Lompat ke isi utama
Sri Widodo: Difabel polio pengusaha sukses

Sri Widodo: Difabel Polio Pengusaha Sukses

Solider.or.id, Sleman- Kesuksesan seseorang ditentukan oleh ketekunan, bila ada papatah yang mengatakan bahwa kesuksesan berada di tangan orang pandai, maka tidak sepenuhnya itu benar. Ketika  kita tekun dalam melakukan sesuatu, artinya kita sedang berlatih kesabaran. Dan ketika kita tekun dan sabar, maka kita akan menerima segala kekurangan dan memperbaikinya di esok hari.

Hal tersebut merupakan keyakinan yang dilakukan dan sudah dibuktikan oleh Sri Widodo (55), difabel polio pada kedua kakinya, bapak dari dua orang putra dan putri, yang tinggal di Desa Bantarjo, Kecamatan Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, yang disampaikan pada Solider, Rabu (17/9) di rumahnya.

Pria yang tidak penah mengenyam bangku sekolah tersebut, sukses mengarungi kehidupan dengan menjadi seorang penjahit di kampungnya. Saat ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sleman menunjuknya sebagai Pendamping dan Pelatih dalam Program Pelatihan Menjahit bagi Difabel yang merupakan program pemberdayaan ekonomi bagi difabel di Pemda Sleman bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK).

Widodo adalah anak kedua dari empat bersaudara, orang tuanya kala itu tidak menyekolahkannya, karena dirinya yang difabel dan tidak ada yang mau mengantarkannya ke sekolah. “Di rumah saja le (anak laki-laki-red), nanti segala keperluanmu biar diurusi dan dibantu oleh saudara-saudaramu,” Widodo mengenang anjuran orang tuanya waktu itu.

“Akan tetapi, saya terus belajar sendiri dengan mencari koran-koran bekas bungkus apa saja, kemudian saya perhatikan tulisannya, saya tanyakan ke teman saya yang sekolah, kalau seperti ini bunyinya apa? Ini huruf apa? Dan sebagainya, hingga akhirnya saya bisa membaca sendiri,” kenangnya.

Akhirnya, dengan dukungan kakaknya, Widodo memutuskan untuk kursus menjahit, dan tinggal bersama guru menjahitnya. “Setelah kursus menjahit, saya membantu pak Supar (guru menjahitnya), membuat itik-itik (tempat kancing baju), menjahit sederhana, memperhatikan cara membuat pola, juga sesekali membantu membersihkan rumahnya, semua yang saya lakukan tidak dibayar,” lanjut Widodo menceritakan ketekunannya menjalani kehidupan.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa apa didapatkannya sekarang adalah sebuah hasil ketekunan yang dilakukannya di masa lalu. “Yang dulu saya anggap sulit, berubah ketika kita tekun berlatih. Tidak ada yang sulit ketika kita tekun mengerjakan segala sesuatu,” ujar Widodo siang itu.

Himbauan Bagi Difabel dan Pemda Sleman

“Kali ini adalah pelatihan ke lima yang diprogramkan Pemda Sleman bekerja sama dengan BLK Kecamatan Pakem, yang secara kebetulan dilaksanakan di rumah saya. Saya cukup bergembira dengan perhatian Pemda Sleman terhadap kawan-kawan difabel. Harapannya, jika difabel tekun berlatih, maka dirinya yakin difabel bisa bekerja sebagai penjahit,” ujar Widodo.

Widodo juga menuturkan, “pelatihan keterampilan menjahit ini dilaksanakan selama 36 hari, sudah dimulai pada tanggal 1 September 2014. Setelah berakhirnya pelatihan keterampilan menjahit, maka setiap peserta pelatihan akan mendapatkan sebuah mesin jahit sebagai modal bagi difabel peserta pelatihan untuk mandiri secara ekonomi.”

Widodo menghimbau agar, “Difabel jangan minder dengan keadaan fisik yang ada, rajinlah belajar dan tekun berlatih. Juga jangan mudah bosan dan menyerah, apabila ada yang tidak tahu harus bertanya, itu semua adalah modal bagi kita untuk sukses,” himbaunya kepada difabel di manapun berada.

Dirinya juga menghimbau Pemda Sleman tentang program pelatihan dasar menjahit tersebut. “Program yang hanya 36 hari ini sangatlah kurang, idealnya program dasar diberikan selama 3 bulan atau 90 hari. Harapannya Pemda Sleman, mengevaluasi programnya dan menambah waktu pelatihan.” Namun dirinya tetap menyemangati anak didiknya, untuk tekun berlatih dan memanfaatkan pelatihan tersebut.

The subscriber's email address.