sebuah lembaga.  "Habis subuh saya baca, sambil nginget hafalan," ujar pria yang berprofesi sebagai tukang pijat ini.

Selain menghafal dengan mendengar Al-Qura'n audio dan membaca al-Qura'n braille, Idris juga mengikuti pengajian rutin yang diadakan oleh Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, Otista, Jakarta Timur.

"Alhamdulillah sekarang sudah 15 juz, sering latihan dan dibaca terus saja," ujar laki-laki yang menetap di karet kuningan ini.

Sosok difabel lain yang juga menghafal al-Qura'n adalah Ponco Subagyo yang juga Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Jakarta Timur. Ponco sendiri merupakan difabel netra sejak lahir. Ia mampu menghafal 15 Juz al-Quran.

Menurut Ponco menghafal al-Quran merupakan berkah, meski banyak yg bilang menghafal adalah sesuatu yang berat Ponco tak sepakat dengan hal itu.

"Kuncinya ikhlas menghafal. Ikhlas berbuah ridho Allah," ujar Pria beranak 3 ini.

Ponco merasa bahwa keterbatasan bukan dijadikan klaim untuk tidak beribadah. Menurutnya ibadah bisa melalui cara apa saja. Keikhlasan yang membuat Ponco terus bertahan dan tetap mengajak difabel netra lainnya untuk terus mengaji.

"Anggota kita di ITMI ada 70. Tapi yg rajin dateng buat ngaji cuma 30 orang," ujar Ponco.

Ardiati istri ponco pun mengatakan keterbatasan tak bisa dijadikan alasan untuk difabel tidak mandiri, apalagi merasa bahwa allah tidak adil. Ardiati adalah seorang normal, Ardiati dan Ponco memiliki tiga anak, anak pertama merekapun seorang difabel tuli. 

The subscriber's email address.